
"Lepaskan tangan dia!" seru seorang pria, membuat Haniah, maupun Adam langsung menoleh ke sumber suara tersebut.
"Bang Hafiz!" sentak Haniah, saat melihat seorang Pria memakai baju Koko, berwarna putih, yang sedang berdiri, tak berapa jauh dari mereka.
"Elo! Mau ngapain Lo datang kemari?" tanya Adam, yang terlihat ia juga sedikit kaget, saat melihat Pria berpakaian Koko itu yang ternyata dia adalah Atha.
"Mau ngapain? Heh, pertanyaan apa itu? Yang seharusnya bertanya itu gue! Mau ngapain Lo pegang-pegangan tangan istri orang hah?" balas Atha, dengan tatapan dingin pada Adam.
Mendengar perkataan Atha, seketika Haniah langsung menyentakkan tangannya, yang ternyata masih di genggam oleh Adam.
"Lepaskan tangan Ana Dam!" sentaknya dengan kuat.
Karena Adam sedang fokus pandangannya pada Atha, membuat, ia lupa kalau dirinya sedang menggenggam tangan Atha, sehingga saat Haniah menyentakkan tangannya, genggamannya pun langsung terlepas.
"Eh, Sorry!" balas Adam, jadi merasa tidak enak pada Haniah.
"Tolong pergilah! Tinggalkan kami!" ujar Haniah, dengan tatapan dingin pada Adam.
"Tapi Hani, aku tidak bisa meninggalkan kamu sendiri bersama pria ini," balas Adam, sembari ia kembali menatap Atha.
Atha yang mendengar perkataan Adam, langsung mengerutkan dahinya. "Apa maksud kamu? Emang kamu tidak tahu siapa saya hah?!" tanyanya terlihat tidak senang.
"Gue tahu kok siapa Lo! Pria brengsek, yang mengaku suam..." balas Adam. Namun langsung di potong oleh Haniah.
"Hentikan Adam! Please jangan ikut campur urusan kami! Dan Ana mohon pergilah dari sini!" potong Haniah, terdengar tegas. Sembari ia mengatupkan kedua tangannya.
"Tapi Hani, aku tidak bisa meninggalkan kamu dengan pria breng.." balas Adam dan lagi-lagi perkatanya langsung dipotong oleh Haniah.
__ADS_1
"Stop Adam! Asal kamu tahu, pria yang kamu bilang brengsek itu Adalah Suamiku!" potong Haniah lagi. Membuat Adam maupun Atha terkejut, saat mendengar kata Suamiku.
"Tapi Hani..."
"Pergilah dari sini Adam!" bentak Haniah, membuat Adam, tidak bisa membantah Hani lagi. Dan akhirnya mau tak mau Adam pun langsung pergi, sambil menyentakkan kakinya dan pergi menuju rumahnya dengan kesal. Sehingga saat ia telah masuk terdengar bantingan pintunya.
"Assalamu'alaikum Hani" ucap Atha, setelah kepergian Adam.
"Wa'alaikumus salam Bang Hafiz," balas Haniah, terdengar datar.
"Kamu apa kabarnya Hani?" tanya Atha terdengar lembut.
"Alhamdulillah baik, silahkan duduk Bang," balas Hani, sembari ia merentangkan tangannya menunjuk sebuah kursi diteras rumahnya itu.
"Terimakasih Hani," balas Atha, yang kemudian ia pun menghampiri kursi tersebut dan langsung duduk di atasnya.
"Duduklah dulu Hani," ujar Atha, dengan lembut, sembari mendorong sebuah kursi kearah Haniah. Dan Haniah mengikuti perkataan Atha dan ia pun langsung duduk.
Untuk sesaat suasana begitu hening, hingga akhirnya Atha membuka suaranya. "Aku sudah menceraikan Jennifer. Apakah sekarang kita bisa menjadi suami istri sesungguhnya?" tanyanya terdengar lembut.
Haniah tak langsung memberikan jawabnya. Terlihat sekali ada keraguan dari raut wajahnya. "Maaf Bang, sepertinya Ana sudah tidak bisa menjalin hubungan lagi sama Abang," balas Haniah tanpa ingin melihat wajah suaminya.
"Tapi kenapa Hani? Bukankah waktu itu kamu memberikan alasan tidak ingin berbagi suami dengan wanita lain? Sekarang aku sudah menceraikan dia Hani, jadi kamu tidak akan berbagi Suami lagi," ujar Atha, yang terlihat ia tidak menerima keputusan Haniah.
"Maaf Bang, hati Ana sudah terlanjur terluka dan masih terasa sakit. Jadi Ana mohon lepaskanlah Ana, Bang," jelas Haniah, membuat hati Atha begitu perih. Sehingga tubuhnya tiba-tiba menjadi gemetaran.
"Apakah karena pria tadi Hani?" tanya Atha terdengar lirih, namun masih terdengar oleh Haniah.
__ADS_1
"Tidak Bang, bukan karena dia, tapi ini benar-benar keinginan Ana, yang sudah tidak sanggup lagi menjalin hubungan yang sudah lama tidak sehat ini. Jadi please ceraikan Ana," balas Haniah, sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Apakah ini perpisahan akan membuat kamu bahagia Hani?" tanya Atha dengan suara yang kini terdengar bergetar.
"In shaa Allah Bang," balas Haniah terdengar lirih.
"Baiklah, kalau memang perpisahan kita, membuat kamu bahagia, aku akan menuruti keinginan kamu. Besok pengacaraku akan mengurus semuanya," ujar Atha, masih dengan suara yang terdengar bergetar.
"Terimakasih Bang," ucap Haniah yang terlihat matanya juga sudah berkaca-kaca. Ia juga sempat melirik wajah Atha, yang terlihat ia malah sudah menjatuhkan air matanya. Namun dengan cepat ia langsung menghapusnya.
"Baiklah kalau begitu, aku permisi pulang ya, kamu jaga diri baik-baik dan semoga kamu bahagia selamanya Hani," ucap Atha, berusaha tegar.
"Aamiin, in shaa Allah Bang" balas Haniah dengan lembut.
"Kalau begitu aku pulang ya Assalamu'alaikum" ucap Atha, yang kemudian ia bangkit dari duduknya.
"Iya Bang Wa'alaikumus salam,"
Setelah mendapatkan jawaban salamnya, Atha langsung beranjak dari sana. Dab dengan langkah gontai, ia langsung menghampiri mobilnya. Ia kembali melirik wajah istrinya yang sedang ditutupi cadarmya. Dan kemudian ia pun mulai melajukan mobilnya, meninggalkan area perumahan dinas milik puskesmas.
Atha terrus melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. "Ya Allah kalau memang keinginannya membuat dia bahagia Aku ikhlas ya Rabb. Semoga engkau memberikan dia kebahagiaan dunia maupun di akhirat," Batin Atha, yang kini terlihat Air matanya kembali terjatuh.
Atha langsung, menghapus air matanya dengan sapu tangan. Disaat ia ingin mengembalikan sapu tangannya ke kantongnya tiba-tiba cahaya sebuah mobil menyilaukan matanya. Sehingga ia kehilangan fokusnya dan..
"GUBRAAAK!"
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
__ADS_1
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA Guys..🙏🥰 Bonusin author dong dengan VOTEnya, jangan pelit yaa😉 dan jangan lupa juga ya berikan LIKE, Hadiah, Bintang 🌟 serta komentarnya ya guys Biar novel ini bisa bersinar 😉 Oke guys 🥰 Syukron 🥰😘.