
*═══❉্͜͡🤍Mutiara Hikmah.🤍❉্͜͡═══*
يرى البشر فقط ما يظهر ، وليس من الأهداف والنوايا
Manusia hanya melihat apa yang tampak. Dan bukan dari tujuan dan niatnya.
اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sungguh Allah tidak melihat bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah melihat pada hati dan amalan kalian.”
(HR. Muslim nomor 2564).
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•═══════•❉্᭄͜͡🤍❉্᭄͜͡•═══════•
"Iya Pak! Istri Anda sedang Hamil!"
Mendengar jawaban dari sang Dokter, Hafidz langsung bersujud syukur kepada sang Mah Pencipta. Yang mana ia mendapatkan dua kabar yang amat membahagiakannya. Yaitu ketika dokter mengatakan bahwa istrinya telah selamat, yang kedua ketika ia mendapatkan kabar bahwa istrinya telah hamil. Dan itu merupakan hal yang akan membahagiakan untuk dirinya dan juga keluarganya.
"Subhanallah, Walhamdulillah, Wala illaha illallah, Subhanallah Walhamdulillah Wala illaha illallah, Subhanallah Walhamdulillah Wala illaha illallah. terima kasih ya Allah, terima kasih atas karunia-Mu," ucap Hafidz, yang begitu tulus , sehingga tanpa terasa air matanya ikut mengalir. Setelah ia melakukan sujud syukurnya Hafidz langsung menyalami sang Dokter.
"Terima kasih banyak Dok, karena telah menyelamatkan istri saya," ucap Hafidz, dengan tulus.
"Sama-sama Pak, itu sudah menjadi tugas kami," balas sang Dokter.
"Oh iya, apa saya sudah bisa bertemu dengan istri saya Dok?" tanya Hafidz, yang nampaknya ia sudah tidak sabar ingin melihat istrinya.
"Sudah bisa Pak! Silahkan saja, kalau begitu saya permisi, ya Pak," balas Dokter tersebut, sekalian ia pamit.
__ADS_1
"Silakan Dok, sekali lagi terimakasih," ucap Hafidz, dan hanya dibalas sang Dokter dengan acungan jempolnya. Lalu ia pun berlalu meninggalkannya. Sedangkan Hafidz dan. Fahmi langsung menuju ke ruang rawat Haniah. Setibanya ia disana, Hafidz langsung, masuk sementara Fahmi menunggu diluar.
Setelah didalam Hafidz langsung menghampiri Haniah, yang sedang berbaring lemah di tempat tidurnya. Ia nampak belum sadarkan diri, dari pasca operasinya. Lalu Hafidz duduk, disisi ranjang Haniah tuk beberapa saat ia pandangi wajah yang terlihat masih pucat itu. Sembari ia menggenggam tangannya, lalu dikecupnya tangan tersebut, dan dikecupnya juga keningnya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
"Terima kasih Sayang, terima kasih karena telah memilih tetap bertahan di sisi Mas. Terima kasih juga karena telah memberikan kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan. Dan kamu benar-benar telah menyempurnakan diri Mas, Sayang, Terima kasih," ucap Hafizh seraya ia mengecupi setiap inci wajah Haniah, penuh haru sehingga Air matanya kembali mengalir. Hingga air matanya jatuh dan mengenai wajah pucat Haniah. Dan ternyata air matanya membuat Haniah membuka matanya.
"Mas?" panggil Haniah, terdengar lemah.
"Iya Sayang? Alhamdulillah kami sudah bangun Sayang?" sahut Hafidz terlihat begitu senang saat melihat, istrinya telah tersadar.
"Hmmm," balas Haniah, yang hanya hmm saja. Seraya ia melihat disekelilingnya. Karena ia teringat terakhir kali ia masih berada di kapal pesiar.
"Ada apa Sayang?"
"Ini dimana Mas?" tanya Haniah, masih terlihat bingung.
"Kita sekarang sedang dirumah sakit Sayang, tapi kita masih di kota JB, tunggu kamu agak pulih baru kita pulang ke kota JK ya," balas Hafidz. Membuat Haniah terlihat sedikit tenang.
"Tidak usah Mas, Niah baik-baik saja kok," balasnya, terdengar lirih.
"Alhamdulillah.. kalau begitu, apakah ada yang kamu inginkan Sayang?" tanya Hafidz, karena setahu bila hamil muda akan ada banyak keinginannya.
"Tidak ada kok Mas, Niah hanya ingin tidur dipeluk Mas, saja,"
Hafidz yang mendengar keinginan Istrinya. Tanpa ingin menunda-nundanya, ia langsung membaringkan tubuhnya di sisi Haniah, dan meletakkan kepala Haniah dilengannya, agar ia bisa memeluk istrinya itu. Ia juga terlihat sangat hati-hati sekali karena, ia takut mengenai luka Haniah.
"Sekarang tidurlah Sayang, Mas akan selalu memeluk kamu," ujar Hafidz, seraya mengusap-usap kepala Haniah, bak seorang ayah, mengelonin anaknya.
Untuk beberapa saat ruang rawat Haniah pun menjadi hening. Karena Haniah, mulai memejamkan matanya kembali. Namun tiba-tiba ia pun tersentak. Membuat Hafidz yang ada di sisinya ikut merasakan hentakannya.
__ADS_1
"Ada apa Sayang? Apakah ada yang tidak nyaman?" tanyanya, semabri memegang pipinya Haniah.
"Mas? Shinta mana? Apakah dia selamat?" tanya Haniah, yang ternyata ia sentakkannya karena ia teringat pada sahabatnya.
"Dia selamat kok Sayang, hanya saja..." Hafidz tak melanjutkan kata-katanya, karena ada keraguan untuk memberikan jawaban pada istrinya.
"Hanya saja apa Mas?" tanya Haniah lagi yang semakin penasaran.
"Itu Sayang, tadi teman kamu pergi tanpa pamit sama Mas, jadi mas nggak tahu dia dimana sekarang," balas Hafidz, apa adanya.
"Hah? Kok bisa? Mas kalau dia diculik lagi gimana Mas? Dan lagian waktu kami disandra tas kami terjatuh. Jadi apakah dia memiliki uang sekarang untuk bisa kembali Mas?" tanya Haniah, yang terlihat ia mencemaskan sahabatnya itu.
"Tenanglah Sayang. Mas akan meminta Fahmi mencarinya Oke?" balas Hafidz dan langsung di anggukan oleh Haniah, "Ya sudah kamu tunggu sebentar ya, Mas temuin Fahmi dulu," tambahnya lagi, dan kembali Haniah mengangguk kepalanya saja.
Setelah mendapatkan balasan dari istrinya, Hafidz pun beranjak, dari tempat tidurnya Haniah, dan langsung melangkah keluar dari kamar rawat Haniah. Sesampainya di luar, ia melihat Fahmi masih duduk di kursi tunggu yang berada di koridor rumah sakit.
"Fahmi, tolong pangy Shinta! Istriku ingin bertemu dengannya," titah Hafidz, membuat Fahmi terkejut.
"Saya harus cari dimana Pak?" tanya Fahmi terlihat bingung.
"Mana gue tahu! Pokoknya kamu harus mencari Shinta sampai dapat! Dan Bawak ke sini lagi Oke!Sudah sana pergi!" pungkas Hafidz, lalu ia pun kembali masuk, meninggalkan Fahmi yang terlihat masih bingung.
"Hah! Aku harus mencari Dia Kemana?"
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
Dear Readers ♥️
Jangan lupa mampir ke karyanya Author dan jangan lupa juga untuk memberikan dukungannya Ok 😉 Syukron 🥰😘
__ADS_1