
Medengar mendengar pertanyaan Sinta, jantung Haniah tiba-tiba berdetak kencang. Seketika Ia pun teringat akan ibunya yang saat ini kondisinya sering sakit-sakitan. Di tambah lagi seseorang menyampaikan kalau suaminya telah datang. Membuat Haniah teringat, kala ia kala ia pulang kampung pertamanya saat bersama dengan Atha.
"Shin, Ana temuinn Mas Hafidz dulu ya, nanti kalau Ana tidak kembali, tandanya Ana pulang, oke," ujar Haniah, yang terlihat dari tatapan matanya ada kecemasan disana.
"Iya nggak papa, ya sudah sana, tapi kalau ada apa-apa kasih kabar aku ya Han," balas Shinta, yang sepertinya ia mengerti akan kegelisahan sahabatnya itu.
"Iya In shaa Allah, ya sudah aku pergi ya Assalamu'alaikum," pamit Haniah, seraya ia bangkit dari duduknya, lalu dengan langkah tergesa-gesa ia langsung meninggalkan Shinta tanpa menunggu balasan salamnya.
Namun Shinta memahaminya, makanya ia tak mempermasalahkannya. Dan ia hanya membalas salam Haniah, didalam hatinya saja, sembari ia menatap kepergian sahabat karibnya itu.
...*****...
Sementara itu didepan pintu gerbang, FK.
Didalam mobil Hafizh.
"Gimana Fahmi, apakah kamu bertemu dengan istriku?" tanya Hafizh, saat ia melihat Fahmi memasuki mobilnya.
"Tidak Pak, karena tadi saat saya kesana, kata temannya ia berada di kantin. Tapi saya sudah meminta temannya untuk memanggilnya kok Pak," balas Fahmi, seadanya.
"Baiklah, kalau kita tunggu saja sebentar lagi," ucap Hafizh dengan pandangan mengarah ke pintu gerbang. "Eh, panjang umur Dia," ucapnya lagi, saat ia melihat seorang wanita bercadar yang baru saja keluar dari pintu gerbang, ia terlihat berlari-lari kearah mobil yang ia tumpangi.
Hafizh, menurunkan kaca jendelanya. "Niah, jangan berlari-lari, nanti kamu jatuh!" serunya pada wanita bercadar yang terlihat hampir mendekatinya. Sembari ia membukakan pintu mobilnya.
Dan tak berapa lama. "Assalamu'alaikum Mas?" ucap wanita itu, yang ternyata Dia memang Haniah.
"Wa'alaikumus salam Niah," balas Hafizh, sembari ia menggeserkan tubuhnya. "Masuklah sayang," lanjutnya lagi.
"Baiklah Mas," Haniah, pun memasuki mobil Atha, dan duduk tepat di samping suaminya itu.
"Apakah, Mas mendapatkan kabar dari Bunda?" tanya Haniah setelah ia menutup kembali pintu mobilnya Hafidz.
Hafizh langsung tersentak saat mendengar pertanyaan Haniah, "Eh, kamu kok bisa tahu Sayang?" bukannya menjawab pertanyaan istrinya, Hafizh malah kembali bertanya.
"Perasaan Niah nggak enak Mas, jadi Niah teringat Bunda," balas Haniah, yang terlihat dari matanya yang sudah berkaca-kaca, menandakan, ia sedang sedih.
__ADS_1
Melihat mata istrinya telah berkaca-kaca Hafidz, langsung merangkul pundak istrinya. "Jangan sedih Sayang, in shaa Allah Bunda akan baik-baik saja." ucapnya sembari tangan kirinya memencet tombol, penutup tirai pembatas antara kursi depan dan belakang. Agar ia bisa leluasa membuka cadar Istrinya tanpa Fahmi melihatnya.
Karena Fahmi juga tamatan dari pondok pesantren, yang sama dengan Haniah. Membuat ia paham, mengapa mobil Hafiz kini dikasih tirai pembatas. Malahan dia sendirilah yang mengusulkan ide tersebut, agar ia tak merasa canggung bila ada istri Bosnya.
"Tapi benarankan Mas mendapatkan kabar dari Bunda?" tanya Haniah yang terlihat masih penasaran.
"Iya Sayang, tadi Papa memberitahukan kalau Bunda saat ini sedang sakit," balas Hafizh, tanpa ia memberitahukan kalau Bundanya Haniah, sedang sakit parah. Ia hanya membantu membukakan cadar istrinya saja setelah tirai sudah tertutup dengan sempurna.
"Ya Allah, benar firasat Niahkan, kalau begitu kita langsung ke kampung saja ya Mas," ujar Haniah, dengan wajah terlihat semakin sedih.
"Tapi Niah, apa tidak sebaiknya kita pulang dulu untuk mengambil baju-baju kita, sayang?"
"Baju Niah masih ada kok dikampung Mas," kata Haniah, yang sepertinya ia sudah tidak sabar, ingin segera sampai di kampung orang tuanya.
"Tapi Niah, baju Mas kan nggak ada disana? Masa iya mas Nggak ganti-ganti sih di sa.." ucap Hafidz, namun langsung di potong oleh Haniah.
"Mas, disanakan ada baju Bang Fian, jadi nggak papa ya Mas pakai baju bang Pian? Nanti kalau Niah sempat kepasar akan Niah belikan deh baju untuk Mas ya?'' potong Haniah, membuat Atha tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi.
"Baiklah Niah, sesuai keinginan kamu saja ya," ucapnya terlihat mengalah. Sembari ia menarik pundak istrinya agar ia bersandar ke dirinya. Haniah pun mengikutinya dengan pasrah, dan ia pun menyandarkan kepalanya kebahu suaminya, dengan pikiran masih mengarah ke Ibunya.
"Baik Pak!" balas Fahmi dengan singkat.
"Kamu tenang saja ya Sayang? Karena kita, akan langsung ke rumah Bunda sekarang," ujar Atha lagi pada Haniah.
"In shaa Allah Mas, terimakasih ya," balas Haniah lirih.
"Sekarang sebaiknya kamu tidur ya? Nanti kalau sudah sampai, Mas akan membangunkan kamu," ujar Atha, dan dibalas dengan anggukan saja oleh Haniah. Dan tak berapa lama ia pun akhirnya terlelap dalam pelukan suaminya.
Suasana mobil pun berubah menjadi hening, dan kebetulan juga, jalan begitu lancar. Membuat Fahmi, tak membutuhkan waktu lama untuk memasuki area kota JJ dan tak berapa lama mereka pun sampai di dekat rumah Haniah.
"Pak kita sudah sampai!" kata Fahmi masih dibalik tirai. Mendengar ucapan Fahmi Atha langsung melihat sekelilingnya.
"Eh, kenapa berhenti disini? Kenapa kamu tidak langsung masuk saja ke gerbang rumah istriku Fahmi?" tanya Atha heran.
"Tidak bisa Pak! Karena didalam gerbang banyak orangnya!" kata Fahmi menjelaskan ia sedang ia lihat. Mendengar perkataan Fahmi, Atha langsung membuka tirainya dan..
__ADS_1
DEGH!!!
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
Jangan lupa dukung author yaa 🙏😘
Oh iya, selagi menunggu Author update, bagaimana kalau kalian mengisi waktunya dengan membaca karya temannya Author.
...┈┈••✾•◆💓 JEBLCAK.💓◆•✾••┈┈...
Dengan judul karya.
...💓 Gadis Jerawat Istri Sang Cassnova 💓...
Biar pada penasaran Author kasih Cuplikannya ya. Cus Cekidot 👇
"Jangan terlalu bahagia dengan semua yang kulakukan ini," bisik Syakir yang membuat bulu kuduk Humai merinding. "Ini hanyalah paksaan dan setelah ini, kau akan tahu bagaimana kehidupan yang kau inginkan sebenarnya."
Syakir tetap menatap Humai dengan pandangan rendah. Bahkan dia langsung membuang wajahnya karena tak mau menatap wajah itu lagi. Wajah yang menurutnya merusak segala hal yang ia inginkan.
Wajah dari wanita yang merebut kasih sayang kedua orang tuanya. Wajah yang merusak masa depan indahnya. Semua itu sudah sirna dan itu karena Humaira dan anak yang dikandungnya.
"Jangan pernah menatapku seperti itu, Wanita bodoh!" seru Syakir saat Humai menatapnya dengan lekat. "Aku sangat membencimu dan aku tak mau melihatmu lagi! Enyahlah dari duniaku bersama anak haram ini!"
Jantung Humai mencelos. Dia menunduk dan tanpa sadar langsung memegang perutnya. Wanita itu merasa sakit ketika kata-kata itu keluar dari bibir Syakir. Namun, Humai tak bisa melakukan apapun.
Saat ini Syakir telah menjadi suaminya. Dia tak bisa melawan balik dan memilih diam. Humai juga tak mau membuat kekacauan disini. Dia tak mau Syakir semakin membencinya saat kedua orang tuanya terus membelanya daripada putranya sendiri.
"Kau mau mengadu? Silahkan!" seru Syakir dengan pelan karena melihat kedua orang tuanya hendak ke arah mereka. "Tapi jangan salahkan aku, jika kau dan anakmu ini, akan mendapatkan sakit yang lebih dari ini dariku!"
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
Penasaran ya, Cus Akh kepoin yuk. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys 🙏😉 Syukron 🥰.
__ADS_1