
Setelah melakukan perjalanan selama dua jam, kini mobil Ambulance yang membawa Atha, telah sampai di rumah sakit besar, yang berada di kota JK. Dan saat ini Atha, sudah berada diruang rawat dan sudah ditangani oleh dokter yang berada di rumah sakit tersebut.
Atha, memang sempat tersadar didalam mobil ambulance tadi. Namun itu hanya sejenak, karena memang kondisinya yang masih sangat lemah. Namun walaupun hanya sejenak itu sudah membuat Haniah amat bersyukur. Karena itu membuktikan kalau Atha sudah melewati masa-masa kritisnya.
Kini Haniah, sudah berada di ruang rawat Atha. Setelah dokter menyelesaikan pemeriksaannya. Bahkan ia kini duduk di sisi pembaringan Atha, sembari ia memandang wajah suaminya, yang masih enggan membuka matanya.
Disaat seperti itu tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Namun Haniah menyangka, kalau yang mengetu pintu, pasti salah satu dari suster yang bertugas di sana membuatnya enggan berdiri, dan hanya menyerukannya dari posisi duduknya saja.
"Masuk!" Dan tak berapa lama, pintu pun terbuka.
"Assalamu'alaikum," Haniah langsung menoleh ke arah pintu, setelah ia mendengar salam seorang pria dan wanita.
"Mama! Papa!" sentak Haniah, seraya ia bangkit dari duduknya dengan spontan. "Dari mana Papa dan Mama, bisa tahu, kami disini?" tanyanya dengan suara terdengar bergetar. Ia tak menyangka kalau mertuanya bisa mengetahui keadaan suaminya.
"Tidak penting dari mana Papa dan Mama tahu! Hanya saja Papa kecewa sama kamu Hani! Papa pikir kamu bisa membisa mempertahankan rumah tangga kamu dan Atha! Tapi ternyata kamu malah minta bercerai dari Atha!"
__ADS_1
Haniah lagi-lagi terkejut setelah mendengar perkataan Darmawan, yang terlihat diwajahnya sangat kecewa padanya. Dia juga tak menyangka, kalau ternyata Ayah mertuanya mengetahui tentang keinginannya yang ingin bercerai dari Atha.
"Maafkan Hani Pah. Maaf karena Hani, sudah mengecewakan Papa" balas Haniah, sembari ia menunduk wajahnya.
"Jadi benar kamu meminta cerai dengan Atha Nak?" tanya Darmawan yang pada awalnya ia tidak percaya. Disaat ia mendapatkan kabar dari pengacaranya Atha.
"Iya Pah, memang benar tadi malam sebelum Bang Hafizh kecelakaan, Hani meminta dia menceraikan Hani. Tapi Hani yakin, kalau Papa tahu alasannya," balas Haniah, masih tidak berani menatap ayah mertuanya.
"Pah, Hani nggak kuat kalau harus berbagi suami pada wanita lain Pah. Hani bukan wanita super Pah, Hani hanya wanita biasa, yang memiliki perasaan. Inj rasanya terlalu sakit Pah hiks..hiks..." jelas Haniah, yang terlihat Air matanya kini kembali mengalir lagi.
Mendengar alasan Haniah, Darmawan jadi merasa bersalah. Karena sebenarnya penyebab Atha menduakannya itu dikarenakan ia ingin berontak pada dirinya, yang selalu memaksa Atha, melakukan segala keinginannya. Namun pemaksaannya terhadap Atha malah membuat Haniah yang menjadi korbannya.
"Ya sudah kalau memang kamu lebih memilih untuk bercerai dari Atha, Papa akan meminta pengacara Atha untuk melanjutkannya proses perceraian kalian," ujar Darma, yang sedikit terdengar berat. Karena memang ia sudah amat menyayangi Haniah, seperti anak kandungnya sendiri.
"Tidak Pah, Hani jadi meminta cerai, karena tadi Hani sudah berjanji pada Bang Hafizh, akan menjadi istrinya lagi," balas Haniah, sembari ia tersenyum lembut pada Darmawan.
__ADS_1
"Alhamdulillah..Mama sangat senang mendengarnya Nak!" timpal Rizka yang sejak tadi ia hanya diam, akhirnya buka suara. Karena memang ia begitu sedih, mendengar anaknya kecelakaan di tambah lagi istrinya yang meminta bercerai, membuat ia jadi enggan berbicara pada Haniah yang sebenarnya ia juga sangat menyayangi Haniah.
"Terima kasih ya Nak, karena kamu sudah mau memberikan kesempatan pada Anaknya Mama," lanjut Rizka lagi, sembari ia memeluk tubuh Haniah.
"Sama-sama Mah. Maafin Hani ya Mah, Pah, karena Hani, Bang Hafizh jadi terkena musibah," ucap Haniah didalam pelukannya.
"Tidak apa-apa Nak, Papa malah bersyukur, Hafizh mendapatkan musibah," ujar Darma, membuat Rizka yang sedang memeluk Hani langsung melepaskan pelukannya dan langsung menatap kearah suaminya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Ayoo ikut Mama Pah!" ujar Riska sembari ia menarik tangan suaminya keluar dari ruangan Atha. Membuat Haniah yang melihat kedua mertuanya jadi tercengang bingung. Namun ia tak ingin ikut campur, dan ia lebih memilih kembali duduk di sebelah suaminya.
Sementara Riska yang kini sudah berada di depan ruangan Atha, kembali menatap kesal pada sang Suami.
"Apa maksudnya Papa yang malah bersyukur Atha mendapatkan musibah hah? Jadi Papa senang anak kita mendapatkan kecelakaan, Iya Pah?!" tanya Rizka terlihat ada kemarahan pada matanya.
"Iya dong Mah, Papa senang, karena musibahnya membawa berkah Mah,"
__ADS_1
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA Guys..🙏🥰 Bonusin author dong dengan VOTEnya, jangan pelit Oke😉 dan jangan lupa juga ya berikan LIKE, Hadiah, Bintang 🌟 serta komentarnya ya guys Biar novel ini bisa bersinar 😉 Oke guys 🥰 Syukron 🥰😘.