TERJERAT NIKAH GANTUNG

TERJERAT NIKAH GANTUNG
BALAS DENDAM.


__ADS_3

*═══❉্͜͡🤍Mutiara Hikmah.🤍❉্͜͡═══*


"Apa jebakan tertinggi syaitan pada orang-orang yang tenggelam dalam kemaksiatan? Jebakan tertinggi bukan kemaksiatan itu sendiri, melainkan rasa putus asa untuk bertaubat. Sebab syaitan tahu maksiat sebesar apapun bisa diampuni. Tapi jika manusia putus asa bertaubat, tak bisa diampuni."


{~Habib Nabil Fuad Al-Musawa~}


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•═══════•❉্᭄͜͡🤍❉্᭄͜͡•═══════•


Shinta menjerit histeris, ketika ia mendengar suara baku tembak yang berasal dari rumahnya. Pikirannya hanya tertuju pada sang Ayah. Karena seburuk apapun kelakuannya pada Ayahnya. Namun ia tetap menyayanginya. Karena memang tinggal Ravicolah orang tua yang Shinta miliki. Sedangkan ibunya sudah lama meninggal dunia ketika ia baru memasuki SMA. Dan semenjak itu juga hubungan antara Ayah dan anak menjadi renggang.


Yaa, karena semenjak Ibunya meninggal, sang Ayah pun kedunia yang penuh kemaksiatan. Hingga akhirnya ia menyandang predikat ketua Mafia. Dan Shinta sangat menentang status Ayahnya itu, makanya ia memilih menjauh dari sang Ayah sebagai bentuk protesnya. Namun kenyataannya Ravico malah mendukung kepergiannya. Karena dengan cara itu, ia bisa melindungi Anaknya yang selalu menjadi target utama para musuh-musuhnya.


Melihat tubuh Shinta gemetaran, Fahmi merasa iba. Bahkan ia dapat merasakan rasa ketakutan pada istri yang belum lama ia halalkan itu. Karenanya Ia tak bisa berdiam diri saja, "Jack! Tolong hentikan mobilnya!" seru Fahmi terdengar begitu tegas.


"Maaf Tuan muda! Saya tidak bisa melakukannya! Karena ini perintah Bos Also, yang mengatakan tidak boleh berhenti walau apapun yang terjadi!" balas Jack tanpa melirik sedikitpun pada Fahmi, karena ia sedang fokus mempercepat laju mobilnya, agar secepatnya ia menjauh dari mansionnya Ravico.


"Ooh.. sepertinya kau begitu yakin, kalau setelah mengantar kami, Bos kamu itu masih hidup ya? Tapi bagaimana kalau ternyata setelah kami pergi semuanya telah habis tak bersisa. Apa yang akan kamu lakukan Jack? Apakah kau akan mencari Bos lagi? Dan apa kau yakin, akan mendapatkan Bos, yang kamu miliki saat ini Jack? Pastinya kau tidak akan menyangkalkan kalau beliau begitu menyayangi Anda seperti putranya sendiri? Sadarlah Jack, Beliau memperintahkan Anda untuk mengantarkan kami itu hanya dalihnya. Karena sebenarnya, beliau juga ingin melindungi Anda!"

__ADS_1


Mendengar penuturan Fahmi yang panjang lebar itu. Membuat Jack seketika mengerem mobilnya secara mendadak. Sehingga mobil berhenti seketika, membuat kepala Shinta terbentur dengan sandaran kursi bagian depan. Dan akhirnya ia tak sadarkan diri. Sedangkan Fahmi mampu menahan dirinya, makanya ia terlihat baik-baik saja.


"Maaf Tuan muda! Saya tidak bermaksud melukai Nona Vero," ujar Jack merasa bersalah.


"Tidak apa-apa Jack, ini lebih baik! Agar kita sedikit tenang menyelamatkan Bos kamu! Sekarang cepatlah cari tempat yang aman untuk istriku!" balas Fahmi, seraya ia membenarkan tubuh Shinta.


"Baik Tuan muda!" balas Jack dan ia pun memutarkan kembali mobilnya. Dan ia pun langsung mencari penginapan yang aman untuk majikannya. Ia juga sengaja mencari yang tak begitu jauh dari Mansion milik Ravico.


"Tuan Muda, kita sudah sampai, saya rasa disini cukup aman untuk Nina Vero," kata Jack, setelah ia memarkirkan mobilnya tepat di depan sebuah penginapan kecil yang hanya berlantakan tiga.


"Baiklah Jack! Sekarang cepatlah bantu Aku pesankan kamar untuk Nona kamu," kata Fahmi, seraya ia turun dari mobilnya sambil menggendong Shinta.


Setelah Fahmi mendapatkan kunci kamar dari Jack Ia ipun langsung bergegas menuju kamar yang sudah di pesan dan langsung membaringkan tubuh istrinya keranjangnya setelah ia sudah berada di dalamnya.


"Istirahatlah dengan tenang istriku, pasti kamu sangat lelah karena menghadapi pernikahan kita. Dan kamu jangan khawatir, in shaa Allah Daddy kamu akan baik-baik saja," bisik Fahmi, sembari ia menyelimutian tubuh istrinya. Setelah itu ia pun mengecup lembut dahinya. Dan setelah itu tanpa mengatakan apapun lagi, ia pun bergegas meninggalkan kamar penginapan tersebut dan menguncinya dari luar. Setelah itu ia kembali menemui Jack.


"Ayo Jack kita pergi sekarang!" katanya sembari ia masuk kedalam mobil.


"Baik Tuan muda!" Jack pun kembali mengemudi mobilnya dengan cepat. Dan disaat mereka mulai mendekati mansionnya Ravico, Jack membuka laci kecil yang berada didepannya Fahmi duduk. "Tuan Muda, didalam laci itu ada senjata, ambilah untuk melindungi Anda," katanya lagi.

__ADS_1


Fahmi pun langsung memeriksanya, ternyata benar didalam laci tersebut terdapat sebuah senjata api yang dilengkapi dengan peredam suaranya, serta ada beberapa kotak yang berisikan pelurunya, "Terima kasih Jack! Aku memang membutuhkan ini," ucapnya seraya ia mengambil senjata tersebut, serta mengambil beberapa kotak pelurunya.


"Sama-sama Pak! Kita sudah sampai! Kita masuk dari pintu belakang saja," kata Jack, yang terlihat ia telah memarkirkan mobilnya didepan gerbang bagian belakang Mansionnya Ravico.


"Bagus! Ayo kita bergerak sekarang!" ajak Fahmi. Dan mereka pun turun dari mobil. Lalu keduanya memanjat pintu pagar yang menjulang tinggi itu. Karena sepertinya para penjaganya sedang tak ada ditempat.


Setelah keduanya berada didalam, mereka pun langsung bergerak mencari keberadaan Ravico. Sesampainya mereka di lokasi tempat tadi berlangsungnya pesta. Dari tempat persembunyiannya, Fahmi dan Jack dapat melihat Ravico dan para anak buahnya seperti sedang terdesak karena jumlah musuh mereka semakin banyak.


Melihat hal itu Fahmi dan Jack pun mulai bergerak, membantu Ravico dan anak buahnya. Untungnya keduanya memiliki senjata peredam suara. Sehingga para musuh Ravico tak menyadari keberadaan keduanya. Sehingga memudahkan keduanya menghabiskan musuhnya satu persatu. Membuat kedudukan kini terbalik. Sehingga Bos dari pihak musuh yang mulai menyadari, kalau anak buahnya yang terlihat semakin sedikit, menjadi geram.


"Brengsek! Sepertinya ada yang membantu mereka dari belakang! Tidak bisa begini! Aku harus secepatnya, menghabiskan Also! Kalau tidak akan menjadi sia-sia semuanya!" geram Bos penjahat itu, "Aku akan bergerak kesana! Kalian lindungi aku dari belakang, paham?!" katanya pada beberapa anak buahnya.


"Paham Bos Charlie!" balas Anak buah pria yang dipanggil Charlie tersebut. Dan Charlie pun hendak bergerak tiba-tiba sebuah tangan menahan pundaknya.


"Charlie Delano! Jangan gegabah! Kita sudah tersudut! Akan bahaya bila kamu tetap nekad ingin membunuh Tuan Also!" kata Pria yang menahan pundaknya Charlie.


"Gerry Reviano! Lepaskan aku! Aku tidak akan membiarkan kesempatan ini menjadi sia-sia! Pokoknya aku harus balas dendam atas kematian orang tuaku! Aku sudah tidak perduli dengan hidupku! Pokoknya hari ini Ravico Also harus mati!" balas Charlie dengan mata yang dipenuhi dengan Api dendam yang membara.


"Tapi Charlie! Dia paman Anda! Apakah kau yakin Ayahmu akan tenang disana? Setelah kau membunuh adiknya hah?"

__ADS_1


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


__ADS_2