
*═══❉্͜͡🤍𝕄𝕦𝕥𝕚𝕒𝕣𝕒 ℍ𝕚𝕜𝕞𝕒𝕙.🤍❉্͜͡═══*
"𝓣𝓲𝓭𝓪𝓴 𝓢𝓮𝓶𝓾𝓪 𝓑𝓪𝓭𝓪𝓲 𝓓𝓪𝓽𝓪𝓷𝓰 𝓤𝓷𝓽𝓾𝓴 𝓜𝓮𝓷𝓰𝓱𝓪𝓷𝓬𝓾𝓻𝓴𝓪𝓷
𝓗𝓲𝓭𝓾𝓹 𝓜𝓾. 𝓑𝓮𝓫𝓮𝓻𝓪𝓹𝓪 𝓐𝓴𝓪𝓷 𝓓𝓪𝓽𝓪𝓷𝓰 𝓤𝓷𝓽𝓾𝓴 𝓜𝓮𝓶𝓫𝓮𝓻𝓼𝓲𝓴𝓪𝓷 𝓙𝓪𝓵𝓪𝓷𝓶𝓾."
𝚂𝙾, 𝙽𝚒𝚔𝚖𝚊𝚝𝚒𝚕𝚊𝚑 𝙷𝚊𝚛𝚒-𝚑𝚊𝚛𝚒𝚖𝚞. 𝙳𝚊𝚗 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚕𝚞 𝙱𝚎𝚛𝚜𝚢𝚞𝚔𝚞𝚛 𝙳𝚒 𝚜𝚎𝚝𝚒𝚊𝚙 𝙼𝚘𝚖𝚎𝚗𝚗𝚢𝚊. 𝙸𝚗 𝚂𝚑𝚊𝚊 𝙰𝚕𝚕𝚑𝚊, 𝙱𝚊𝚑𝚊𝚐𝚒𝚊 𝙿𝚎𝚗𝚞𝚑 𝙱𝚎𝚛𝚔𝚊𝚑 𝙰𝚔𝚊𝚗 𝙼𝚎𝚗𝚐𝚑𝚊𝚖𝚙𝚒𝚛𝚒𝚖!
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•═══════•❉্᭄͜͡🤍❉্᭄͜͡•═══════•
Setelah Hafizh dan Haniah menyelesaikan makanannya. Hafizh pun mengajak istrinya untuk berjalan-jalan di pantai. Agar suasana hati, semakin tenang. Disepanjang pantai Hafidz terus menggandeng tangan istrinya.
"Niah, apakah kamu yakin, tidak ingin meneruskan kuliah kamu?" tanya Hafidz terdengar berhati-hati sekali. Saat mereka sedang duduk di pepasiran dipinggir pantai.
Sejenak Haniah memandang suaminya, lalu ia alihkan lagi pandangannya kearah lautan nan biru, yang terhampar di depan matanya. Sesekali terdengar helaan nafas beratnya. Seakan ia tak ingin menjawab pertanyaan suaminya itu.
"Sayang, apapun keputusan kamu Mas, akan selalu dukungannya. Tapi Sayang, tidakkah kamu merasa sayang, inikan sudah semester akhir Sayang? Dan sebentar lagi nama kamu akan disandingkan dengan kata dokter loh Sayang," ujar Hafidz, seraya ia membuka cadar Istrinya. Setelah ia melihat sekeliling tidak ada satu orang pun di pantai tersebut.
"Mas, keinginanku menjadi dokter itu karena Bunda Mas, dan sekarang Bunda..." Hafidz langsung menutup mulut istrinya dengan jari telunjuknya, membuat Haniah langsung menghentikan perkatanya.
"Sayang, dengarlah, Mas tahu semua yang kamu lakukan demi Bunda. Tapi tidakkah kamu ingin membantu mereka yang memiliki penyakit yang sama dengan Bunda Sayang, Dan Mas juga yakin, Bunda pasti akan senang disana Sayang," tutur Hafidz terdengar begitu lembut.
__ADS_1
Mendengar perkataan suaminya Haniah jadi malu pada dirinya sendiri, yang terlalu egois hanya mementingkan rasa kecewanya saja. Tanpa berpikir panjang untuk melakukan hal kebaikan seperti yang dikatakan oleh suaminya.
"Terima kasih Mas, karena sudah mengingatkan Niah. Baiklah Niah akan melanjutkan cita-cita Niah, ingin menjadi seorang Dokter yang bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan. Dan Niah melakukan ini demi Bunda," balas Haniah, dengan mata yang terlihat telah berkaca-kaca lagi.
"Alhamdulillah, sama-sama Sayang, tetap semangat ya, In shaa Allah Mas akan selalu mendukung kamu," ujar Hafidz, sembari ia mengusap puncak kepalanya Haniah.
"Iya, In shaa Allah Mas,"
"Ya sudah ayo kita ke villa, anginnya mulai kencang. Nanti kamu masuk angin lagi," ajak Hafidz, sembari ia bangkit lalu ia pun membersihkan celananya yang nempel pepasiran.
"Nggak mau! Kecuali Babang kuyus gendong Niah," balas Haniah terdengar manja. Membuat Hafidz tersentak saat ia memanggil dirinya dengan sebutan yang berbeda.
"Eh! Kamu masih ingat panggilan masa kecil kita Niah?" tanyanya dengan mata terlihat berbinar.
"Hu'um, Ingat, Mas dulu panggil Niah, Dede demplonkan? Terkadang Dede kecil, Iyaakan?"
"Ho'oh, kok kamu masih ingat Niah? Itukan, kalau nggak salah saat umur kamu lima tahun Niah?" tanyanya sembari ia menoel pucuk hidungnya Haniah.
"Ya ingatlah Mas, dulukan Niah, sering digendong dipundaknya Mas. Kadang juga jadi kudanya Niah," ujar Haniah, sembari ia tersenyum lucu, teringat masa kecil mereka.
"Ah, iya ya, kamu jahat ya waktu kecil, suka mengakali Mas. Kalau Mas nggak nurutin keinginan kamu, pasti kamu akan nangis, dan ngadu sama Papa, Babang kuyus jahat! Padahal dia pun yang jahat," tutur, Hafidz sembari memutarkan bola matanya. teringat kekesalannya dimasa kecil.
"Hihihi, lucu mah kalau ingat, humm Babang kuyus, tukang ngambek!" ledek Haniah dan ia pun langsung berlari di pinggiran pantai. Membuat Hafidz, terkejut karena Haniah bertingkah persis ketika ia masih kecil.
__ADS_1
"Eh, humm...nakal kamu ya Dede demplon! Awas saja kalau kenak! Sini kamu Dede! Jangan lari!" teriak Hafidz..Lalu ia pun mengejar Istrinya yang terlihat masih berlari, sambil tertawa riang.
"Week! Nggak kenek yeeee.." ledek Haniah, yang kemudian ia kembali berlari-larian dan masih tertawa senang apalagi saat Air laut mengenai kedua kakinya.
"Hai, jangan kesana! Ombaknya sedang kencang Niah!" teriak Hafidz, saat melihat Haniah, berlari mulai sedikit ketengah. Membuat ia langsung mempercepat larinya. Sampai akhirnya tangan Haniah dapat ia raih.
"Anak nakal! Sudah dibilang jangan kesana, kok malah semakin ke tengah hm!" Nampak Hafidz begitu geram melihat tingkah istri yang sudah seperti anak kecil itu. Lalu ia pun langsung menggendong Haniah.
"Aakh!" Haniah langsung menjerit tatkala tubuhnya terasa melayang ke udara. "Aah, Mas Hafidz, Niah masih ingin main di Air!" serunya, disaat ia melihat Hafidz membawanya keluar dari air laut tersebut.
"Tidak boleh! Anginnya lagi kencang Niah, jadi sudah pasti Ombak ikut kencang!" balas Hafidz, sembari ia berjalan menuju ke villa.
"Iiss.. Mas Hafidz nggak asyik deh! Kan jarang-jarang Niah bisa main dipantai Mas!" protes Haniah, yang terlihat tidak senang karena Hafidz langsung membawa masuk ke Villa.
"Sssth.. jangan membantah! Lagian Kalau kamu sakit, siapa yang bakalan repot hm? Maskan?"
Mendengar perkataan Hafidz akhirnya Haniah pun terdiam. Ia tak ingin membantah perkataan suaminya lagi. Dan ia hanya bisa pasrah, saat Hafidz membawanya ke kamar mereka. Sesampainya di kamar, Hafidz tak langsung menurunkannya. Ia malah langsung membawanya ke kamar mandi.
"Eh, loh Mas kok ke kamar mandi?" tanya Haniah terlihat agak terkejut.
"Kamu bau air laut! Jadi Mas mau mandin kamu! Seperti kamu masih kecil dulu, Maskan pernah mandin kamukan?"
Mata Haniah langsung membulat, tatkala suaminya mengatakan ingin memandikannya.
__ADS_1
"Haah! Tidak-tidak!! Niah bisa mandi sendiri!!
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈,...