
*═══❉্͜͡🤍Mutiara Hikmah.🤍❉্͜͡═══*
𝔻𝕀𝔻𝕌𝕀ℕ𝕀𝔸 𝕀ℕ𝕀 𝕋𝕀𝔻𝔸𝕂 𝔸𝔻𝔸 𝕐𝔸ℕ𝔾 𝔸𝔹𝔸𝔻𝕀.
"𝓢𝓸, 𝓙𝓪𝓵𝓪𝓲 𝓢𝓪𝓳𝓪 𝓡𝓸𝓭𝓪 𝓚𝓮𝓱𝓲𝓭𝓾𝓹𝓪𝓷 𝓓𝓮𝓷𝓰𝓪𝓷 𝓜𝓮𝓷𝓲𝓴𝓶𝓪𝓽𝓲𝓷𝔂𝓪 𝓢𝓮𝓶𝓫𝓪𝓻𝓲 𝓓𝓲𝓲𝓻𝓲𝓷𝓰𝓲 𝓢𝓪𝓫𝓪𝓻 𝓓𝓪𝓷 𝓑𝓮𝓻𝓼𝔂𝓾𝓴𝓾𝓻. 𝓐𝓰𝓪 𝓗𝓪𝓽𝓲 𝓙𝓾𝓰𝓪 𝓜𝓮𝓻𝓪𝓼𝓪 𝓓𝓪𝓶𝓪𝓲 𝓓𝓪𝓷 𝓣𝓲𝓭𝓪𝓴 𝓛𝓪𝓵𝓪𝓲 𝓐𝓽𝓪𝓼 𝓢𝓮𝓰𝓪𝓵𝓪 𝓝𝓲𝓴𝓶𝓪𝓽 𝓨𝓪𝓷𝓰 𝓣𝓮𝓵𝓪𝓱 𝓐𝓛𝓛𝓐𝓗 𝓑𝓮𝓻𝓲𝓴𝓪𝓷"
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•═══════•❉্᭄͜͡🤍❉্᭄͜͡•═══════•
Hafiz begitu terkejut saat ia baru saja menyelesaikan bacaan Ar-Rahmannya. Tiba-tiba saja tangis istrinya pecah. Ia pun segera menaruh Al-Qur'annya ke sebuah meja yang berada di samping tempat tidurnya. Setelah itu ia langsung memeluk istrinya, sembari mengusap punggung serta kepalanya yang masih tertutup dengan hijabnya.
"Niah, kamu kenapa Sayang? Ceritakanlah pada Mas, agar beban dihati kamu berkurang Sayang," ujar Hafidz, seraya ia menghapus air matanya Haniah.
"Niah hiks.. Niah..hiks.., nggak mau jadi dokter lagi Mas, hiks..hiks..!" kata Haniah, sambil tersegukan. Membuat Hafidz kaget mendengar perkataan istri cantiknya itu.
"Ssht....Baiklah, sesuai dengan keinginan Sayang, sekarang jangan nangis lagi ya," balas Hafidz, seraya ia mengecup dahi istrinya. Namun tangisnya Haniah malah semakin kencang. Membuat Hafidz semakin bingung.
"Baiklah-Baiklah, menangislah sepuasnya. Tapi setelah ini berjanjilah kamu akan baik-baik saja oke!" Katanya lagi sembari meletakkan kepalanya Haniah di dada bidangnya.
__ADS_1
Haniah pun menangis sekencang-kencangnya, di dada suaminya, hingga ia tersegukan. Membuat Hati Hafidz terasa sakit, namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Karena yang bisa ia lakukan saat ini hanya membiarkan istrinya menangis, dan berharap setelah ini ia mau menceritakan semuanya yang tersimpan di hatinya.
Setelah Haniah merasa puas menangis, akhirnya tangisnya pun terhenti hanya terdengar isakannya saja. Dan pada saat isakannya sudah mulai mereda, Hafidz pun membuka suaranya, karena memang sedari tadi ia begitu penasaran pada Istrinya itu.
"Sayang, sebenarnya apa yang terjadi kamu hm? Mengapa kamu seperti ini Sayang? Ceritalah Sayang pada Mas," tanya Hafidz, sembari ia membenarkan duduknya untuk menyandarkan dirinya di kepala tempat tidurnya. Agar Haniah bisa nyaman bersadar di dada bidang suaminya.
Mendengar pertanyaan Suaminya Haniah tak langsung menjawab. Ia masih betah dengan kediamannya. Dan hanya memainkan kancing, baju Koko milik suaminya. Melihat kediaman istrinya, Hafidz tak ingin memaksanya lagi.
"Ya sudah kalau kamu tidak ingin berbagi beban yang dihatimu sama Mas, nggak papa kok. Sekarang kita makan yuk, bukankah kamu dari kemarin belum makankan?" ajak Hafidz. Namun dibalas oleh Haniah dengan gelengan kepalanya saja tanda ia tidak mau.
"Sayang nanti kamu bisa sakit, kalau kamu tidak mau makan. Ayolah Sayang makan sedikit pun jadi asal perut kamu terisi," rayu Hafidz, berharap istrinya mau memenuhi ajakannya. Namun Haniah tak menanggapi ajakannya, membuat Hafidz bingung melihat kediaman istrinya.
"Mas?" panggilnya terdengar lirih. Membuat Hafidz langsung senang karena pada akhirnya istrinya mau mengeluarkan suaranya.
"Iya Sayang?" balas Hafidz dengan lembut.
"Apa Mas tahu Bunda Niah sakit apa?" tanya Haniah masih terdengar lirih.
"Nggak tahu Sayang. Emangnya Bunda sakit apa hm?" tanya Hafidz, semakin penasaran.
__ADS_1
"Sebenarnya Bunda, sudah sakit sedari Niah berumur dua belas tahun. Sebelum Mas menikahi Niah," ujar Haniah yang mulai bercerita tanpa melihat wajah suaminya. Karena posisi mereka masih sama, dengan wajah Haniah masih bersandar miring didada suaminya.
"Waktu itu, Niah baru pulang sekolah, dan tanpa sengaja Niah mendengar Bunda menyuruh Ayah untuk menikah lagi. Pada saat itu Niah masih belum tahu mengapa Bunda bersikeras menyuruh Ayah menikah," tutur Haniah lagi, masih menceritakan problem dikeluarganya.
Sedangkan Hafidz hanya mendengarkan, cerita istrinya tanpa ingin menyelanya. Yang ia lakukan hanya mengusap-usap kepala Haniah, dan sesekali ia menciumi puncak kepalanya saja.
"Lalu ketika Ayah keluar dari kamar Bunda, Niah pun menghampiri Ayah dan meminta beliau agar tidak menuruti keinginannya Bunda. Dan Ayah menyetujui permintaan Niah, tapi dengan syarat Niah harus mau menikah dengan Mas Hafidz. " jelas Haniah lagi.
Mendengar cerita istrinya membuat Hafidz tersentak. "Eh! Jadi kamu menyetujui pernikahan kita, karena.."
"Iya, karena Niah nggak ingin punya ibu tiri, makanya Niah pun setuju menikah dengan Mas," potong Haniah. Setelah mendengar kebenarannya, wajah Hafidz pun langsung berubah.
"Astaghfirullah, jadi selama aku salah? Aku pikir dulu ia mau menerima pernikahan ini karena dia hanya gadis jelek, gendut dan bodoh saja. Makanya ia mau saja disuruh nikah oleh orang tuanya. Ya Allah ternyata akulah yang bodoh karena, tidak mau cari kebenarannya terlebih dahulu," batin Hafidz, yang terlihat dari wajahnya, ia merasa bersalah.
"Emangnya Bunda sakit apa Niah, sampai-sampai beliau menyuruh Ayah menikah lagi?" tanya Hafidz semakin penasaran.
"Bunda, sakit kanker Rahim Mas, dan alasan itu juga, Niah ingin menjadi Dokter! Tapi, hiks..hiks.. Bunda, malah pergi hiks..sebelum Niah, berkesempatan untuk mengobatinya.. hiks.. hiks.."
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈,...
__ADS_1