
*═══❉্͜͡🧡Mutiara Hikmah.🧡❉্͜͡═══*
Dunia adalah madrasah kita untuk akhirat
...
Dimana hidup di dalamnya adalah BELAJAR
BELAJAR bersyukur walau tidak cukup
BELAJAR ikhlas meski tak rela
BELAJAR taat meski berat
BELAJAR memahami meski tidak sehati
BELAJAR sabar meski terbebani
BELAJAR setia walau tergoda
BELAJAR memberi walau tidak seberapa
BELAJAR mengasihi meski disakiti
BELAJAR tenang meski gelisah
BELAJAR percaya meski susah
BELAJAR ... BELAJAR...dan terus BELAJAR
••••
Jangan hidup dalam kelalaian. Berapa banyak manusia yang masih hidup dalam kelalaian. Padahal kain kafannya sedang ditenun
__ADS_1
__Iman Asy_Safi'i__
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•═══════•❉্᭄͜͡🧡❉্᭄͜͡•═══════•
Semenjak Fahmi, dilimpahkan tanggung jawab yang amat besar. Sikapnya langsung berubah, ia lebih banyak diam. Bahkan Shinta seperti tak terlihat olehnya. Dan tentu saja hal itu membuat Shinta menjadi kesal. Namun ia juga penasaran, mengapa suaminya langsung berubah drastis seperti itu. Padahal kebanyakan orang akan pasti senang, karena mereka tak perlu bersusah payah untuk menjadi kaya. Tetapi berbeda dengan suaminya, yang terlihat ia merasa terbebani.
"Bang? Kamu sebenarnya kenapa sih? Apakah ini karena pemberian Daddy? Iyakan?" tanya Shinta, ketika ia melihat Fahmi sedang melamun di balkon kamar mereka.
"Aah, Shinta? Eh, nggak kok..Saya hanya.." balas Fahmi. Namun perkataannya langsung terpotong oleh Shinta.
"Huh! Bohong! Padahal Shinta tahu kalau Bang Fahmi merasa terbebanikan, dengan semua ini?" potong Shinta terdengar ketus. Fahmi pun menghela nafas beratnya..
"Hufft.. jujur iya Shin. Saya merasa terbebani dengan semua pemberian Daddy" balas Fahmi, sembari ia menunduk wajahnya, dan untuk sesaat ia terdiam, lalu tak berapa lama ia memandang wajah istrinya.
"Memang sih, Harta Adalah Kebaikan yang Besar. Karena, Allah Ta’ala menjadikan harta untuk kepentingan hamba, maka harta adalah nikmat dari Allah. Allah menyebut harta dengan kebaikan yang besar dalam firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 180,
كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِن تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ
Harta juga mendatangkan kebaikan dan nikmat dari Allah. Namun Harta juga akan menjadi ujian yang paling berat. Maksudnya adalah menjadi sebab tegaknya mashlahat bagi kalian. Dia adalah harta Allah yang Allah berikan kepada kita untuk kepentingan kita dan menguji kita
Dalil bahwa harta adalah ujian, seperti yang dikatakan dalam firman Allah di surat at-Taghabun ayat 15,
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ
“Sesungguhnya harta dan anakmu adalah ujian.”
"Bahkan tanggung jawabnya begitu besar Shin. Kamu pernahkan belanja di supermarket?" tanya Fahmi disela penjelasannya.
"Iya, pernah! Emangnya kenapa?" tanya Shinta balik, dengan wajah terlihat bingung akan pertanyaan suaminya.
"Gimana perasaan kamu saat itu, ketika menunggu kasir yang sedang menghitung belanjaan kamu yang kebetulan banyak, hm?" tanya Fahmi lagi, membuat Shinta semakin bingung.
__ADS_1
"Yaa, sebel sih! Apalagi kalau sedang terburu-buru, dan tambah lagi kasirnya leletnya minta ampun, bikin tambah kesal dah!" balas Shinta, apa adanya.
"Nah, begitu juga nanti kita diminta pertanggungjawaban harta yang kita miliki diakhirat nanti Shin. Seperti halnya kita di supermarket, bila banyak belanjaan kita, maka akan lama kita menunggu sampai semua belanjaan dihitung. Dan itu sesuai yang dikatakan dalam hadits Rasulullah ﷺ.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ … عَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَ فِيْمَا أَنْفَقَهُ
“Tidak bergeser kaki seorang hamba pada hari Kiamat sampai ia ditanya tentang empat hal … tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan.” (HR. Tirmidzi no.2417, di-shahih-kan al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 3592)
"Karenanya Aku takut lalai Shin? Aku takut tak mampu menjalankan amanah ini. Karena sifatnya manusia, suka lupa dan lalai, apalagi Aku harus bertanggung jawab sebagai seorang pemimpin. Makanya ini benar-benar membuatku takut Shin," keluh Fahmi, sambil tertunduk diakhir penjelasannya. Nampak sekali ada rasa takut dan sedih diraut wajahnya.
Shinta yang akhirnya tahu penyebab perubahan suaminya. Membuat ia merasa bersalah, karena selama ini ia tak pernah sekalipun berpikir kearah sana. Malahan ia berpikir pasti Fahmi akan senang mendapatkannya. Karena selama ini, ia berpikir setiap pria yang tahu statusnya, akan selalu mengincar hartanya saja. Karena hal itu Shinta jadi benar-benar merasa bersalah.
"Maaf Bang, Shinta nggak pernah berpikir kesana sedikitpun," ucap Shinta, yang kini ia duduk bersimpuh didepan Fahmi yang masih duduk disebuah kursi dengan kepala yang tertunduk. Lalu ia meraih kedua tangan suaminya kemudian ia kecup dengan lembut.
"Maafkan Daddy juga karena telah membuat Abang resah. Tetapi tidak mungkin juga kita menolak apa yang sudah diberikan oleh Daddykan? Karena sudah pasti ia akan kecewakan? Dan Pastinya Abang juga tak inginkan melihat Daddy kecewa bukan? Maka itu kita jalani saja dulu ya? Dan Abang jangan khawatir, in shaa Allah Shinta akan mengingatkan Abang apabila Abang mulai lalai nanti. Jadi Abang maukan kalau kita menjalani Amanah dari Daddy bersama Shinta?" tutur Shinta dengan lembut, sambil menatap wajah Fahmi dengan lekat, dan dengan wajah penuh pengharapan.
Melihat wajah cantik istrinya yang begitu berharap, hati Fahmi pun menjadi luluh. Karena sudah pasti ia tak ingin mengecewakan istri yang kini ia cintai, "Baiklah, kalau itu keinginan kamu, In shaa Allah, Aku akan berusaha semaksimal mungkin menjaga Amanah ini," balasnya, dan itu membuat Shinta begitu senang mendengarnya. Hingga dengan spontan ia langsung memeluk suaminya.
"Terima kasih Bang, muach.. muach.. muach..muaaaach!" ucap Shinta, lalu ia mengecup dahi Fahmi sert kedua pipinya, dan terakhir ia juga mengecup bibir Fahmi sedikit lama. Namun hanya ia tempelkan begitu saja. Membuat mata Fahmi seketika membulat karena ulahnya. Namun dihatinya ia begitu senang, melihat keberanian Shinta. Dan seketika ia jadi ingin menggodanya.
"Apa yang tadi kamu lakukan, Shin?" tanya Fahmi, dengan memasang wajah polosnya. Membuat Shinta kaget mendengarnya, jadi ia berpikir kalau suaminya benar-benar pria yang polos.
"Ciumanlah Bang! Emangnya kamu nggak tahu yaa?"
"Seperti itukah ciuman?" tanya Fahmi lagi, dan masih memasang wajah polosnya.
"Haiiis.. ternyata Suamiku orang yang polos yaa?" gerutu Shinta, sambil menepuk dahinya, "Ya iyalah Bang! Emangnya mau gimana lagi hah?" lanjutnya lagi terlihat mulai kesal, untuk menutupi rasa malunya.
"Oooh.. tapi setahuku ciuman itu seperti ini deh," kata Fahmi, sambil ia memegang kedua pipinya Shinta. Lalu ia langsung meraih bibir Shinta, dan menyesapnya dengan lembut dan sangat lihai. Membuat mata Shinta seketika membulat sempurna, ia begitu terkejut, karena ternyata pemikiran salah, yang mengatakan suaminya orang yang polos.
"Sepertinya aku harus menarik kembali, perkataan Suamiku orang yang polos! Menjadi suami terlihai deh!"
__ADS_1
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
Jangan lupa ya, terus dukung author terus ya guys 🙏 dan jangan lupa juga berikan Author penyemangatnya seperti, Like, Vote, Serta komentarnya oke Syukron 🥰🙏