
*═══❉্͜͡🧡Mutiara Hikmah.🧡❉্͜͡═══*
Percayalah, suatu saat akan datang masa dimana kau menertawakan luka yang pernah menganga.
Bahkan embun air mata yang luruh jelmaan dari pilu akan berubah menjadi senyum penuh haru.
Yakinlah, suatu saat doa-doa yang tak bosan kau langitkan akan berubah menjadi hujan pengabulan. Dan disaat itu, kau akan mengerti mengapa Allah memilihmu sebagai hambanya yang sering di uji. Itu karena Allah memberi segala coba di dunia ini karena ingin mengangkatmu ketempat yang lebih tinggi.
So, percayalah, setiap perih yang meninggalkan rintihan lirih akan sirna oleh kebahagiaan yang Allah sematkan di antara bongkahan kesabaran yang kau simpan di rongga dada.
Lalu apalagi yang membuatmu tidak mensyukuri segala nikmat itu? Maka segeralah ucapkan Alhamdulillah.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•═══════•❉্᭄͜͡🧡❉্᭄͜͡•═══════•
Fahmi terlihat tercengang, saat mobil mewah yang ia tumpangi, kini terparkir di sebuah mansion yang terlihat begitu besar dan mewah. Bahkan besarnya melebihi rumah orang tuanya Hafidz. Akan tetapi Fahmi sepertinya tak menyukainya. Dan itu terlihat jelas raut wajahnya Namun karena ia takut mengecewakan mertua dan Istrinya, akhirnya dengan terpaksa ia pun menerimanya.
"Apakah kita akan tinggal disini?" tanya Fahmi terdengar datar, tanpa melihat Shinta sedikitpun. Karena pusat perhatiannya hanya pada bangunan mewah yang ada di hadapannya.
"Yaah, mau bagaimana mana lagi? Inikan pemberian Daddy, emang Abang mau dikatakan menantu durhaka hm?" jawab Shinta dengan enteng. Mendengar perkataan Shinta, spontan Fahmi menghelakan nafas beratnya.
"Haiiis.. ya sudahlah, walaupun ini bukan kemauanku, tapi Syukuri sajalah, dari pada dibilang menantu durhaka," ujar Fahmi terlihat pasrah.
"Ya sudah ayo kita masuk! Soalnya Aku sudah lelah banget," ajak Shinta, sembari ia merangkul lengan Fahmi.
"Baiklah, sesuai keinginan Anda Nyonya," balas Fahmi, lalu dengan gaya yang elegan, ia pun melangka, bak seorang pangeran yang sedang menggandeng seorang putri. Mereka berjalan menuju pintu masuk Manson tersebut.
__ADS_1
Seperti halnya ketika Fahmi pertama kalinya datang kemansionnya Ravico saat di negara Eropa, yang disambut oleh para bawahannya Ravico. Begitu juga saat ini, di Mansion barunya, ia dan Shinta sedang disambut oleh para ART, mereka yang berjajar tepat di depan pintu masuk mansion tersebut.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya muda," ucap mereka seraya membungkukkan tubuh mereka secara bersamaan.
"Terima kasih, tapi maaf saya tidak suka kalian menyambut kami dengan cara seperti ini! Jadi mulai besok, jangan melakukan ini lagi!" ujar Fahmi terdengar tegas.
"Baik Tuan muda!" balas mereka secara bersamaan, sambil menundukkan wajah mereka.
Setelah mendengar jawaban dari pekerjanya, Fahmi dan Shinta kembali melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam mansion. Sesampainya didalam ternyata mereka telah ditunggu oleh dua orang Pria paruh baya, yang memakai jas hitam, dengan tangan terlihat sedang memegang sebuah file. Ketika kedua Pria tersebut, melihat kedatangan Fahmi dan Shinta. Spontan keduanya langsung bangkit dari duduknya.
"Selamat Sore Tuan dan Nyonya muda, Saya, Marwan, pengecara yang diutus oleh tuan Also," sapa salah satu pria yang mengaku utusan dari Ayahnya Shinta.
"Ada urusan Apa ya? Oh iya silahkan duduk kembali," ujar Fahmi terdengar datar, karena entah mengapa perasaannya, berkata kalau pengacara tersebut membawa sesuatu yang mungkin tidak ia sukai.
"Terima kasih Tuan muda! Kedatangan saya ingin menyerahkan surat kepemilikan perusahaan RA grup, yang sekarang telah diganti namanya FMS grup, Pak. Yang artinya, Anda pemilik resmi perusahaan tersebut. Jadi mulai besok, Anda adalah yang mengelolanya sebagai Presdirnya," jelas Marwan, membuat Fahmi tercengang mendengar.
"Silahkan Tuan muda, Anda harus menanda tangani surat, pengalihan kepemilikannya," ujar Marwan seraya, ia menyodorkan sebuah file pada Fahmi, yang terlihat masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Maaf apakah Anda tidak salah? Karena saya berpikir saya tidak mampu mengelola perusahaan tersebut," balas Fahmi, terdengar merendahkan diri.
"Anda tidak perlu khawatir Tuan muda! Karena Tuan Arthur Abner selaku Asisten Anda akan membantu Anda mengelola perusahaan tersebut," ujar, Marwan, seraya ia memperkenalkan Pria yang sedang duduk di sampingnya. Fahmi tambah terkejut mendengar perkataan sang pengacara, yang menyatakan Pria yang Fahmi yakin dia bukan penduduk negaranya. Karena postur tubuh dan wajahnya yang menunjukkan ia adalah orang luar negeri.
"Selamat sore Tuan Muda, perkenalkan saya Arthur, akan menjadi Asisten Tuan muda," sambung Arthur yang akhirnya buka suara. Membuat Fahmi tercengang.
"Hah? Ternyata bahasa Indonesia kamu Paseh juga ya?" kata Fahmi dengan spontan.
"Iya Tuan muda, karena saya sudah lama tinggal di sini," balas Arthur.
__ADS_1
"Baiklah sekarang kembali ke semula, silahkan Tuan muda tanda tangani file ini," ujar Marwan lagi, dan nampak Fahmi terlihat begitu ragu-ragu. Membuat Shinta yang berada disampingnya seperti paham akan keraguan suaminya.
"Bang Ada apa? Kok diam? Apa Abang masih ingin dibilang menantu durhaka?" kata Shinta yang sepertinya ia sudah mengetahui kelemahan suaminya.
"Ukh... tapi Shin, ini tidak bisa..." balas Fahmi. Namun langsung di potong oleh Shinta.
"Bang? Bukankah menyenangkan orang tua, termasuk berpahala besar? Lalu apakah Abang tidak bisa menyenangkan orang tuaku, hm? Lagian apa Abang tega, membiarkan Daddyku yang tua, itu menjalankan perusahaan yang besar? Bukankah seharusnya dia sudah waktunya beristirahat tanpa memikirkan pekerjaan Bang?"
Mendengar perkataan Shinta, Fahmi sepertu mati kutu, ia tak bisa membantahnya. Karena memang pedomannya yang paling utama adalah menyenangkan serta membahagiakan orang tua. Dan sudah pasti itu termasuk mertuanya. Fahmi menghela nafas beratnya, walaupun itu bukan yang dia mau, tetapi pada akhirnya ia pun menandakan tanganin file tersebut, dengan pasrah. Setelah mendapatkan tanda tangan dari Fahmi kedua pria tersebut langsung pergi.
"Ya sudah ayo ke kamar, Abang lelahkan?" kata Shinta, seraya menarik tangan Fahmi, yang terlihat seperti orang yang tidak bersemangat. Sehingga ia hanya diam saja saat Shinta membawanya ke kamar mereka yang baru. Sesampainya di dalam kamar.
"Abang mau mandi dulu apa mau langsung Istirahat?" tanya Shinta. Namun Fahmi seperti tak mendengar perkataannya. Karena sepertinya ia sedang terhanyut dalam pemikirannya sendiri.
"Bang Fahmi?" panggil Shinta, semabri menyentuh tangannya, membuat Fahmi langsung tersentak.
"Aah! Apa Shin?" sentaknya terlihat terkejut.
"Tadi aku tanya, Abang mau mandi dulu atau mau langsung istirahat saja?" tanya Shinta mengulangi perkatanya.
"Aah, aku mau langsung istirahat saja," kata Fahmi, dan langsung melangkah menuju keranjang mereka. Namun tak langsung berbaring, karena ia memilih duduk di tepi Ranjangnya, dan kembali terlihat melamun. Shinta yang melihatnya, menjadi heran.
"Ada apa dengan Bang Fahmi? Apakah Bang Fahmi tidak menyukai semua yang diberikan Daddy? Mengapa sikapnya langsung berubah?" batin Shinta, setelah melihat berubahnya sikap Fahmi.
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
Jangan lupa ya, terus dukung author terus ya guys 🙏 dan jangan lupa juga berikan Author penyemangatnya seperti, Like, Vote, Serta komentarnya oke Syukron 🥰🙏
__ADS_1