
*═══❉্͜͡🤍Mutiara Hikmah.🤍❉্͜͡═══*
APAPUN KONDISIMU, TETAP YANG MENGUATKANMU ADALAH SHOLAT
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
( وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ {45} الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُوا رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ )
"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Rabb-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya."
(QS. Al-Baqarah: 45-46)
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•═══════•❉্᭄͜͡🤍❉্᭄͜͡•═══════•
Setelah melaksanakan kewajibannya terhadap Rabb-nya, Fahmi nggak langsung berisitirahat. Karena tunjuan ia datang ke negara Eropa ini adalah untuk melamar Shinta. Untuk itu ia tak mau menunda-nundanya lagi. Makanya selesai ia menunaikan ibadahnya. Ia langsung kembali menemui Ayahnya Shinta.
Namun disaat ia telah berada diruang keluarga, tempat ia bertemu ayah Shinta pertama kali, ternyata, sudah ada beberapa orang pria bertubuh besar, sedang mengobrol pada Ravico. Akan tetapi ketika mereka melihat Fahmi datang, semuanya langsung terdiam.
"Kamu! Kenapa kamu kembali lagi? Bukankah Aku menyuruh kamu untuk istirahatkan?" tanya Ravico terlihat kaget saat melihat Fahmi datang menemuinya kembali.
"Maaf pak! Saya tidak bisa beristirahat dengan tenang, sebelum tujuan utama saya datang kesini, belum terlaksanakan!" balas Fahmi, dengan tatapan seriusnya.
__ADS_1
"Tujuan utama? Memangnya apa tujuan utama kamu hm?" tanya Ravico, yang sebenarnya ia sudah tahu tujuan Fahmi. Namun ia sengaja berpura-pura tidak mengetahuinya.
"Bismillah, tujuan saya datang kesini ingin melamar Shinta, untuk menjadi istri saya Pak!" jawab Fahmi, terdengar tegas tanpa ada keraguan, dan tanpa bergetar sedikit pun. Membuat Ravico, sebenarnya kagum padanya. Sehingga rasa ingin mengujinya semakin besar. Karena ia tak ingin memberikan putri satu-satunya pada orang yang salah.
Mendengar perkataan Fahmi dengan seponta para Pria bertubuh besar tersebut langsung tertawa terbahak-bahak, secara bersamaan
"Hahahaha..hahaha!"
Fahmi mengerenyit saat melihat mereka yang sedang tertawa, seakan sedang mengejek dirinya, "Mengapa kalian tertawa? Apakah ada yang lucu pada perkataan saya tadi?" tanyanya, terlihat penasaran.
"Yaa.hahaha.! Sangat lucu sekali! Karena Pria yang biasa-biasa seperti Anda, begitu berani melamar putri seorang Mafia!" ujar salah satu pria bertubuh besar, dengan nada terdengar mengejek Fahmi.
"Heh! Berani sekali kau melamar putri seorang mafia! Apakah kau tidak takut hah?!" sambung salah satu pria yang lainnya.
Mendengar kata-kata dari ketiga pria yang diyakini adalah para teman-teman atau para anak buah Ravico. Fahmi sedikit kaget, mendengar kata "Mafia". Namun itu tidak menggetarkan hatinya, sehingga ia tetap terlihat tenang, tanpa rasa takut sama sekali. Malahan ia tersenyum lembut pada pria yang bertanya siapa dirinya.
"Terima kasih atas pujian dari tuan-tuan! Tapi benar kata Tuan...?" ucap Fahmi seraya memberi isyarat tangannya untuk menanyakan nama pria yang mentertawakannya pertama kali.
"Robert!" sambung Pria yang tadi diberi isyarat oleh Fahmi.
"Iya benar kata Tuan Robert! Saya hanya orang biasa-biasa saja! Tapi yang pasti, sama seperti Anda semua, yang tercipta dari tanah dan darah!" ujar Fahmi, terlihat begitu santainya dan tetap dengan wajah yang tak terlepas dari senyuman lembutnya. "Dan tadi Tuan...?" Lagi-lagi Fahmi, memberikan isyarat, agar Pria yang kedua menyebutkan namanya.
"Marcel!" jawab pria kedua, terdengar ketus.
__ADS_1
"Iyaa, Tuan Marcel tadi bertanya apakah saya takut? Jawabnya... Tidak! Karena apa yang harus ditakutkan? Kalau kenyataannya kita sama! Yang diciptakan oleh Allah, dari tanah! Jadi apa yang harus saya takutkan?"
Mendengar perkataan Fahmi, yang terlihat begitu santai, membuat ketiga pria maupun Ravico, tersentak kaget. Mereka benar-benar tak percaya pada apa yang mereka lihat saat ini.
"Oh iya tadi Tuan...?" Fahmi kembali mengisyaratkan tangannya pada Pria ketiga.
"Jackson!" balas pria ketiga
"Iya tadi Tuan Jackson bertanya, siapa sayakan? Saya hanya Hamba Allah, yang berniat baik, untuk melamar putri Pak Ravico! Kalau Anda bertanya siapa Nama saya, maka saya akan menjawab, Fahmi Amirullah!" ujar Fahmi masih terlihat tenang, dan masih menghiasi wajahnya dengan senyumannya.
Setelah Fahmii mengakhiri perkataannya, suasana langsung hening. Tampak ketiga pria tersebut seperti kehabisan kata-katanya. Mereka hanya berdiam sambil menatap wajah Fahmi dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Namun tiba-tiba Ravico menepukkan tangannya, seraya tersenyum seringai pada Fahmi, lalu ia berkata.
PROK..PROK..PROK..
"Luar biasa! Sepertinya putriku tidak salah memilih! Karena hanya orang yang berani padaku! Itu yang pantas menjadi pendampingnya. Karena sudah pasti dia akan aman dalam penjagaannya!" ujar Ravico, mengejutkan ketiga sahabatnya, yang sebenarnya mereka juga bermaksud menjodohkan Anak-anak mereka, setelah mendengar Shinta kembali ke rumahnya.
"Baiklah kalau begitu, sebelum saya menerima lamaran kamu, Aku ingin bertanya! Apa yang kau berikan pada Putriku? Bukankah seorang yang ingin menikahinya harus memberikan mahar?" tanya Ravico, yang sepertinya ia ingin menguji Fahmi lagi.
"Seperti yang Pak Ravico tahu, saya hanya orang yang biasa-biasa saja. Jadi saya hanya ingin memberikan maharnya seperangkat alat sholat, serta dunia berserta isinya, yaitu Al-Qur'an Nurkarim!" balas Fahmi dengan penuh percaya diri. Sehingga Ravico, terlihat terkejut. Namun tidak bagi ketiga pria sahabatnya Ravico, mereka seperti sedang menahan tawa mengejeknya. Namun langsung dapat pelototan dari Ravico.
"Apa yang kalian tertawakam hah? Apakah kalian tahu makna yang ia katakan?" tanya Ravico, dengan sorotan mata yang terlihat dingin, membuat ketiga pria itu bergidik, sambil menggelengkan kepalanya, tanpa menjawab, karena memang mereka sangat takut pada Ravico.
"Huh! Tidak tahu! Tapi mengejek orang! Asalkan kalian tahu, makna dari ucapannya, itu artinya Dia akan membimbing anakku hingga ke surga!"
__ADS_1
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...