
Seminggu telah berlalu.
Kini Hafidz dan Haniah telah kembali kerumah mereka yang berada di kota JK. Dan semenjak malam itu, sikap Hafidz berubah drastis. Ia semakin perhatian, dan semakin menyayangi Haniah. Bahkan ia sangat memanjakannya.
"Maaas? Niah bukan anak kecil lagi! Niah bisa makan sendiri!" protes Haniah, saat mereka sedang sarapan bersama.
"Hsstt...! Jangan protes cepat buka mulut kamu Sayang," titah Hafidz yang terlihat ia sedang menyodorkan sendok yang telah terisi makanan.
"Huh! Iya! ngaaa," Haniah pun membuka mulutnya, namun terlihat ada keterpaksaan. Dia benar-benar terlihat begitu heran dengan tingkah suaminya.
"Kenapa mukanya seperti itu Sayang? Kamu marah sama Mas ya?" tanya Hafidz sembari ia mendekati wajahnya ke wajah istrinya, membuat Haniah sedikit kaget.
"Iikh, apaan sih Mas?" sentak Haniah, sambil ia mendorong wajah suaminya dengan spontan.
"Mas, mau mau mastikan wajah kamu, marah atau tidak, Sayang,"
"Niah, nggak marah Mas, Niah cuma heran aja. Kenapa Niah merasa, Mas memperlakukan Niah tuh, seperti ketika Niah berusia lima tahun sih?" tanya Haniah, yang terlihat penasaran.
"Emangnya nggak boleh ya?"
"Ya aneh aja Mas, Niahkan udah besar! Udah jadi istri Mas loh," kata Haniah sambil ia melipatkan kedua tangannya di bawah dadanya.
"Nah, itu dia Sayang, karena kamu istrinya Mas, makanya Mas berlaku seperti ini."
"Iya tapi.."
__ADS_1
"Sssth... sudah, menikmati saja Sayang," potong Hafidz, masih menyuapi istrinya.
"Yaa Niahkan penasaran Mas, kenapa sikap Mas seperti ini," gerutu Haniah, sambil memanyunkan bibirnya.
Melihat Haniah memanyunkan bibirnya, membuat Hafidz gemas melihatnya. Sehingga ia langsung mencaplok bibir itu, saking gemasnya. Membuat mata Haniah langsung membulat sempurna.
"Uhmm!" Haniah seperti sedang protes, karena Hafidz menyerangnya secara tiba-tiba.
"Mau protes? Siapa suruh, bibir kamu menggoda Mas, hm?" kata Hafidz, setelah ia melepaskan tautannya.
"Iikh..! Siapa juga yang menggoda Mas coba? Orang Niah lagi kesal pun!" jawab Haniah, yang tanpa sadar bibirnya kembali manyun.
"Tuh, lihat aja tuh, bibir kamu digituin lagi. Apa mau Mas cium lagi hm?" kata Hafidz, yang terlihat ia kembali mendekati wajahnya ke Haniah lagi.
"Aih, nggak! Nggak!" balas Haniah langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Melihat itu Hafidz langsung tertawa.
"Iss, bukan takut Mas, tapi malu tau! Kalau dilihat Mbok Ratmi gimana? Kan malu Mas!" jelas Haniah, yang sepertinya ia takut suaminya salah paham padanya.
"Iya iya, Mas tahu kok Sayang. Ya sudah sekarang cepat habiskan makannya, tinggal sedikit lagi nih," ucap Hafidz, yang kembali menyuapi Haniah.
"Kenapa, wajahnya masih kesal begitu Sayang? Apa masih penasaran, kenapa Mas begini, iya?" tanya Hafidz, saat melihat wajah Haniah, yang terlihat masih terlihat cemberut.
"Hu'um!"
"Sayang? Kenapa Mas, berlaku seperti ini, itu karena Mas, ingin menebus kesalahan Mas, karena telah mengabaikan kamu. Dari semenjak kita menikah Mas, nggak pernah memperhatikan kamu dan itu berlangsung selama sembilan tahun. Makanya sekarang ingin membayar itu semua Sayang. Jadi kamu jangan protes lagi ya?" jelas Hafidz, dengan wajah terlihat penuh penyesalan.
__ADS_1
Mendengar penjelasan dari suaminya Haniah langsung memeluk tubuh Hafidz, "Mas, Niah, sudah mengikhlaskan itu semuanya kok, jadi Mas, tidak harus berlaku seperti ini," katanya didalam pelukan sang suami.
"Iya Sayang, Mas tahu kok, tapi ini sudah menjadi tekad Mas, yang ingin memberikan kebahagiaan untuk kamu Sayang. Jadi please, biarkan Mas memanjakan kamu semampunya Emas oke!" ujar Hafidz, yang kemudian ia memberikan kecupan lembut pada puncak kepalanya Haniah, yang masih berada dipeluknya.
Karena tak ingin mengecewakan, keinginan suaminya, akhirnya Haniah pun mengangguk pasrah. Tanpa ingin membalas dengan kata-katanya.
"Ya sudah, kita berangkat yuk, nanti kamu terlambat lagi ke kampus. Mas, soalnya juga ada rapat pagi nih dikantor," ujar Hafidz, sambil melepaskan pelukannya, lalu ia pun bangkit dari duduknya.
"Baiklah Mas," Haniah pun ikut bangkit, lalu keduanya pun melangkah pergi, meninggalkan ruang makan. Dan di sepanjang jalan menuju ke mobil, Hafidz selalu merangkul pundak istrinya, seakan ia tak ingin berjauhan dari Sang istri.
"Masuklah Sayang," titah Hafidz, setelah mereka sampai di mobil. Lalu ia membuka pintu mobil bagian depannya.
"Loh, kok didepan Mas?" tanya Haniah heran.
"Iya Sayang, karena hari ini Fahmi, ada keperluan, jadi Mas yang akan menyetirkan mobilnya sayang," jelas Hafidz.
"Ooh," kata Haniah, dan ia pun langsung masuk ke mobil. Dan setelah Haniah masuk, Hafidz pun ikut masuk dan duduk dibelakang setirnya. Dan tak berapa lama, mobil pun mulai melaju dengan kecepatan sedang, menuju ke kampusnya Haniah terlebih dahulu.
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
Dear Readers.♥️
Author mau mengucapkan ribuan terima kasih. Untuk Doa serta dukungan dari kalian semua. Semoga doa yang kalian berikan pada Author diijabah oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Aamiin, dan doa yang baik akan kembali pada orang yang mendoakannya.
Sekali lagi Terima kasih ya Guys 🙏🥰.
__ADS_1
Semoga kalian semua dilimpahkan, keberkahan Rezeki, serta kebahagiaan di dunia maupun di akhirat Aamiin 🤲🥰