TERJERAT NIKAH GANTUNG

TERJERAT NIKAH GANTUNG
MENDAPATKAN IZIN.


__ADS_3

*═══❉্͜͡🤍Mutiara Hikmah.🤍❉্͜͡═══*


Kebahagiaan itu berasal dari hati dan pikiran kita


Oleh karena itu jangan mudah terpengaruh situasi atau keadaan yang hanya bersifat sementara.


Semakin Besar Sabarmu, Semakin Besar Pula Kebahagiaan Yg Allah Akan Siapkan Untukmu. Semoga Esok Allah Kabulkan Doa-doamu.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•═══════•❉্᭄͜͡🤍❉্᭄͜͡•═══════•


Setelah melakukan malam yang panas, nampak keduanya terlihat kelelahan. Namun ada kepuasan yang membuat keduanya terlihat bahagia. Itu terpancar jelas dari wajah keduanya yang masih saling berpandangan. Lalu Hafidz memberikan kecupan lembut pada dahinya Haniah, setelah itu ia juga menghapus sisa keringat pada dahinya itu.


"Terima kasih Sayang, kamu selalu membuat Mas, bahagia," ucap Hafidz, dan kembali mengecup dahi istrinya.


Haniah tersenyum lembut, sambil ia juga menghapus keringat yang masih membasahi wajah suaminya, "Sama-sama Mas," balasnya dengan lembut, dan saat bersamaan perut Hafidz berbunyi, membuat Haniah suasana tiba-tiba hening, namun tak berapa lama Haniah pun tertawa.


"Hihihi..kenapa wajah Mas, begitu? Laper yaa?"


"Hu'um, inikan gara-gara kamu ngambek, jadi Mas tadi nggak jadi makan Niah," keluh Hafidz terdengar manja.


"Maaf ya Mas? Ya sudah mau Niah, ambilkan makan Mas kesini ya, atau Mas mau makan diruang makan aja?" tanya Haniah sedikit merasa bersalah.

__ADS_1


"Di ruang makan saja deh, kalau disini nanti kamu mondar mandir naik turun tanggakan? Jadi lebih baik makan disana aja oke," balas Hafidz dengan lembut.


"Ya sudah, kalau begitu kita berwudhu dulu yuk Mas, Kitakan lagi dalam keadaan junub," ajak Haniah, sambil meraih tangan Hafidz.


"Eh, apakah itu wajib Niah?" tanya Hafidz, yang sepertinya ia enggan kekamar mandi.


"Mas, berwudhu ketika hendak tidur, atau melakukan hal lain setelah melakukan hubungan badan, hukumnya sunah muakkad (sunah yang ditekankan). Dan itu di jelaskan didalam berapa Hadits.


Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak makan atau tidur, sementara beliau sedang junub, maka beliau mencuci farji-nya dan berwudhu sebagaimana wudhu ketika shalat. (HR. Bukhari dan Muslim)


Sedangkan didalam Hadits, Riwayat dari Ibnu Umar, bahwa Umar bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, apakah seseorang boleh tidur dalam keadaan junub?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya, boleh, apabila dia berwudhu.” Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya boleh, dan dia berwudhu dahulu jika mau.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Abu ‘Awanah)


Dalam Hadits lainnya, dari Ammar bin Yasir radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


“Ada tiga hal yang tidak didekati malaikat: bangkai orang kafir, laki-laki yang melumuri dirinya dengan parfum wanita, dan orang junub sampai dia berwudhu.” (HR. Abu Daud; dinilai sahih oleh Al-Albani)


"Terima kasih sayang, kamu memang yang terbaik," ucap Hafidz, kembali ia mengecup lembut dahi istrinya, "Ya sudah ayo kita berwudhu" ajaknya, sambil ia menggandeng tangan istrinya.


Setelah keduanya berwudhu, Hafizh dan Haniah pun, langsung pergi ke ruang makan. Sebelum mereka makan, Haniah terlebih dahulu memanaskan makanannya. Setelah selesai keduanya pun makan bersama, disela mereka makan Haniah pun buka suara.


"Mas, besok Niah boleh nggak ke kota JB? Soalnya Niah diundang para warga sana Mas, sebagai ucapan terima kasih, karena kami pernah mengabdi sebulan disana," ujar Haniah, menceritakan perihal undangan yang diberikan Adam, kemarin.


"Hmm.. Emangnya siapa saja yang diundang?" tanya Hafidz, sambil menyantap makanannya.

__ADS_1


"Yaakan waktu magang disanakan tiga orang, Mas, ya berarti kami bertiga yang diundang para warga sana, Ma," jelas Haniah, terlihat berhati-hati sekali.


"Siapa saja?" tanya Hafidz datar. Karena sepertinya ia tahu siapa-siapa saja teman Haniah yang ikut magang di kota JB.


"Niah, Shinta dan Adam Mas," balas Haniah apa adanya.


"Huh! Apakah laki-laki itu akan pergi juga?" Hafidz kembali bertanya, namun bukan hanya datar suaranya, tapi wajahnya juga sudah berubah dingin.


Melihat mimik wajah suaminya berubah, membuat Haniah, enggan membalas pertanyaan Hafidz, ia lebih memilih menikmati makanannya saja. Karena ia tahu, kalau suaminya sedang cemburu. Melihat Haniah, tak membalas pertanyaannya, Hafidz mengerutkan keningnya.


"Kenapa diam hm? Apakah itu artinya Dia pergi jugakan?" desak Hafidz, yang terlihat ia menghentikan makannya.


"Maaf Mas, Niah nggak tahu, emang sih kami satu tim. Tapi masa iya sih, Niah tanya -tanya dia mau datang apa nggak, Mas" balas Haniah, apa adanya. "Tapi ngomong-ngomong, Mas ngizinin Niah, apa nggak? Kalau enggak besok Niah tinggal bilang sama Shinta aja," lanjutnya lagi.


"Huh! Kalau teringat cowok itu ikut! Mas nggak ngizinin sih! Tapi Mas nggak mau egois juga, sama Warga disana. Walau bagaimanapun mereka pasti berharap kamu datang, iyakan?" ujar Hafidz, terlihat delema.


"Yaa, Niah sih tergantung Mas aja. Tapi emangnya Mas, nggak teringat ya, saat Mas kecelakaan disana? Kan yang nolongin juga warga sanakan?" balas Haniah, mengingatkan Hafidz, kala ia nyawanya hampir saja terenggut akibat kecelakaan saat ia disana.


"Astaghfirullah! Iya juga, maaf Mas lupa Niah. Ya sudah kalau begitu, Mas Izinkan kamu, tapi kamu harus dikawal sama Fahmi!" Pada awalnya Haniah, sangat senang saat ia mendapatkan kata Izin dari Hafidz, namun saat mendengar kalimat terakhirnya, Haniah langsung tersentak.


Eh! Kok dikawal Mas? Emangnya Niah anak kecil apa?" protes Haniah.


"Ya sudah kalau nggak mau, maka Mas nggak.." kata Hafidz namun langsung di potong oleh Haniah.

__ADS_1


"Iya iya! Niah mau!"


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


__ADS_2