TERJERAT NIKAH GANTUNG

TERJERAT NIKAH GANTUNG
KEHAMILAN HANIAH.


__ADS_3

*═══❉্͜͡🤍Mutiara Hikmah.🤍❉্͜͡═══*


Terkadang Allah tidak memberi segala yang kamu inginkan bukan berarti kamu tidak berhak mendapatkannya. Akan tetapi karna kamu berhak mendapatkan yang lebih baik.


Tetaplah kuat meski kita sendiri terlalu lelah untuk menghadapi segalanya. Biarkan mereka dengan penilaian mereka. Hiduplah cara kita dan jadilah diri sendiri.


Sebab, keputusan yang perlu di ambil adalah diri kita sendiri. Bukannya orang lain!


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•═══════•❉্᭄͜͡🤍❉্᭄͜͡•═══════•


Suara tembakan yang begitu keras, membuat semua mata langsung, mengarah kesumber suara keras tersebut. Dan terlihatlah Steven yang sedang mengacungkan pistol mengarah ke Haniah. Dan karena Haniah juga tak mengeluarkan suaranya sedikitpun. Membuat Hafidz tak menyadari kalau saat ini peluru Steven tekah menancap punggungnya, di bagian atas. Hafidz tersadar saat darah Haniah mulai mengalir ditangannya yang kebetulan mereka memang lagi berpelukan.


"Darah!" sentak Hafidz, sembari ia memandang tangannya yang sudah berlumuran darah itu. Dan dengan spontan ia melihat punggung Haniah.


"Sayang kamu tertembak?!" tanya Hafidz mulai panik Dan disaat bersamaan, tubuh Haniah yang masih berada didalam pelukan Hafidz, langsung merosot kebawah. Untung saja Hafidz cepat menangkapnya dan langsung menggendong tubuh istrinya tersebut. Seketika itu juga tawa Steven pecah, tawa yang menandakan bahwa dirinya merasa menang, dan puas melihat wajah Hafidz yang terlihat panik dan sedih.


"Hahahaha... Hahahaha.. akhirnya gue bisa membalaskan dendam buat kekasih gue! Hahaha Rasakanlah itu Atha! Gue puas sekarang! Karena akhirnya bini Lo akan segera menemani Shasa gue! Hahahaha..!" Steven sudah seperti kehilangan akalnya, ia berteriak-teriak, disertai tertawa terbahak-bahak.


Namun tak dihiraukan oleh Hafidz, karena Hafidz lebih mementingkan keselamatan istrinya. Karena rasa takut yang amat sangat, ia langsung membawa Haniah dengan speed boatnya. Diikuti oleh Fahmi dan Shinta. Membiarkan masalah Steven dan yang lain pada petugas KPLP.


Setibanya mereka di dermaga, ternyata mobil ambulance sudah berada disana. Sehingga Haniah, langsung ditangani oleh para dokter yang ikut didalam mobil ambulance tersebut. Dan tiga puluh menit kemudian, mobil ambulance pun telah sampai di depan rumah sakit terdekat. Para suster juga langsung membawa Haniah, keruangan operasi, untuk pengangkatan peluru yang masih terserang dipunggung Haniah.

__ADS_1


Sedangkan Hafidz terlihat begitu gelisah. Sehingga disepanjang jalannya operasi berlangsung, ia hanya mondar mandir, didepan pintu ruangan operasi. Membuat Shinta yang juga sedang berada disana menjadi pusing melihatnya.


"Bang! Bisa nggak sih, nggak mondar mandir? Kepala saya jadi pusing melihatnya tau!" tergur Shinta yang terlihat berani tanpa, segan sedikitpun pada Hafidz. Membuat Hafidz maupun Fahmi yang mendengarnya kaget.


"Eh, kalau pusing sebaiknya kamu pulang saja sana! Fahmi bawa tuh calon bini Lo!" kata Hafidz. Dan dengan spontan mata Fahmi maupun Shinta membulat saat mendengar perkataan Hafidz. Dan bahkan Fahmi jadi tidak enak hati pada Shinta, karena ia takut Shinta tersinggung.


"Apa? Abang ngomong apa tadi?" tanya Shinta dengan nada sedikit keras, sehingga Fahmi berpikir, Shinta marah karena habis mendengar perkataan ngasal Hafidz tadi.


"Maaf Nona Shinta! Jangan marah, tadi Pak Hafidz, hanya bercanda kok, dia tidak bermaksud serius," jelas Fahmi, secara berhati-hati sekali, agar Shinta tidak tersinggung.


"Siapa yang marah Bang? Saya justru senang banget, karena itu artinya, Bang Hafidz merestui kita," balas Shinta, seraya menundukkan wajahnya, terlihat jelas ia sedang tersipu malu.


Mendengar ucapan Shinta, Fahmi langsung menatap Hafidz. Ia seperti meminta bantuan dari Hafidz, karena nampaknya Fahmi tidak menyukai Shinta. Namun karena saat ini Hafidz sedang kepikiran pada istrinya, ia pun tak ingin terlibat, dengan urusan mereka.


"Jangan libatkan Aku! Itu masalah Antum! Jadi uruslah sendiri!" pungkas Hafidz, lalu ia pun meninggalkan Fahmi dan Shinta, yang terlihat keduanya sedang duduk di kursi tunggu yang berada di koridor rumah sakit.


"Hmm.. sepertinya aku memang terlahir untuk tidak disukai oleh laki-laki. Dulu Adam dan sekarang Fahmi. Yaa sudahlah mungkin jodohku bukan dipelanet ini kali! Jadi jangan pernah berharap lagi deh," batin Shinta, yang, sambil ia berjalan menulusuri koridor rumah Sakit. Sebenarnya ia begitu sedih, tapi karena sifatnya yang selalu ceria, jadi tidak akan ada yang tahu, kalau ia sedang bersedih.


...******...


Sementara disisi lain.


Hafidz yang tadi pergi kini telah kembali, ia sedikit heran, karena melihat Fahmi hanya seorang diri.

__ADS_1


"Loh, Shinta mana? Kenapa nggak sama kamu?" tanya Hafidz terlihat penasaran.


"Nggak tahu Pak! Tadi setelah Pak Hafidz pergi, dia pun pergi tanpa pamit," kata Fahmi berkata apa adanya.


"Pergi? Hmm.. nampaknya dia kecewa tuh sama kamu, kalau dilihat dari caranya memandang kamu, dan dari sikapnya dia kayaknya suka sama Kamu deh," jelas Hafidz, menerangkan dari sudut pandangnya. Namun karena Fahmi, tak miliki perasaan apapun, ia pun enggan, menanggapi perkataan Hafidz. Dan untungnya saat bersamaan Dokter yang menangani Haniah, keluar dari ruangan operasi, membuat ia tak harus menjawab perkataan Hafidz.


Karena sudah pasti Hafidz langsung menghampiri Dokter tersebut. Dan benar saja, karena ia masih dirundung rasa cemas. Seketika itu juga ia langsung bertanya pada sang dokter,


"Gimana hasil operasinya Dok ?" tanyanya, tanpa berbasa-basi sedikit pun.


"Alhamdulillah, berhasil pak! Dan kami juga sudah mengeluarkan pelurunya," balas sang Dokter.


"Lalu bagaimana dengan kondisi Istri saya Dok?" tanya Hafidz lagi.


"Sekarang kondisi istri Anda sudah mulai stabil Pak!"


"Alhamdulillah, kalau begitu kapan ,kira-kira saya bisa membawanya pulang ke kota JK Dok?"


"Saya, tidak bisa memastikannya Pak, karena istri Anda juga sedang hamil, jadi kami juga harus berhati-hati dalam pemberian obat, terhadapnya Pak," jelas Sang Dokter.


Mendengar kata Hamil Hafidz tersentak. Bahkan ia seperti tak percaya, pada pendengarannya.


"Apa Dok? Istri saya Hamil?" tanyanya lagi terlihat penasaran. Karena ia ingin memastikan kehamilan Haniah.

__ADS_1


"Iya Pak! Istri Anda Hamil!"


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


__ADS_2