
*┈━◎❀❦🦋 Mutiara Hikmah🦋❦❀◎━┈*
"Tidak semua dapat dimengerti
Tidak semua dapat dipahami maka itulah kita harus belajar. Dan sebaik-baiknya seorang manusia dia yang pandai berucap syukur dan memberi maaf
Dan sehebat-hebatnya manusia adalah dia yang mengakui kesalahan dan meminta maaf
Meminta maaf bukan merendahkan diri
Tapi wujud dari rasa kerendahan hati
Setiap manusia pernah salah
Setiap manusia pernah khilaf
Dan sebaik-baiknya manusia adalah dia yang mengingatkan dan mau sama-sama belajar memahami."
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*┈┈┈┈━◎❅❀❦ 🦋 ❦❀❅◎━┈┈┈┈*
"Eeiit! Enak saja mau pergi! Kamu melepaskan tanggung jawab kamu hm?" ujar Fahmi, seraya ia menarik tangan Shinta. Dan otomatis langkah Shinta langsung terhenti.
" Tanggung jawab? Apa maksud Anda hah?" tanya Shinta, terdengar ketus. Dan disaat Fahmi hendak menjawab, tiba-tiba perut Shinta berbunyi, tanda ia sedang lapar, "Haiis! Bikin malu aja nih perut! Kenapa disaat seperti ini sih? Ini gara-gara tasku yang nggak tahu jatiuh dimana! Hah bikin kesal aja! Mana perut lapar banget lagi!" batin Shinta, seraya ia menyembunyikan rasa malu diwajahnya.
Sedangkan Fahmi, terlihat menahan senyumnya, saat ia mendengar suara yang berasal dari perut Shinta, "Kamu lapar? Kalau begitu kita makan dulu," katanya, sembari ia menarik tangan Shinta. Dan otomatis Shinta pun mengikuti langkahnya. Sampai mereka menemukan sebuah restoran, yang terlihat sederhana dan mereka pun memasuki restoran tersebut. Setelah mereka duduk, seorang pelayan wanita pun menghampiri mereka.
"Selamat siang Tuan, Nona, silahkan dilihat dulu menunya," ujar pelayan tersebut, seraya ia menyodorkan sebuah buku menu pada Fahmi dan Shinta. Setelah itu ia pun mundur satu langkah. Namun tatapannya tak lepas dari Fahmi.
__ADS_1
"Kamu mau makan apa Shin?" tanya Fahmi terdengar lembut.
"Terserah Anda saja!" balas Shinta dengan singkat, dengan mata yang terlihat, sedang memperhatikan pelayan tersebut.
Sesuai keinginan Shinta, akhirnya Fahmi pun memesan makanan sesuai seleranya. Setelah menu yang dipesan, telah ditulis. Sang pelayan pun beranjak dari sana, dengan gaya terlihat centil dimana Shinta. Sehingga tanpa sadar ia pun mencela pelayan tersebut.
"Cih! Dasar perempuan ganjen! Nggak punya malu banget sih jadi orang!" geremengnya, dengan tatapan masih mengarah ke pelayan tersebut.
"Ada apa Shin? Kamu geremengin apa?" tanya Fahmi, yang ternyata ia mendengar gerutuannya Shinta. Namun tak begitu jelas.
"Nggak ada apa-apa!" balas Shinta ketus, sambil membawa wajahnya, ia sebenarnya tahu kalau saat ini Fahmi sedang memperhatikan dirinya.
Yaa memang, kalau saat ini Fahmi sedang menatap Shinta saja. Tanpa ingin bicara apapun, membuat suasana menjadi hening dan canggung. Disaat seperti itu tiba-tiba Shinta teringat perkataan Fahmi, sebelum mereka masuk ke restoran tersebut.
"Oh iya, tadi apa maksudnya sih? Tanggung jawab apa, yang Anda katakan tadi?" tanyanya terlihat sekali ia begitu penasaran.
Namun belum lagi Fahmi menjawabnya, pelayan wanita tadi, kembali datang, dengan membawa makanan yang di pesan Fahmi tadi. Dan hendak menyajikannya di meja mereka. Dan lagi-lagi Shinta memperhatikan pelayan wanita tersebut. Yang ternyata penampilannya sedikit berubah.
"Huh! Menjijikkan! Dasar perempuan murahan!" cela Shinta, seraya ia bangkit dari duduknya, lalu ia mendekati Fahmi. Dan tanpa memberi aba-aba, ia langsung menutup matanya Fahmi dengan tangannya.
"Eh! Kenapa kamu menutup mataku, Shin?" sentak Fahmi, yang sebenarnya ia hanya berpura-pura terkejut. Dan sebenarnya juga ia tahu, akan tingkah laku pelayan tersebut, yang sepertinya Ingin, membuat dirinya terpikat olehnya.
"Diamlah! Ada racun dunia disini!" balas Shinta terdengar ketus. Membuat Fahmi tersenyum senang karena ia berpikir kalau Shinta, sedang cemburu. Maka ia pun akhirnya membiarkan Shinta tatap menutup matanya. Hingga pelayan tersebut pergi dalam keadaan kesal.
"Sudah hilang racunnya?" tanya Fahmi setelah matanya kembali dibuka oleh Shinta.
"Hmm!" balas Shinta, seraya ia kembali duduk dikursinya. Namun wajahnya masih terlihat jutek pada Fahmi.
"Ya sudah, kalau begitu sekarang makanlah, kamu lapar bangetkan?" ujar Fahmi, yang terlihat masih memandang wajah Shinta yang cantik.
__ADS_1
Sedangkan Shinta tanpa basa-basi lagi, ia langsung melahap makanannya. Karena mungkin ia sudah sangat kelaparan, ia pun memakan, makanannya sedikit tergesa-gesa. Sehingga membuat ia akhirnya tersedak.
"Makanlah Pelan-pelan Shin, tidak akan ada yang memintanya," ujar Fahmi, sembari ia memberikan gelas berisi air putih pada Shinta. Dan langsung disambut oleh Shinta.
"Terima kasih!" ucapnya dan ia pun langsung meneguk air minumnya. Setelah itu ia kembali memakan makanannya. Sedangkan Fahmi hanya, memperhatikan Shinta saja, sambil sesekali ia meneguk minumannya. Dan ternyata Shinta menyadari akan perhatian Fahmi, lalu ia melirik makanan yang berada dihadapan Fahmi tanpa disentuh sedikitpun.
"Kenapa Anda tidak makan? Apa Anda tidak lapar?" tanya Shinta, dengan tatapan mengarah ke makanan Fahmi.
"Tidak, saya menjadi kenyang hanya karena melihat kamu makan," kata Fahmi ngasal.
"Cih lebay!" gumam Shinta, namun masih terdengar oleh Fahmi, dan ia hanya tersenyum tipis, seraya matanya masih melihat mata Shinta yang terlihat masih melirik makanannya.
"Apakah kamu menginginkannya? Makanlah," kata Fahmi sembari meletakkan makanan miliknya kehadapan Shinta. Membuat mata Shinta berbinar saat makanan yang ia lirik kini berada di hadapannya. Namun karena gengsi ia kembali sok jaim lagi.
"Baiklah dari pada mubazir!" katanya dengan gaya ja'im, lalu tanpa memperdulikan tatapan mata Fahmi yang sejak tadi menatapnya. Ia pun kembali melahap makanan Fahmi hingga habis bersih. Membuat Fahmi lagi-lagi berusaha menahan senyumnya.
"Sudah kenyangkah? Atau masih kurang lagi? Biar aku pesan lagi kalau kamu mau?" tanya Fahmi, setelah melihat piring Shinta telah bersih.
"Tidak perlu! Saya sudah kenyang!" balas Shinta, masih jaim.
"Syukurlah kalau begitu. Baiklah sekarang kita lanjutkan pembicaraan kita tadi," kata Fahmi, masih menatap Shinta.
"Aah..iya! Apa maksudnya tadi tentang saya harus bertanggung jawab?" tanya Shinta, yang ternyata ia masih penasaran.
"Iyaa Kamu memang harus bertanggung jawab terhadap saya. Karena kamu sudah mengatakan saya sebagai suami kamu dihadapan orang lain. Ditambah lagi kamu sudah menyentuh saya! Jadi saya harus meminta pertanggung jawaban dari kamu. Dan itu artinya kamu harus menikah dengan saya," jelas Fahmi dengan santai. Membuat mata Shinta seketika membulat sempurna.
"Hah? Menikahi karena dipegang?" tanya Shinta merasa Aneh.
"Iya! Karena Rabb saya melarang, laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya saling bersentuhan. Untuk itu kamu harus bertanggung jawab terhadap saya! Jadi menikahlah denganku!"
__ADS_1
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...