
"Iya dong Mah, Papa senang, karena musibahnya membawa berkah Mah," ujar Darmawan, terlihat senang.
Mendengar perkataan suaminya, Rizka kembali mengerutkan keningnya. "Musibah membawa berkah?Apa maksudnya Papa sih?!" tanyanya terdengar ketus.
"Mah, kamu tidak ingat, ya? Perjuangan kita untuk memperbaiki rumah tangga anak kita. Bahkan kita sudah melakukan berbagai cara, namun nyatanya, mereka hampir berceraikan? Tapi, sekarang setelah Atha mengalami musibah, mereka malah kembali bersatu lagi, masa Mama tidak paham sih?"
Mendengar penjelasan dari suaminya Riska langsung terdiam. Karena sudah pasti apa yang dikatakan oleh suaminya benar adanya. Hanya saja ia seperti tidak mau mengakuinya.
"Tapi tetap sajakan, anak kita hampir saja mati Pah!"
"Mah, semua sudah direncanakan Allah, karena semua yang terjadi atas kehendak-Nya. Jadi apapun yang sudah menjadi kehendak-Nya mau kesenangan mau musibah kita tetap harus bersyukur Mah," jelas Darmawan memberi pengertian pada istrinya.
"Tapi mengapa Kita Harus Bersyukur melihat anak kita seperti itu Pah?"
"Karena ada janji Allah Mah. Terkadang dalam hidup kita kerap mengeluh dan jarang bersyukur. Misalnya saat hujan kita mengeluh menjadi tidak bisa melakukan sesuatu. Sehingga saat hujan kita pasti menginginkan matahari bersinar cerah. Namun saat matahari muncul kita mengeluh gerah, panas dan pasti ingin turun hujankan Mah?" tutur Darmawan, sembari ia membimbing istrinya menuju ke kursi yang ada di koridor rumah sakit.
"Begitulah manusia. Seolah anugerah Allah tidak bermanfaaat. Kita berpikir bisa mengatur semua.
Saat sedang senang, kita bersyukur pada Allah. Namun saat susah, kita menganggap sebagai ujian. Kita pasti tidak berpikir bahwa kesenangan yang diberikan Allah juga merupakan ujian, iyakan?" lanjut Darmawan lagi, namun Riska tidak memberikan responnya.
"Mah, kesenangan, kesusahan, kegembiraan, dan kesedihan pada hakikatnya adalah ujian bagi orang yang beriman. Bila diberi kesenangan bukan berarti Allah sedang sayang kita. Sebaliknya, saat kesusahan bukan berarti Allah murka kepada kita.
Lalu mengapa kita harus bersyukur? Bersyukur adalah berterima kasih. Apakah perintah Allah untuk bersyukur berarti Allah mengharapkan rasa teriam kasih? Jawabannya tentu tidak. Allah tidak memerlukan ucapan terima kasih kita. Dia tidak membutuhkan apa pun dari hamba-Nya.
Tanpa rasa terima kasih dari kita pun Allah tetap Maha Agung. Tapi asal Mama tahu kalau kita bersyukur kepada Allah tujuannya agar nikmat-nikmat dari Allah terus ditambah.
__ADS_1
Hal ini sesuai janji Allah SWT dalam Surat Ibrahim ayat 7:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat." (QS Ibrahim ayat 7).
"Mah, Nikmat-Nya yang telah diberikan kepada kita sudah terhitung banyaknya. Namun Allah berjanji akan menambah nikmat-Nya lagi jika kita bersyukur.
Bersyukur merupakan berterima kasih atas segala yang telah diberikan, yang sedang diberikan dan yang akan diberikan oleh Allah kepada kita. Semua yang telah diberikan Allah kepada kita, patut disyukuri baik berupa rezeki atau nikmat-nikmat lainnya.
Allah menurunkan kenikmatan dan Allah menurunkan pula aturan-Nya. Tujuannya agar kita dapat menikmati secara lebih optimal atas nikmat tersebut. Syukuri satu hal saja maka akan datang syukur-syukur lain yang tidak terhitung jumlahnya" jelas Rizwan panjang lebar. Namun istrinya, masih belum juga menanggapinya.
"Apakah Mama sudah pahamkan, mengapa Kita Harus Bersyukur?" tanya Darmawan dengan lembut. Dan kali ini Riska menanggapinya. Walaupun hanya dengan anggukan kepalanya saja
"Iya Pah, in shaa Allah," balas Riska yang terlihat sudah mulai ikhlas.
"Ya sudah ayo sekarang kita masuk, kasihan Hani sendirian didalam Mah," ujar Darmawan seraya ia bangkit sambil menarik tangan istrinya.
"Baiklah Pah, Ayoo," balas Rizka sembari ia ikut bangkit dari duduknya, lalu keduanya pun kembali memasuki ruangan Atha.
"Assalamu'alaikum," ucap keduanya setelah mereka membuka pintu ruangannya.
"Wa'alaikumus salam Pah Mah," balas Haniah seraya ia menoleh kearah pintu.
"Alhamdulillah, kamu sudah sadar Nak?" ujar Darma saat ia melihat Atha, yang ternyata sudah membuka matanya.
__ADS_1
"Alhamdulillah sudah Pah, baru saja Bang Hafizh tersadar. Maaf ya Pah, Hani yang jawab, soalnya Bang Hafiz masih lemah banget," kata Hani, yang membalas pertanyaan Darmawan, menggantikan suaminya.
"Nggak papa Nak, Papa paham kok, bagi Papa melihat suami kamu sudah sadar seperti ini, juga sudah lega banget Nak," balas Darma sembari ia tersenyum lembut pada Haniah.
"Ya sudah Papa sama Mama pergi dulu mencari makanan untuk kamu, pasti kamu belum makankan?" tanya Darmawan lagi pada Haniah.
"Eh, kok Papa selalu tahu sih?" sentak Haniah, ia begitu kaget karena Ayah mertuanya selalu saja tahu. Dan memang benar, dari hari Atha kecelakaan Hani belum mengisi perutnya sama sekali.
"Ya tahulah, Papa gitu loh," balas Darmawan sambil mengedipkan sebelah matanya, terlihat sedikit bercanda.
"Eh, Papah! Genit deh," balas Haniah sedikit malu.
"Hahahaha, Papa hanya becanda Nak. Ya sudah karena bubur suami kamu sudah datang, sebaiknya kamu menyuapi suami kamu dulu, selagi menunggu Papa dan Mama kembali membeli makanan kamu ya Nak," ujar Darma lagi.
"Iya Pah, In shaa Allah nanti Hani suapin kok Anaknya Papa ini," balas Haniah, sedikit bercanda juga.
"Nah gitu dong, buat dia makan yang banyak ya Nak, biar suaminya kamu cepat sembuh, kan biar secepatnya kalian buatkan cucu buat Papa," ujar Darma lagi, sembari ia mengedipkan mata sebelahnya lagi.
Seketika Haniah terbelalak mendengar perkataan Sang mertua, yang meminta dibuatkan cucu.
"Eh, Cucu?"
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA Guys..🙏🥰 Bonusin author dong dengan VOTEnya, jangan pelit Oke😉 dan jangan lupa juga ya berikan LIKE, Hadiah, Bintang 🌟 serta komentarnya ya guys Biar novel ini bisa bersinar 😉 Oke guys 🥰 Syukron 🥰😘.
__ADS_1