
─⊱◈◈◈⊰🤍Kalam Hikmah🤍⊱◈◈◈⊰─
"Tuhan menciptakan pundak lelaki untuk menyangga tangis perempuan. Dan, Tuhan menciptakan tangis perempuan agar laki-laki melupakan tangisnya sendiri."
Setiap kekurangan ada kelebihan Tersembunyi...
Setiap kelebihan ada kekurangan Tersembunyi...
Itulah Makna Syariat dan Hakikat dalam Tanggung Jawab Dunia agar tetap seimbang menuju pada tujuan yang harus di lalui. Jodoh, pertemuan, maut bukan pilihan kita. Akan tetapi takdir yang berjalan adalah suatu Rahasia Alam.
صَلَّ اللّٰـهُ عَلَی مُحَمَّدْ صَلَّ اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•◈◈◈◈◈◈◈◈◈•❉্᭄͜͡🤍❉্᭄͜͡•◈◈◈◈◈◈◈◈◈•
Mata Shinta langsung membulat sempurna, tatkala Fahmi dengan lugasnya menyebut Sayang pada dirinya. Tetapi entah mengapa jantungnya biasa saja. Tidak seperti waktu pertama ia bertemu dengan Fahmi, atau ketika ia berada satu mobil ketika mereka menuju ke kota JB. Lebih jelasnya, ia sudah tak merasakan debaran cinta itu ketika terakhir kali, ia melihat tatapan ketidak sukaan Fahmi pada dirinya. Makanya saat ini mendengar kata Sayang, tidak berarti lagi bagi Shinta.
"Sayang? Hueek.. maaf perut saya mual mendengar itu! Jadi pernah lagi menyebut itu pada saya! Permisi!" kata Shinta dan ia pun langsung mempercepat langkahnya meninggalkan Fahmi, yang terlihat masih tercengang dengan tingkah Shinta yang tiba-tiba berubah padanya.
"Eh, ada apa dengannya? Kenapa sikapnya langsung berubah? Bukankah tadi dirumah sakit dia bergitu Sumirah saat pak Hafidz mengatakan calon istriku?" gumam Fahmi terlihat bingung melihat perubahan sikap Shinta.
"Eh, kemana tuh anak? Aduh kok hilang? Akukan disuruh membawanya kerumah sakit. Sebaiknya aku cepat kerja dia sekarang!" gumamnya lagi, dan ia pun langsung berlari kearah Shinta menghilang. Fahmi terus mencarinya, namun tak kunjung kelihatan.
"Ah, hah! Cepat banget tuh anak menghilangnya! Bikin susah orang saja!" gerutu Fahmi dengan nafas yang ngos-ngosan, seraya matanya mencari disekitar daerah tersebut. Hingga matanya, menangkap pasangan, yang terlihat sedang berdebat. Dan Fahmi mengenali baju yang dipakai oleh wanita tersebut.
"Bukankah itu Shinta? Tapi siapa laki-laki itu?" gumamnya lagi, yang terlihat ia sedang berusaha, mengingat Pria yang bersama Shinta, "Hah! Bukankah itu Adam? Sebaiknya aku menghampiri mereka saja!" lanjutnya lagi dan ia pun langsung berlari menuju ke seberang jalan, karena memang posisi Shinta sudah berada diseberang jalan.
...*****...
__ADS_1
Sementara diseberang jalan.
Nampak Shinta sedang berdebat dengan Adam. Ia terlihat begitu marah pada pria itu, yang terlihat berusaha mengajaknya berbicara.
"Mau apa Lo menghadang jalan gue hah? Minggir gue bilang! Gue jijik lihat muka Lo!" bentak Shinta, yang terlihat ia tidak memperdulikan dengan orang disekitarnya yang sedang menonton dirinya.
"Shin? Tolong dengarkan gue dulu! Gue tahu gue salah! Maka dari itu gue minta Maaf pada kalian berdua!" ucap Adam yang nampaknya ada penyesalan dari raut wajahnya.
"Maaf? Gue nggak sudi memaafin Lo! Jadi sebaiknya Lo pergi dari sini! Dan jangan pernah muncul lagi dihadapan gue!"
Shinta benar-benar meluapkan amarahnya, pada Adam. Bahkan ia menatapnya dengan mata yang dipenuhi kebenciannya. Nampak sekali kebenciannya tidak dapat disembunyikannya lagi. Adam pun memakluminya, karena memang ia akui. Kalau selama ini ia selalu mengecewakan wanita itu. Jadi wajar saja kalau wanita tersebut amat membencinya.
"Baiklah Shin, gue akan pergi! Tapi please, beritahu gue gimana keadaan teman kamu Hani? Apakah dia baik-baik Saja Shin?" tanya Adam, terlihat ia amat penasaran dengan kondisi Haniah. Karena ia ikut menyaksikan saat Haniah tertembak.
Peduli banget Lo sama dia? Bukannya Lo bagian dari rencana itu? Kenapa Lo sekarang sok peduli banget hah?!" hardik Shinta, seraya ia tersenyum sinis pada Adam.
"Alah bullsit! Gue nggak mau dengar perkataan Lo lagi!" pungkas Shinta, dan ia pun hendak beranjak dari sana. Namun tangan Adam langsung memegang tangannya.
"Singkirkan tangan kotor Lo! Najis gue disentuh Lo!" teriak Shinta, seraya ia menyentakkan tanang Adam agar ia bisa terlepas dari tangannya. Namun genggaman Adam malah semakin kuat.
"Gue akan melepaskan Lo! Tapi beritahu dulu kondisi dia, Shin?" Adam terlihat bersikeras ingin mengetahui kondisi Haniah. Sehingga ia sedikit meksa Shinta.
"Lepaskan tangan Dia! Apakah Anda tidak mendengar kalau dia tidak ingin Anda setuh, hah?!"
Mendengar suara bariton, yang tiba-tiba muncul, membuat Adam maupun Shinta, langsung menoleh kesumber suara tersebut. Adam langsung mengertekkan saat melihat seorang Pria berbaju Koko yang baru saja muncul tersebut.
"Fahmi?" ucap Shinta lirih saat ia melihat pria yang baru saja datang, dan ternyata ia adalah Fahmi.
"Siapa Lo? Sebaiknya jangan ikut campur urusan orang! Pergi sana! Apa Lo orang yang suka mencampuri urusan sepasang kekasih hah?" ujar Adam, penuh percaya diri.
__ADS_1
"Sepasang kekasih? Apa Anda tidak salah? Mengakui calon istri orang, sebagai kekasih Anda?" tanya Fahmi, dengan memasang wajah ketidak sukaannya, karena Adam masih menggenggam tangan Shinta.
"Calon istri? Maksud Anda dia calon istrinya Anda gitu?" tanya Adam, tak percaya dengan perkataan pria tersebut.
"Kalau Anda tidak percaya, coba tanyakan padanya!" kata Fahmi terlihat begitu tenang.
"Benarkah yang pria itu katakan, Shinta?" tanya Adam pada Shinta, yang terlihat wajahnya masih begitu jutek.
"Kalau iya kenapa hah? Apa Lo berpikir gue masih memimpikan Lo ya?" tanya Shinta. Dan seketika Adma teingat akan kata-katanya pada Shinta ketika mereka sedang melakukan maggang dipuskesmas kota JB. Dan dari situlah awal kebencian Shinta tercipta. Di saat Adam, masih menggenang peristiwa tersebut.
Tiba-tiba, Fahmi langsung, menepis tangan Adam, dari tangannya Shinta, lalu ia menarik tangan Shinta. Lalu ia.pun merangkul pundak Shinta, seakan ia adalah miliknya.
"Hei Lo!" sentak Adam kaget, saat Fahmi melepaskan tangannya dengan paksa dari Shinta. Namun ia langsung terdiam, saat melihat Shinta, sudah berada didalam rangkulannya.
"Huh! Kalau begitu semoga kalian berbahagia!" lanjutnya, terdengar ketus. Lalu ia pun berlalu dengan wajah menyesal dan juga kesal. Meninggalkan Fahmi dan Shinta.
"Lepaskan saya! Dan sebaiknya Anda juga pergi dari sini!" sentak Shinta, menepis tangan Fahmi dari pundaknya. Setelah Adam menjauh.
"Begitukah cara kamu, berterima kasih? Pada orang yang menolong kamu hm?" tanya Fahmi, seraya ia mendekati wajahnya ke wajah Shinta, membuat Shinta terlihat kaget. Bahkan jantungnya kembali berdetak kencang.
"Eh! E-emangnya saya yang memintanya apa? Lagian tanpa Anda bantu saya bisa sendiri mengatasinya," balas Shinta terlihat canggung.
"Oh iya? Buktinya sejak tadi saya melihat kalian dari sana, nggak selesai-selesai tuh! Makanya saya datang kesini, dan kamu lihatkan tadi hanya sepuluh menit, pria itu pergikan," kata Fahmi, sembari ia melipat kedua tangannya di bawah dadanya.
"Aah, bodo amat dah! Mendingan gue aja yang pergi!" ujar Shinta seraya ia hendak melangkah kembali. Namun tangan Fahmi langsung mencegahnya.
"Eeiit! Enak saja mau pergi! Kamu melepaskan tanggung jawab kamu hm?"
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
__ADS_1