
*═══❉্͜͡🤍Mutiara Hikmah.🤍❉্͜͡═══*
"Ketika kegagalan kembali menghampiri sedangkan kita sudah berusaha berkali-kali. Jangan mundur, jangan menyerah, maju terus sampai kata gagal itu kalah.
Karena dari pengalaman itulah kau mampu tuk belajar lebih banyak pelajaran yang tak pernah kau ketahui sebelumnya. Percayalah bahwa Allah tak akan membuatmu kesusahan tanpa memberimu kebahagiaan"
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (QS. Al Baqarah :286)
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•═══════•❉্᭄͜͡🤍❉্᭄͜͡•═══════•
Keesokan harinya.
Sebelum Haniah, berangkat ke kota JB, Hafidz menyempatkan diri berbicara pada Fahmi. Karena, ia sempat merasakan perasaan tidak enak. Dan ingin melarang istrinya pergi, namun karena melihat istrinya yang terlihat bersemangat. Ia tak sampai hati, untuk melarangnya pergi. Maka dari itu ia mempercayai istrinya pada Fahmi.
"Fahmi, tolong jaga istriku ya? Dan bawa beberapa orang untuk mengawal kalian! Karena entah kenapa, perasaan saya tidak enak! Jadi saya minta kamu harus menjaganya dengan baik! Apa kamu Paham?" ujar Hafidz, saat mereka sedang berada diluar.
"Paham Pak!" balas Fahmi dengan tegas, "Maaf Pak menyela, kalau sudah tahu perasaan Pak Hafidz tidak enak, mengapa membiarkan istri Pak Hafidz pergi? tanyanya terlihat bingung pada majikannya itu.
"Saya, tak tega melarangnya. Karena Dia terlihat bersemangat sekali. Ya sudahlah biarkan dia pergi, tapi ingat kamu tak boleh jauh sedikitpun darinya! Paham!" tegas Hafidz
"Oke Pak, paham!" balas Fahmi, dan tak berapa lama Haniah pun muncul.
"Mas Niah sudah siap, Niah Pamit ya Mas," kata Haniah, sembari ia meraih tangan suaminya lalu ia pun mengecupnya.
"Iya Sayang, kamu hati-hati ya? Ingat jangan dekat-dekat dengan laki-laki yang bernama Adam itu! Kamu paham Sayang?!" tegas Hafidz, memberi peringatan pada Haniah.
"Iya Mas, Insya Allah. Ya sudah Niah pergi ya Assalamu'alaikum,"
__ADS_1
"Wa'alaikumus salam Sayang," jawab Hafidz, sembari mengecup lembut dahi istrinya.
Setelah berpamitan pada sang Suami, Haniah pun memasuki mobil yang sudah dipersiapkan untuknya. Setelah ia telah berada di dalam, Fahmi pun ikut berpamitan pada Hafidz.
"Kalau begitu saya juga pamit Pak, Assalamu'alaikum," Pamitnya, dan bermaksud mengitari mobilnya karena ia akan duduk dibelakang setirnya. Namun saat ia baru melangkah Hafidz menahan tangannya.
"Wa'alaikumus salam, ingat Fahmi, jaga istriku! Dan jangan biarkan ia dekat-dekat dengan Pria yang bernama Adam! paham!" tegas Hafidz lagi pada Fahmi.
"Paham Pak! Anda tidak perlu khawatir, karena saya akan menjaganya dengan baik!" tegas Fahmi juga.
"Bagus! Sekarang pergilah!" Hafidz pun melepaskan cengkraman tangannya dan membiarkan Fahmi pergi.
"Baik Pak, kalau begitu saya permisi, Assalamu'alaikum" Pamit Fahmi yang kini ia pun bergegas memasuki mobil. Dan tak berapa lama mobil pun mulai melaju dengan kecepatan sedang.
Setelah mobil tak mobil tak terlihat lagi, Hafidz mengambil benda pipihnya. Sepertinya ia hendak melakukan panggilan lewat via telepon.
"Paham Bos!" jawab seseorang dari seberang. Setelah mendapatkan jawaban Hafidz langsung memutuskan sambungannya. Setelah itu ia kembali menatap pintu gerbang yang terlihat masih terbuka.
"Huft..kenapa hatiku masih belum tenang ya? Huh! Kalau saja, hari ini tidak ada rapat penting! Aku pasti akan ikut menemaninya! Ya sudahlah husnudzon saja, In shaa Allah mereka akan baik-baik saja!" gumam Hafidz, sambil ia melangkah menuju mobilnya. Lalu ia pun bersegera memasuki mobilnya.
Sebelum Hafidz menyalakan mesin mobilnya, ia kembali menghelakan nafasnya, untuk meredakan gemuruh dihatinya. Setelah itu ia pun memejamkan matanya sejenak.
"Ya Rabb, lindungilah istriku dimanapun dia berada, jagalah dia untukku ya Rabb. Hanya pada-Mulah Hamba memohon karena hanya Engkaulah sebaik-baiknya Pelindung dan sebaik-baiknya penjaga. Maka hamba serahkan ia pada-Mu didalam penjagaan-Mu," batin Hafidz.
Setelah itu ia pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke kantornya.
...*****...
Sementara itu disisi lain, terlihat dua orang pria berjas hitam, sedang menarik tangan seorang pria tampan dengan memakai kaos berwarna putih. Dan nampak juga, pria tersebut sedang memberontak memberikan perlawanan. Namun sepertinya sia-sia saja.
__ADS_1
"Lepaskan gue! Siapa kalian sebenarnya hah?!" bentak pria itu yang masih menyentak-nyentak tangannya agar terlepas dari jeratan pria berbadan besar itu. Namun kedua pria berbadan besar tersebut tak menghiraukan perkerjaannya. Mereka terus membawanya ke sebuah ruangan kosong, yang ternyata di sana sudah ada seorang pria berjas krem sedang duduk di kursi yang berada di ruangan kosong tersebut.
"Bos! Kami sudah membawanya!" ucap salah satu Pria bertubuh besar tersebut.
"Hemm!" balas Pria yang sedang duduk tersebut, dengan menatap tajam pada pria yang sedang dipegang oleh kedua anak buahnya tersebut.
"Siapa Lo sebenarnya? Mengapa menyuruh mereka membawa Gue kesini hah?!" tanya Pria yang sedang dicengkeram oleh kedua pria berbadan besar tersebut.
Pria berjas krem tersebut tersenyum seringai, "Heh..siapa gue? Apakah itu penting! Gue cuma ingin membantu Lo! Bukankah lo menginginkan wanita inikan?" ujarnya sambil menunjuk sebuah foto wanita bercadar bersama seorang pria. Seketika mata pria tersebut terbelalak melihat foto tersebut.
"Hani! Apa maksud Lo mau membantu gue?" tanya Pria tersebut, dengan tatapan penasarannya.
"Wah, wah segitu tidak sabarannya ya Lo! Tapi tidak apa-apa, gue memahami Lo! Baiklah karena gue sedang berbaik hati, gue akan membantu Lo, untuk mendapatkannya. Bahkan gue akan memberikan tempat tinggal buat Lo dan wanita tersebut! tapi dengan satu syarat, bantu gue untuk menghancurkan suami wanita tersebut!" jelas Pria berjas krem tersebut.
Nampak Pria yang masih di pegang oleh pria bertubuh besar, sedang berpikir keras, "Bukankah ini kesempatan gue untuk memiliki Hani? Hmm.. apa sebaiknya gue pura-pura setuju saja dulu ya? Selebihnya gue pikirkan nanti saja," batinnya.
"Mengapa Lo diam? Apakah Lo sudah tidak menyukai wanita itu lagi hm?" tanya pria berjas krem, membuat pria berkaos putih itu tersadar dari lamunannya.
"Oke! Gue setuju!" jawabnya dengan tegas.
"Bagus! Sekarang tugas Lo adalah buat wanita itu jatuh cinta pada Lo! Dan buat dia tergila-gila pada Lo! Hingga akhirnya ia akan memutuskan bunuh diri bila Lo meninggalkannya. Apa Lo sanggup?" ujar pria itu, membuat Pria berkaos putih tersebut, tersentak mendengarnya.
"Apa! Kalau seperti itu gue tidak setuju! Karena gue tidak akan pernah meninggalkannya!"
"Cih! Apa Lo yakin? Kalau begitu gue akan mencari orang lain saja! Bawa dia pergi! Dan berikan dia pada buaya-buaya kita yang sedang kelaparan itu!" titah Pria tersebut seraya ia bangkit dari duduknya, lalu ia pun mulai melangkah, namun langkahnya terhenti karena teriakan si pria kaos putih tersebut.
"Apa? Baiklah gue setuju!"
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
__ADS_1