
Jantung Hafizh, langsung berdetak kencang, kala ia melihat rumah Haniah, telah ramai. Apalagi saat ia melihat sebuah bendera kuning yang terpasang didekat pintu gerbang rumahnya.
"Astaghfirullah, ada apa ini Fahmi?" tanyanya dengan spontan, dengan tatapan masih mengarah ke rumahnya Haniah.
"Sepertinya ada yang meninggal Pak," jawab Fahmil apa adanya.
Mendengar kata meninggal, Haniah yang sedang tertidur langsung tersentak dan terbangun, "Innalilahi wa innailaihi Raji'un, siapa yang meninggal Mas?" sentaknya, hingga ia lupa kalau dirinya belum memakai cadarnya, sehingga Fahmi sedikit tersentak, lalu ia pun langsung membuang wajahnya.
Hafizh juga kaget, melihat istrinya yang tiba-tiba terbangun. "Sayang cadar kamu," ucapnya yang kemudian ia pun mengambil cadar istrinya.
"Maaf Niah lupa Mas," ucap Haniah, lirih, sembari ia menyembunyikan wajahnya kedada Hafidz kembali.
"Nggak papa Sayang, sini Mas pasangin," ucap Hafizh, yang kemudian ia pun memakaikan cadar istrinya.
"Oh iya Mas, siapa yang meninggal?" tanya Haniah lagi, yang artinya ia belum melihat keadaan rumahnya.
"Mas tidak tahu Niah, tapi berjanjilah, apapun yang terjadi, kamu harus kuat ya?" balas Hafizh, sembari ia memegang wajah istrinya, yang terlihat telah kembali memakai cadarmya.
"Ada apa sebenarnya Mas?" tanya Haniah kembali, yang terlihat ia begitu penasaran. Karena ia melihat tatapan mata suaminya terlihat sendu saat menatapnya.
"Berjanjilah dulu Niah," ucap Hafizh dengan tatapan yang masih terlihat sedih menatap Haniah.
"Iya In shaa Allah Mas. Sekarang katakan ada apa?" tanya Haniah yang terlihat semakin penasaran. Hafizh bukannya menjawab ia hanya mengulurkan jari telunjuknya ke arah kaca jendela mobilnya yang dibagian didepan.
__ADS_1
Seketika mata Haniah mengikuti arah jari telunjuk suaminya itu. Dan terlihatlah olehnya, rumah tempat ia dibesarkan, telah ramai dengan para warga, di kampungnya. Seketika jantung Haniah seakan berhenti berdetak, saat melihat bendera kuning yang terpasang didepan rumahnya.
"Ya Allah ada apa ini?!" sentaknya, yang kemudian ia langsung membuka pintu mobilnya, dan tanpa berkata apa-apa lagi pada Hafizh, Haniah langsung turun, dan langsung berlari memasuki pintu gerbang rumahnya.
"Niah, tunggu!" teriak Hafizh, yang akhirnya ia ikut turun dari mobilnya dan ikut berlari mengejar istrinya. Hingga ia lupa dengan rasa sakit dikakinya.
"Pak kursi roda Anda!" teriak Fahmi juga, yang terlihat ia juga sudah mengeluarkan kursi rodanya Hafizh. Namun Hafiz, tidak menghiraukannya lagi, ia terus masuk mengejar istrinya.
...*****...
Sementara didalam rumah.
Haniah, yang tadi berlari terlebih dahulu, kini terdiam terpaku di depan pintu masuk rumahnya. Matanya langsung tertuju pada sebuah tempat tidur mini, yang berada ditengah-tengah ruang keluarganya. Dan dikelilingi oleh ibu-ibu yang terlihat sedang membacakan surah Yasin.
"Ayah?" ucapnya dengan suara yang terdengar bergetar. "I-itu si-siapa Yah?" tanyanya pada Pria itu yang ternyata ia Abimanyu, Ayahnya Haniah.
"Kamu yang tabah ya Nak," ucap Abimanyu, sembari ia memeluk tubuh Haniah. Seketika tubuh Haniah langsung gemetaran.
Mata Haniah kembali mengarah ketempat tidur, yang diatasnya terdapat tubuh seseorang yang tertutup dengan kain putih. "Apakah itu Bunda Ayah?" tanyanya terdengar lirih.
"Nak, kita semua sangat menyayangi Bunda. Tapi ada yang lebih sayang dari kita Nak, yaitu Allah, jadi kita harus ikhlas melepas Bunda ya Nak," ucap Abimanyu, yang sepertinya ia telah mengikhlaskan kepergian sang istri. Itu terlihat dari wajahnya yang kini terlihat lebih tegar.
Mendengar ucapan sang Ayah, dada Haniah terasa sesak, ia tak mampu mengeluarkan suaranya. Hanya air matanyalah yang menggambarkan betapa ia amat sedih, atas kepergian sang Ibu.
__ADS_1
Melihat anaknya yang hanya diam terpaku, Abimanyu, langsung merangkul pundak Haniah. Lalu ia pun membimbingnya menuju ke pembaringan sang ibu. Haniah mengikuti langkah Sang ayah dengan pasrah.
Sesampainya mereka disisi pembaringan, Abimanyu pun membuka penutup wajah istrinya. Dan terlihat oleh Haniah, wajah sang ibu yang kini memucat. Namun wajahnya masih terlihat begitu cantik, dengan bibirnya yang terlihat sedang tersenyum manis.
"Maa shaa Allah, cantik banget Bunda, hiks.., maafin Niah Bunda, hiks.. maaf karena Niah yang hanya memikirkan diri sendiri saja. Tanpa tahu apa yang telah Bunda alami, hiks..hiks.. Bunda.. Niah..." ucap Haniah, yang hanya diungkapkan di dalam hatinya.
Karena entah mengapa bibir Haniah seakan terkunci, hingga ia tak mampu mengeluarkan kata-katanya. Hanya isakannya saja yang keluar dari mulutnya.
"Bunda..hiks..mengapa....? Hiks mengapa Bunda tidak menung..." batinnya lagi namun kata-katanya terhenti. Karena tubuhnya keburu melemah. Dan seketika tubuh Haniah langsung lunglai dan akhirnya ia tidak sadarkan diri lagi.
Saat bersamaan Hafizh langsung menangkap tubuhnya. Karena sebenarnya sejak tadi ia berdiri tepat dibelakang Haniah. "Niah! kamu kenapa Sayang?" sentaknya, sembari ia menepuk pelan pipi istrinya itu.
"Bawalah Istri kamu kekamar Nak, dia hanya Syok saja kok, biarkanlah dia istirahat dulu," ujar Abimanyu, yang terlihat cemas melihat putrinya itu.
"Baiklah Yah, kalau begitu Hafiz bawa Niah ya Yah!" pamit Hafizh, sembari ia langsung menggendong tubuh Haniah.
"Pergilah Nak,"
Setelah mendapatkan jawaban dari sang Ayah mertuanya, Hafizh langsung membawa Haniah menuju kamarnya. Meninggalkan Abimanyu yang terlihat masih menatap anaknya, yang sedang digendong oleh menantunya.
"Kenapa Nak? Kenapa kamu selalu memendam semuanya Nak? Mengapa kamu selalu menyimpan kesedihan kamu, dan masalah kamu Nak?" batin Abimanyu, yang sebenarnya ia tahu kesedihan Haniah, bahkan ia tahu setiap masalah yang ia hadapi. Namun karena Haniah tak pernah mau mengungkapkannya membu ia hanya bisa dan mempercayai keputusan anaknya saja
Karena Haniah memang tidak akan pernah mau mengungkapkan apapun masalah yang ia hadapi. Ia akan selalu menyimpannya didalam hatinya saja.
__ADS_1
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...