
•─⊱◈◈◈⊰🤍Kalam Hikmah 🤍⊱◈◈◈⊰─•
"𝐃𝐢𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐭𝐚𝐧𝐝𝐚 𝐤𝐞𝐦𝐚𝐭𝐢𝐚𝐧 𝐡𝐚𝐭𝐢 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐞𝐝𝐢𝐡 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤𝐚 𝐦𝐞𝐥𝐞𝐰𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐭𝐚𝐚𝐭𝐚𝐧, 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐞𝐬𝐚𝐥 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤𝐚 𝐦𝐞𝐥𝐚𝐤𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐦𝐚𝐤𝐬𝐢𝐚𝐭𝐚𝐧."
[ 𝐒𝐲𝐞𝐤𝐡 𝐈𝐛𝐧𝐮 𝐀𝐭𝐡𝐚𝐢𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐚𝐬 𝐒𝐚𝐤𝐚𝐧𝐝𝐚𝐫𝐢 ]
صَلَّی اللّٰـهُ عَلَی مُحَمَّدْ صَلَّی اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•═══════•❉্᭄͜͡🤍❉্᭄͜͡•═══════•
Dimalam harinya.
Semenjak pertemuannya dengan Steven, hati Hafidz menjadi gundah. Dan sudah pasti pikirannya pun bercabang-cabang. Sehingga saat Haniah memanggilnya, tak terdengar olehnya. Hingga pada akhirnya ia tersadar karena tangan Haniah menyentuh pundaknya.
"Eh! Ada apa Sayang?!" sentak Hafidz, terlihat ia begitu kaget saat tangan Haniah menyentuh pundaknya.
"Mas, yang ada apa? Kenapa Niah panggil Mas tak mendengar sih? Sepertinya Mas sedang banyak pikiran ya? Ada apa Mas?" tanya Haniah menjadi penasaran dengan berubahnya sikap suaminya yang tidak pada biasanya.
"Tidak ada apa-apa Sayang. Maaf Mas tidak mendengar panggilan kamu," balas Hafidz, sembari ia menarik tangan Haniah, dan otomatis, tubuh Haniah langsung terduduk dipangkuannya.
"Aakh! Mas! Apa yang kamu lakukan? Kita sedang diruang keluarga! Malu tau kalau dilihat orang!" protes Haniah, dan berusaha ingin bangkit dari pangkuan sang suami.
__ADS_1
Namun, Hafidz malah menahan pinggang, membuat ia kembali terduduk di pangkuannya. Bahkan Hafidz menyelinap masuk kedalam hijab syar'inya Haniah. Dan entah apa yang dilakukannya didalam sana, hingga membuat tubuh Haniah menggeliat. Dan bahkan tanpa sadar ia mengeluarkan suara lenguhannya.
"Ukhmm..Mas Hafidz..hum.. jangan lakukan itu, geli Mas..ukh.." rancau Haniah, sambil berupaya ingin melepaskan lingkaran tangan hafidz yang berada dipinggangnya.
"Sebentar saja Sayang, hum.. Mas hanya ingin menikmati aroma yang ada ditubuh kamu kok," balas Hafidz, masih berada didalam Hijab Haniah, dibagian belakangnya.
"Humm...Tapi jangan disini dong Mas! Ugh, malu kalau dilihat hum.. Bi Ratmi, Mas..Iis, Emas!" protes Haniah, mulai kesal, dengan kelakuan suaminya. Karena ia takut, para pembantunya melihat kemesraan mereka.
"Baiklah, baiklah, Sayang," ujar Hafidz, sambil ia keluar dari, Hijab besarnya Haniah, "Kalau begitu kita ke kamar sekarang!" lanjutnya lagi. Lalu, tanpa memberi aba-aba, ia langsung menggendong tubuh Haniah, yang tadi berada dipangkuannya.
"Aakh?" pekik Haniah kaget, "Eh, kok ke kamar Mas? Mau ngapain?" tanya Haniah, terlihat polos.
"Melanjutkan yang tadi dong Sayang," balas Hafidz, yang terlihat ia kini, sudah mulai menaiki anak tangga, menuju lantai dua.
"Eh, tapi Kitakan belum makan Mas," protes Haniah lagi, membuat Hafidz, akhirnya mengalah, ia mengurungin niatnya yang mau membawa Haniah ke kamarnya.
"Iiis..! Apaan sih Mas! Ngomongnya ngelantur aja deh! Cepat turunin Niah!" protes Haniah, lagi, dengan bibir yang sedikit mengerucut. Membuat Hafidz gemas melihatnya.
"Ya Maaf Sayang, tapi bibir kamu jangan ngerucut gitu dong! Maskan nggak kuat sayang. Rasa Mas ingin nyamplok bibir kamu deh,"
Mendengar perkataan suaminya, mata Haniah langsung membulat kesal. Ia ingin menegur suaminya, namun ternyata disana ada Bi Ratmi . Sehingga ia tak bisa menegur suaminya. Namun teguran itu ia ganti dengan cara menyubit perut Hafidz dibagian sampingnya.
"Aw, aw, aw! Sakit sayang! Kok Mas di cubit sih?" tanya Hafidz dengan wajah terlihat meringis kesakitan.
__ADS_1
"Rasain! Makanya kalau ngomong jangan sembarang!" bisik Haniah, karena disana masih ada Bi Ratmi, yang terlihat sedang senyum-senyum lucu melihat kedua majikannya itu.
"Neng? Santai aja atuh, Bibi mah maklum namanya pengatin baru, pasti ya begitulah Neng," sela Bi Ratmi, yang sepertinya paham kalau majikannya tidak enak padanya.
"Eh, pengatin baru apa Bi? Orang nikahnya juga udah lama pun," balas Haniah, sedikit malu, karena ternyata Bi Ratmi, mendengar bisikannya.
"Yaa, benar dong kata Bi Ratmi, kita itu ya pengatin baru. Orang kita anunya baru beberapa kali pun," timpal Hafidz terlihat polos. Membuat Haniah semakin geram padanya.
"Iiis Emas! Kenapa harus dibicarakan sih kayak gitunya! Emangnya kamu nggak malu apa?" bisik Haniah kesal, melihat suaminya terlihat tidak merasa malu sedikitpun pada Bi Ratmi.
"Kenapa harus malu sih Sayang? Lagian Bibi pasti pernah, merasakan pengatin baru juga. Iyakan Bi?" tanya Hafidz, membuat wajah Haniah, memerah menahan amarah juga rasa malu terhadap Bi Ratmi.
"Tau akh! Niah nggak jadi makan! Sudah hilang lapernya!" cetus Haniah, sembari ia bangkit dari duduknya dan langsung beranjak meninggalkan Hafidz, yang masih berada di ruang makan.
"Eh! Aduh, Haniahku merajuk Bi! Gimana ini Bi?"
keluh Hafidz, sambil memandang Bi Ratmi dengan tampang bingungnya. Membuat Bi Ratmi tertawa lucu melihat tampang majikannya.
"Hihihi, wajah Aden kok jadi lucu. Ya udah atuh Den, dikejar istrinya, dirayu pakai rayuan maut, pasti nanti Neng Hani, luluh Den," balas Bi Ratmi, memberi ide pada Hafidz.
"Ide bagus tuh! Oke Bi, kalau begitu Atha, mau rayu Haniahku dulu ya Bi," kata Hafidz sembari ia bangkit dari duduknya. Bu Ratmi pun tersenyum lembut, pada majikannya.
"Pergilah Den," Hafizh langsung melangkah pergi, menuju ke kamar. Sementara Bi Ratmi, masih tersenyum geli melihat tingkah Hafidz.
__ADS_1
"Den Atha, Den Atha. Sebegitu takutnya melihat istrinya merajuk. Tapi syukurlah, rumah tangga mereka menjadi harmonis, semoga mereka tidak akan terpisahkan lagi. Aamiin" ucap Ratmi dengan setulus hati.
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...