Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Menerima


__ADS_3

Setelah dirawat selama tiga hari, akhirnya Meyzin diizinkan pulang. Selama itu pula ia dan Nada hanya berbicara lewat telepon dengan waktu yang tertentu. Menjalin hubungan baru sebagai ayah dan anak faktanya tak sesulit yang Nada bayangkan. Kini ia bahagia bisa bersatu lagi dengan ayahnya. Meskipun belum banyak yang tahu, setidaknya pria itu sudah mengakuinya di depan keluarga Mirza dan juga Erkan. 


"Ayah yakin gak mau aku jemput?" tawar Nada meyakinkan. Masih seperti kemarin, mereka hanya bisa berbicara lewat telepon. 


"Tidak usah, Nak. Lagipula sudah ada yang jemput. Kamu persiapkan pernikahanmu saja. Nanti kalau butuh apa-apa, hubungi Daddy."


Sebagai salah satu pengusaha besar di Istanbul, Meyzin mengganti panggilan Nada untuk dirinya. Dan ia berjanji akan memberikan tempat yang seharusnya didapat gadis tersebut. 


"Kak Erkan dan Kak Mirza sudah menyiapkan semuanya. Tinggal tunggu harinya saja." 


"Kamu mencintai Erkan?" tanya Meyzin. Bagaimanapun juga sekarang ia adalah seorang ayah yang harus tahu isi hati putrinya. Memastikan pasangan hidup yang dipilih benar-benar orang baik dan bisa membahagiakannya.


"Iya, memangnya kenapa?"  Nada balik tanya. Ada rasa cemas, takut Meyzin tak merestuinya.


"Gak papa, selamat ya, semoga kalian selalu diberi kebahagiaan. Sekarang daddy mau siap-siap pulang."


Puas berbicara, Nada memutus sambungannya lalu keluar dari kamar untuk bergabung dengan yang lain. Sebab, hari ini ada beberapa hal yang harus diurus oleh Nada dan Erkan.


Tanpa sengaja, Lauren yang dari tadi berdiri di depan pintu bisa mendengar percakapan Meyzin dan Nada. Sebagai seorang istri,  ia bertanya-tanya saat pria itu memanggil dirinya dengan sebutan Daddy. 


"Kamu sudah siap?" Suara Lauren mengejutkan Meyzin yang sibuk mencari nomor kontak seseorang. 


Ia terpaksa mengurungkan niatnya karena tak mau ada orang yang tahu misinya kali ini. 


"Sudah." Tanpa banyak kata, Meyzin langsung keluar dari ruangan itu. 


Aku harus segera menemukan dalang di balik kematian Emelda. Siapapun dia, harus menerima akibatnya. 


Tidak ada pembicaraan apapun dalam perjalanan pulang. Otak Meyzin terus mengabsen beberapa orang saksi yang menyudutkan Veronika. Ia juga tak lupa dengan Daddy nya yang kala itu paling antusias menuduh mantan istrinya sengaja meracuni Emelda. 


"Apa kau ingat dengan Veronika?"


Lauren terbelalak. Kerongkongannya menyempit hingga membuatnya sulit untuk menelan ludah. 


"Ve… Veronika?" ucapnya gugup. 


Meyzin mengangguk. Menatap wajah Laurent yang langsung pucat pasi. Menunjukkan ketakutan yang amat besar.

__ADS_1


"Mantan istri kamu?" imbuhnya. Berusaha untuk tidak panik.


"Sepertinya ada orang lain yang memfitnahnya. Aku yakin, yang meracuni Emelda bukan dia, tapi orang lain."


Lauren meraih sebotol air mineral lalu meneguknya untuk mengurai rasa panik yang semakin menyeruak. 


Meyzin bisa melihat dengan jelas perubahan di wajah Lauren. Dari situ, ia menyimpulkan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan wanita itu. 


Awas saja kalau kau sampai terlibat, aku pastikan hidupmu akan hancur sehancur-hancurnya. 


Seperti permintaan Meyzin, mobil berhenti di depan rumah Bahadir. Ia langsung masuk tanpa menunggu Laurent. 


"Aku harus kasih tahu Daddy." Merogoh ponselnya lalu mengetik sesuatu di sana. Setelah itu menyusul masuk. 


Suasana rumah tampak sepi. Kursi yang biasa diduduki Tuan Bahadir itu pun kosong. Meyzin langsung berjalan ke arah kamar sang Daddy. 


"Daddy," seru nya menatap Bahadir sedang berbaring di atas pembaringan. 


"Ternyata kamu sudah pulang." Bahadir terbangun dan duduk bersandar di headboard. 


Meyzin duduk di tepi ranjang. Amarah yang memuncak itu kini lenyap melihat tubuh tua yang dari kecil menjadi tiang hidupnya. Ia seperti tak mampu untuk menekankan pria itu mengingat perjuangannya yang bersusah payah membesarkan dirinya seorang diri. 


"Kamu mau bicara apa?" tanya Bahadir santai. Sedikitpun tak ada rasa takut meskipun sudah membaca pesan dari Lauren. 


"Daddy katakan dengan jujur, sebenarnya siapa yang meracuni Emelda?" tanya Meyzin dengan nada rendah. Menahan dadanya yang sudah hampir meledak. 


Bahadir menepuk bahu Meyzin dari samping. "Itu sudah masa lalu, kenapa harus kamu urus lagi." 


Wajah Meyzin mendadak pias, kalau saja Veronika masih hidup, mungkin ia masih bisa menerima. Namun nyatanya, wanita yang ia sakiti bertubi-tubi mengakhiri hidupnya secara tragis. 


"Tapi ini tidak adil buat Veronika, Dad. Dia yang harus menerima hukuman atas kesalahan orang lain. Dan Daddy harus tahu, bahwa dia melahirkan anakku. Dia memberiku putri cantik."


"Apa maksudmu?"  Darah Bahadir berdesir. Selama ini ia kesepian karena Meyzin dan Lauren tak memiliki keturunan, dan tiba-tiba Meyzin berkata memiliki seorang putri dari wanita yang pernah ia tuduh pembunuh. 


"Ternyata, saat bercerai denganku, dia hamil. Sekarang putriku sudah dewasa, dia adalah jelmaan Veronika." Mengucapkan dengan bibir bergetar dan penuh penyesalan. "Dan sebentar lagi akan menikah dengan tuan Erkan."


Mata Bahadir berkaca-kaca, sebuah kabar yang seolah adalah obat kegalauannya selama ini. 

__ADS_1


"Di mana dia sekarang?"  tanya Bahadir antusias. Sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan seseorang yang akan memanggilnya Grandpa. 


Meyzin tergugu, ia tak kuasa membendung air matanya yang menumpuk di pelupuk. Lalu, memeluk tubuh Tuan Bahadir dengan erat. 


"Daddy yakin putri kamu adalah gadis kemarin yang ada di rumah sakit, kan?"


Meyzin tersenyum lalu menganggukkan kepala. 


"Sekarang aku hanya meminta Daddy jujur, sebenarnya siapa yang sudah meracuni Emelda?" 


Bahadir tertunduk lesu. Memikul beban yang sangat besar tidaklah mudah, dan ia tak ingin Meyzin ikut merasakan apa yang selama ini ia rasakan. "Biarkan Daddy yang menanggung dosa itu semua," tukas nya lirih. 


"Sekarang katakan! Di mana cucuku?" tanya nya lagi dengan semangat yang tinggi. 


Seolah-olah menemukan permata hidupnya yang kian lama menghilang. 


"Dia ada di rumah Tuan Mirza. Dia dibesarkan keluarga Nona Haira. Mereka sangat menyayangi Nada seperti keluarga kandungnya." 


Bahadir menyibak selimut lalu turun dari ranjang. 


"Daddy mau ke mana?" tanya Meyzin saat Bahadir nampak merapikan rambutnya. 


"Ke rumah Tuan Mirza?" 


"Mau ngapain?" tanya Meyzin lagi mendekati. 


"Bertemu cucuku, Mau apa lagi?" 


Meyzin tersenyum getir. "Tuan Mirza tidak mungkin mengizinkan kita bertemu Nada. Mereka menjaga putriku sangat baik."


"Tapi aku kakek nya!" pekik Bahadir menegaskan. 


"Seorang ayah dan kakek seharusnya ada untuknya kapanpun dan dimanapun. Tapi apa, kita hanya mementingkan urusan kita sendiri. Aku malu, Dad. Aku malu pada putriku sendiri. Bahkan dia tidak menuntut apapun pada ku, menerima tanpa ingin tahu apa yang terjadi."


"Aku akan lebih malu, kalau seumur hidup tidak pernah minta maaf pada cucuku. Tentang dosa itu urusanku dan Tuhan."


Tuan Bahadir tetap pegi meninggalkan Meyzin yang nampak linglung.

__ADS_1


__ADS_2