
Haira duduk di tepi ranjang sembari mendengarkan percakapan Mirza dengan wanita yang ada di seberang ponsel. Wajahnya mendadak redup saat suaminya itu menyebut nama seseorang yang pernah menyakitinya di rumah sakit.
Ayla, apakah dia datang untuk membalasku lagi. Apa Tuan Mirza akan membiarkan itu terjadi?
Nama yang tak pernah terlupakan dari ingatannya. Meskipun waktu terus berjalan, Haira seakan masih merasakan sakitnya saat jari-jari wanita itu menarik rambut panjangnya dan membenturkan di dinding rumah sakit. Kejadian tujuh tahun lalu seolah-olah menjadi momok yang mengerikan dan terus membayanginya.
Haira tersenyum paksa saat Mirza menyudahi obrolannya. Meskipun ia percaya sepenuhnya tidak akan kembali ke masa itu, tetap saja ada bagian yang terus terselip.
"Sayang, hari ini aku mulai bekerja. Kamu dan Kemal di rumah saja, jangan ke mana-mana," pesan Mirza yang sudah duduk di samping Haira. Meletakan ponselnya di nakas.
Haira hanya mengangguk tanpa suara, enggan untuk membahas apapun yang bersangkutan dengan masa lalu. Ia memilih untuk menyiapkan semua keperluan Mirza yang akan dibawa ke kantor.
"Sayang, ada telepon lagi."
Haira melihat nama yang berkedip di layar ponsel milik suaminya, ternyata bukan wanita tadi, melainkan Erkan.
Terpaksa Mirza kembali dan menerima panggilan itu.
"Halo, Tuan. Perusahaan di New York ada masalah. Mereka ingin Tuan pergi ke sana." Suara Erkan terdengar gugup.
"Kenapa harus aku?" protes Mirza.
Bukankah, ia punya pegawai yang handal dan juga ajudan-ajudan yang bisa dipercaya untuk mengatasi semuanya. Kenapa harus dirinya sendiri yang turun tangan. Itu sangat merugikan baginya.
"Tapi hanya Tuan yang bisa mengatasi semuanya."
Sial, itu artinya aku harus meninggalkan Haira dan Kemal lebih lama lagi. Tidak mungkin aku membawa mereka dalam urusan bisnis, musuh ada di mana-mana, dan aku tidak mau membahayakan nyawa mereka.
Mirza yang merasa kesal langsung menutup sambungan setelah mengucapkan persetujuan nya untuk datang.
"Ada apa lagi?" tanya Haira melihat wajah suaminya yang nampak gusar.
Mirza tak menjawab. Ia malah menatap Haira dengan tatapan intens. Membawa tubuh ramping itu ke dekapannya. Kebersamaannya belum terpuaskan, tapi harus ada tugas yang tak bisa ia tolak.
"Aku akan pergi ke New York beberapa hari," dengan berat hati Mirza mengatakan pada Haira.
__ADS_1
"Kapan?" tanya Haira memastikan. Meskipun hatinya pun berat. Tapi ia harus lapang dan tetap mementingkan tugas suaminya yang menjadi seorang pemimpin.
"Aku belum tentukan jadwalnya, mungkin tiga hari lagi." Itulah rencana Mirza, karena untuk saat ini ia ingin bersenang-senang menjadi pengantin baru.
Senyap
Mirza terus memperhatikan Haira yang sibuk memilih jas untuknya, sedangkan otak nya sendiri saat ini terus mengingat ucapan Ayla.
Kotak putih yang mana? Semua barang-barang yang ada hubungannya dengan Lunara kan sudah terbuang. Bodo amat, aku tidak boleh mengingatnya lagi, sekarang ada Haira dan Kemal yang harus aku perjuangkan.
"Aku jadi kangen pabrik, apa sekarang Nada masih bekerja di sana?"
"Jangan temui dia," sergah Mirza dengan cepat. "Aku gak mau kamu berhubungan dengan orang yang tidak tahu diri. Kita sudah punya keluarga sendiri, jadi jangan pernah mengemis untuk di terima. Nenek dan Nada itu urusanku, mereka tidak akan hidup kekurangan."
Tapi dia saudaraku, Haira hanya mengucap dalam hati, ia tak mau membantah Mirza yang pasti akan berujung perdebatan.
Mirza sudah tampan dengan setelan jas berwarna navy disertai celana kain yang senada dan dasi yang bermotif garis. Untuk pertama kalinya ia pergi diantar oleh istri dan putranya itu di depan teras.
"Daddy cepat pulang," seru Kemal yang ada di gendongan Haira.
Lambaian demi lambaian mengiringi perpisahan keluarga kecil mereka. Haira tersenyum melihat ekor mobil Mirza yang hampir keluar dari gerbang.
Baru saja ingin masuk, Bi Enis keluar membawa barang-barang yang dirapikan semalam. Tak hanya buku, di dalam kardus yang tak tertutup itu pun nampak sebuah kotak dan juga pigura yang sangat besar. Juga beberapa aksesoris wanita yang serba mahal.
"Itu semua dari kamar Tuan Mirza, Bi?" tanya Haira tanpa ingin menyentuhnya.
Bi Enis mengangguk pelan. Semalam ia memang masih menyimpan di kamarnya karena sudah ngantuk. Dan sekarang akan melanjutkan perintah Mirza, yaitu untuk memusnahkan semua itu.
"Mau di bawa ke mana?" tanya Haira lagi.
"Kata Tuan di suruh bakar saja."
Haira langsung masuk tanpa bertanya lagi. Mungkin itu lebih baik daripada membiarkan semuanya itu berada di antara dirinya dan Mirza.
Mirza yang sudah tiba di kantor miliknya berjalan lenggang menuju ke ruangan yang ada di di lantai dasar. Ia menemui beberapa staf untuk membicarakan perihal kekacauan yang menimpa.
__ADS_1
"Bagaimana bisa mengalami penurunan? Bukankah produk kita yang paling bagus di antara produk lainnya?" pekik Mirza dengan raut wajah yang memendam amarah. Menatap satu persatu beberapa pegawai yang menunduk. Hanya sebagian dari mereka yang berani menatapnya secara langsung.
"Apa yang kalian kerjakan selama ini?" imbuhnya bernada merendahkan.
Laporan tadi membuat telinganya panas. Sering ada masalah, namun kali ini Mirza seakan tak terima karena harus meninggalkan dua orang yang baru saja hadir dalam hidupnya.
"Ada perusahaan lain menawarkan barang yang lebih bagus dari perusahaan kita. Mereka juga menjanjikan dengan harga yang lebih terjangkau," jelas sang direktur utama.
Mirza menyandarkan punggungnya di kursi. Otaknya terus berputar mencari cara untuk mengatasi masalah yang lumayan rumit tersebut.
"Kalau begitu kita harus memberi promo besar-besaran. Tidak hanya untuk konsumen lama, tapi juga pendatang baru."
"Tapi Tuan, itu akan merugikan perusahaan kita." Erkan angkat bicara.
"Tidak masalah, aku akan menggunakan uang pribadi untuk ini. Yang penting kita berhasil."
Keputusan Mirza tak bisa diganggu gugat. Sekali berbicara tak ada kata tapi lagi. Ia langsung menarik sejumlah uang untuk digunakan dalam perusahaannya.
Masalah selesai, semua pegawai kembali ke ruangan masing-masing untuk segera melaksanakan perintah dari Mirza, yaitu membuka promo yang laur biasa.
"Kita akan pergi ke New York tiga hari lagi. Kamu siapkan semuanya!"
Erkan membungkuk lalu meninggalkan Mirza.
Disaat pikirannya kacau, tiba-tiba nama Haira muncul dan mampu membangkitkan semangatnya yang tengah pudar.
Tok tok tok
Ketukan pintu membuyarkan lamunan Mirza. Ia segera menoleh menatap gerangan yang berdiri di ambang pintu.
"Ayla, ngapain kamu ke sini?" tanya Mirza antusias.
Wanita itu tersenyum menghampiri Mirza lalu duduk disampingnya.
"Bertemu kamu."
__ADS_1
Semenjak kematian Lunara, mereka memang tak saling bertemu. Sebab, Ayla melanjutkan studi nya di luar negeri. Sedangkan Mirza, sibuk menyiksa Haira.