Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
New York


__ADS_3

Berulang kali Haira berpesan pada Mirza untuk menjaga pola makan dan istirahat yang teratur. Ia terus mengomel sambil memasukkan beberapa baju pria itu ke dalam koper. Tidak lupa membawakan suplemen yang sering Mirza minum di saat kelelahan.


"Ayo bangun!" Haira mengulurkan tangannya ke arah Mirza yang masih berbaring di atas pembaringan. Menyibak selimut hingga menampakkan tubuhnya yang hanya memakai celana pendek. 


"Cuacanya sangat dingin, tapi kamu kebiasaan kalau tidur gak pakai baju." 


Mirza terkekeh, teringat pergulatannya semalam yang luar biasa. Bahkan Haira mampu melayaninya beberapa ronde hingga berakhir jam tiga pagi. Tak menyangka sebelum berangkat, ia bisa menikmati tubuh istrinya dengan puas. 


"Biasanya kalau suami pulang juga ada penyambutan yang spesial." Mirza turun dari ranjang. Melirik Haira yang memungut baju kotornya. 


"Iya, nanti aku akan bilang kepada kak Nita untuk menyiapkan pesta untuk kamu," canda Haira sembari menatap Mirza yang terus mengikuti pergerakannya dari belakang. 


"Bukan itu." 


"Lalu?" Haira menghentikan langkahnya dan berbalik hingga wajahnya bertabrakan dengan dada seksi suaminya. 


"Seperti semalam, hanya itu yang aku rindukan," ucap Mirza berbisik, merengkuh tubuh mungil Haira dan mengecup kening wanita itu berkali-kali. 


"Siap, Tuan. Sekarang silahkan Anda mandi dulu, waktunya sudah mepet." Mendorong tubuh kekar Mirza hingga tiba di depan pintu kamar mandi. 


Namun, Mirza enggan untuk melepasnya dan terus mengeratkan pelukan yang menghangatkan itu. 


"Sayang cepetan, nanti terlambat," bujuk Haira dengan memberikan ciuman bibir, karena hanya itu senjata yang mampu membuat Mirza nurut. 


"Sekali lagi di kamar mandi," ucap Mirza mengedipkan satu matanya. 


"Nggak!" tolak Haira dengan tegas, mendorong lagi kuat-kuat tubuh Mirza ke dalam kamar mandi lalu menutup pintunya. 


"Ini saja tulangku terasa remuk, seenaknya minta sekali lagi. Memangnya aku ini apaan," menggerutu.


Kemal yang ada di gendongan Nita menangis tersedu-sedu saat melihat Mirza sudah rapi. Ia  tak sanggup membendung air matanya. Meraung-raung dengan tangan yang terus merentang ke arah sang daddy. 


Terpaksa Mirza mengambil alih Kemal dan mendekapnya dengan penuh kasih sayang.


"Daddy cuma sebentar, nak. Nanti kalau daddy sudah pulang, kita jalan-jalan sama mommy." Mirza mengusap punggung Kemal yang bergetar. 

__ADS_1


"Daddy janji ya, gak akan ninggalin aku dan mommy seperti dulu," pinta Kemal mengiba. Mengingat hidupnya yang hampir putus asa karena tak memiliki daddy.


"Daddy janji akan segera pulang." 


Akhirnya hati Kemal luluh dan mau digendong oleh Nita, tangannya terus melambai mengiringi langkah Mirza menuju mobil. 


Sebelum membuka pintu, Mirza menoleh ke arah Haira yang terus melambaikan tangan ke arahnya. 


"Hati-hati!" teriak Haira saat pintu mobil terbuka. 


Kini ia dan Kemal benar-benar terpisah dari Mirza. Entah berapa hari, namun hatinya tetap merasa berat. 


"Tenang saja, Ra. Mirza pasti akan cepat menyelesaikannya dan kembali pada kalian."


Hampir dua belas jam perjalanan, akhirnya Mirza menginjakkan kakinya di New York. Banyaknya masalah hampir membuatnya lupa jika di tempat itu banyak ukiran kenangan indah bersama dengan Lunara, gadis yang dulu ia kenal saat menjadi brand ambassador salah satu produk kecantikan yang bekerja sama dengan perusahaan teman Mirza. 


Mirza jatuh cinta pada pandangan pertama. Karena namanya yang sudah dikenal banyak kalangan, Lunara langsung menerimanya tanpa banyak pertimbangan. 


Namun kini, nama itu hanya tinggal kenangan yang tak perlu diingat lagi. Perbuatan Lunara yang sangat mengecewakan membuat Mirza sepenuhnya ingin melupakan gadis itu. Bahkan menganggap bahwa Lunara tak pernah hadir dalam hidupnya. 


Nita mendapatkan perusahaan yang tak kalah menarik, sebagai anak perempuan satu-satunya, ia memilih untuk terjun di bidang kuliner. Dari ilmu yang didapat, ia bisa menciptakan makanan siap saji yang kini sudah menyebar di seluruh kota, bahkan di mancanegara. 


Mirza disambut oleh beberapa pejabat tinggi perusahaan yang memang sudah tahu kedatangannya. Mereka antusias dan sengaja meluangkan waktu demi bisa bertemu dengan pria itu secara langsung. 


"Bagaimana, Tuan? Apa ada perkembangan." Mirza terus melangkah menuju kamar hotel yang ia pesan. 


Pria bule yang berambut putih itu membuka dokumen di tangannya. Membacakan beberapa rencana yang akan mereka jalankan. 


"Kemarin saya membuka promosi untuk produk terbaru kita, dan sepertinya lumayan laku."


Erkan yang dari tadi membuntuti tuannya juga ikut mengajukan pertanyaan terkait apa yang harus ia lakukan.


"Besok saya sendiri yang akan datang untuk mempromosikan secara umum," lanjut Mirza. Tak mau mengulur waktu untuk berlama-lama, apalagi tangisan Kemal menjadi tanda, bahwa bocah itu menginginkan dirinya cepat pulang.


Erkan membuka pintu kamar tempat mereka menginap. Mempersilahkan Mirza untuk masuk. Setelah itu, ia melarang semua orang untuk tidak mengganggunya. 

__ADS_1


"Jika ada yang Kalian tanyakan, bicara dengan saya," pinta Erkan dengan tegas. 


Mirza melepas bajunya lalu membuka tirai jendela. Menatap indahnya kota yang dipenuhi dengan lampu. 


Sekelebat bayangan Lunara hadir membuat Mirza terperanjat. 


"Inilah kenapa aku tidak mau ke sini, sial." 


Mirza membalikkan tubuh. Tak ingin melihat ke arah luar lagi. 


Beberapa tahun ini Mirza memang tak pernah berkunjung ke New york. Ia ingin menghapus semua yang pernah terjadi saat masih berpacaran dengan gadis itu. 


Ia merogoh ponsel dari saku celananya, menghubungi seseorang yang kini menjadi pendamping hidupnya. 


Dalam hitungan detik, Haira langsung mengangkat telepon darinya. Seperti biasa, mereka video call untuk sekedar melepas rindu. 


"Lagi ngapain?" tanya Mirza beralih duduk di tepi ranjang. 


"Lagi bantuin kak Nita masak." Haira menggeser ponselnya hingga tampaklah wajah cantik sang kakak yang sibuk di depan kompor. 


"Kamu baru sampai, kenapa gak istirahat dulu," kata Nita tanpa menatap. 


"Maunya sih gitu, Kak. Tapi kalau ingat perempuan satu ini, aku gak bisa tidur." 


Haira tersenyum. Kembali menjauh dari Nita, malu jika gombalan suami nya didengar kakak iparnya. 


"Sayang, ke kamar dong. Buka baju kamu." Permintaan yang sangat konyol, namun tak bisa Haira tolak.


"Gak mau, aku malu," jawab Haira berbisik yang mana membuat Mirza semakin gemas. 


"Kenapa harus malu, semalam aku raba-raba nggak papa, kamu malah  keenakan." 


Haira masuk ke kamar. Bulu halusnya merinding mendengar ucapan mesum suaminya. 


Jika ada di dekatnya mungkin ia akan menggigit pria itu, sayang nya mereka saling berjauhan hingga Haira hanya bisa menggerutu kesal. 

__ADS_1


__ADS_2