Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Tusukan


__ADS_3

Hampir seratus persen otak Mirza fokus pada dokumen yang ada di depannya hingga dering ponsel membuyarkan konsentrasi nya. 


"Iya Sayang," sapa Mirza yang akhirnya menutup map. Menyandarkan punggung di kursi kebesarannya.


"Nenek mau datang ke rumah kita, apa  kau tidak mau menjemputnya?"


"Iya, nanti aku akan menyuruh Erkan untuk datang ke rumah nenek," ucap Mirza santai. 


Mirza mengusap wajahnya lalu menghubungi Erkan untuk datang ke ruangannya. Ia tak ingin nenek lama menunggu jemputan darinya. 


"Masuk!" sahut Mirza saat mendengar pintu diketuk. 


Seorang wanita cantik berjalan lenggang menghampirinya. Wajahnya sudah tak asing lagi di mata Mirza.


"Lunara, ngapain kamu ke sini?" Mengalihkan pandangannya ke arah lain. 


Menghindari dada Lunara yang terekspos. Bukan takut tergoda, hanya menjaga pandangannya dari wanita yang bukan mahram. 


Lunara tersenyum renyah. Ia membuka tas dan menyodorkan sebuah undangan di depan Mirza. 


"Ini undangan dari Ayla. Dia akan mengadakan pesta tertutup khusus untuk sahabatnya."


Mirza menerima undangan itu lalu membacanya. Benar saja itu adalah undangan dari Ayla yang akan merayakan pernikahannya nanti malam. Undangan memang tertulis jelas hanya untuk orang terdekat beserta sahabat-sahabatnya saja. 


"Kapan Ayla menikah?" tanya Mirza balik. Beberapa  kali bertemu, bahkan Ayla tak pernah menyinggung tentang pernikahan. 


Lunara duduk di kursi tamu. Kali ini ia bersikap sopan layaknya tamu yang lain. "Gak tahu."


"Ada apa, Tuan?" ucap Erkan yang baru saja datang. 


"Jemput nenek dan Nada. Dan kamu bilang pada pelayan untuk membersihkan dua kamar."


"Baik, Tuan." Erkan membungkuk lalu pergi untuk menjalankan tugasnya. Sekilas melirik Lunara lalu menyalakan sesuatu. 


"Kau masih punya nenek?" tanya Lunara memastikan. 


"Dia neneknya istriku, bukankah juga menjadi nenekku?"


Lunara tak menanggapinya lagi, malas jika pertemuannya harus membahas orang lain. 


"Gimana, Za? Kamu bisa datang, kan?" 


"Aku gak bisa. Haira hamil, dan dia  membutuhkanku. Lagipula malam ini nenek datang, aku tidak bisa meninggalkan mereka." 

__ADS_1


Lunara berdecak, ia tak bisa memaksa Mirza jika sudah berkata seperti itu. 


"Kamu mau minum apa?" tanya Mirza sembari melipat bajunya sesiku. 


"Tidak sudah, Za. Biar aku yang buatin kamu."


Lunara lalu mengambil dua gelas. Membuka dua bungkus kopi kesukaan Mirza. Meskipun hampir delapan tahun berpisah, ia tidak lupa minuman kesukaan Mirza, termasuk kopi hitam dengan sedikit susu. 


Tak berselang lama, Lunara meletakkan secangkir kopi di depan Mirza yang tampak lelah. 


"Minum dulu," ujarnya. 


Mirza langsung menyambar kopi itu dan menyeruputnya. 


Ternyata Lunara masih ingat kopi kesukaanku. 


Menyeruput nya lagi hingga tinggal separo.


"Lun, nanti ada acara launching produk terbaru di perusahaan kita, kamu harus siap-siap untuk mengisi acaranya."


Lunara mengangkat dua jempolnya yang berarti siap untuk melaksanakan tugas. 


Lima menit kemudian, Mirza merasakan tubuhnya sedikit aneh. Ia mengelus ceruk leher nya yang terasa panas. Kepalanya sedikit pusing dengan pandangan yang sedikit buram. 


"Kamu tidak apa-apa, Mir?" Suara lembut menyapa membuat Mirza menoleh. 


Ia minum lagi kopi yang tinggal sedikit.  Berharap bisa mengurangi kepalanya yang sedikit pusing. 


Lunara menghampiri Mirza. Tangannya mengulur membantu pria itu membuka kancing bagian atas. Mengelap dada Mirza yang dipenuhi keringat. 


Tidak ada penolakan dari Mirza yang saat ini setengah sadar dan terus memanggil Lunara dengan nama Haira. 


"Lakukan apa yang kamu mau," bisik Lunara menggoda. 


Tanpa aba-aba, Mirza menyambar bibir Lunara dengan rakus. Ia semakin tak terkendali saat tangan Lunara ikut meraba dada Mirza. 


Aku tidak akan membiarkanmu lepas dariku, Za.


Tersenyum menyeringai, menikmati bibir Mirza yang terus menjelajahi lehernya. 


Lunara membuka sabuk Mirza. Membiarkan pria itu membuka bajunya. Hingga kini keduanya bertelanjang dada. 


Lunara  terus memberikan sentuhan yang membuat Mirza semakin kelabakan. Tak henti-hentinya memancing birahi pria itu yang sudah memuncak. 

__ADS_1


"Cepat buka celanaku, Sayang," pinta Mirza dengan suara parau. Ia sudah tak tahan menahan sesuatu yang sudah memberontak memenuhi celananya. Begitu juga dengan Lunara yang antusias untuk melucuti celana Mirza. Ia pun mempercepat aksinya. 


Baru saja akan menyatukan tubuhnya, pintu terbuka membuat keduanya menoleh ke arah sumber suara. 


Mirza mengerutkan alisnya saat melihat wanita yang berdiri di belakang pintu. Lalu, ia menatap wanita yang berada di bawah kungkungannya.


"Lunara," pekiknya. Mirza bergegas menjauh dari wanita itu. 


Haira terpaku. Seluruh organ tubuhnya tak berfungsi melihat tontonan yang menakjubkan di depan mata. 


Rasa panas yang semakin menyeruak membuat Mirza tersiksa, namun ia sadar itu salah. Tangannya gemetar memungut baju nya yang teronggok di lantai. 


"Sayang, tolong aku!" pinta Mirza memakai bajunya dengan asal. 


Haira menepis tangan Mirza yang hampir menyentuhnya. Air mata yang menumpuk di pelupuk kini luruh sudah bersamaan dengan hatinya yang hancur berkeping-keping. 


"Kamu jahat!" Haira menampar pipi kokoh Mirza lalu berjalan mundur. 


"Ini tidak seperti yang kamu lihat, Sayang. Aku __" 


"Cukup!" teriak Haira. Ia tak sanggup mendengarkan penjelasan dari Mirza. Bagaimana jika dirinya tidak datang, apa yang akan terjadi selanjutnya. Haira tak bisa membayangkannya lagi. 


Haira menyeka air matanya lalu meletakkan tasnya di atas meja kerja suaminya. Ia menarik lengan Lunara dan merobek baju wanita itu. Mendorongnya ke luar ruangan. Memanggil beberapa karyawan yang melintas untuk mendekat. 


"Kalian lihat perempuan ini! Betapa rendahnya dia sudah berani merebut suamiku," ucap Haira menunjuk Lunara. Meluapkan amarahnya yang membuncah memenuhi ubun-ubunnya. 


Mereka saling berbisik dan menatap Lunara jijik.


Mirza yang ada di belakang pintu membungkuk dan menggigit bibir bawahnya. Menahan sesuatu yang semakin menyiksa tubuhnya, akhirnya ia meraih ponsel dan menghubungi Erkan. 


"Sekarang, kau pergi dari sini, atau aku akan mempermalukanmu lebih dari ini," ancam Haira. Sebagai seorang wanita yang bermoral, ia tak mau merendahkan derajat sesama wanita meskipun hatinya telah tersakiti. 


Dengan wajah yang dipenuhi rasa malu, Lunara meninggalkan kantor Mirza. 


Haira kembali masuk menghampiri Mirza yang sudah tak sadarkan diri. Entah itu salah siapa, ia belum bisa menerima kelakuan sang suami yang sudah melukai hatinya. Bahkan ini lebih menyakitkan daripada saat Mirza merenggut kesuciannya. 


Erkan langsung masuk ke ruangan Mirza. Menghampiri Haira yang menangis dan merangkul kedua kakinya. 


"Nona, apa yang terjadi dengan Tuan?"


Erkan panik dan membawa Mirza ke sofa. 


"Kamu urus kak Mirza dengan baik. Kalau dia menanyakan aku, katakan saja aku pergi untuk menenangkan diri."

__ADS_1


Haira menyeka air matanya lalu pergi membawa sejuta luka yang menancap di dadanya. 


Sepertinya kamu harus belajar lagi menilai orang, Kak. Tidak semua orang yang kamu tolong itu akan membalasmu dengan baik. Justru dia akan memanfaatkan kebaikan kamu seperti yang dilakukan Lunara. Berjuanglah, aku mencintaimu.


__ADS_2