Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Di balik kotak putih


__ADS_3

Hampir satunya jam lamanya Ayla dan Mirza saling berbincang. Mereka lebih banyak membahas pekerjaan daripada pribadi. Sesekali Ayla menyinggung tentang masa lalu, namun dengan cepat Mirza mengalihkannya. Ia tak mau teringat lagi tentang Lunara, orang yang diam-diam sudah mengkhianati nya. 


Terlalu perih untuk diingat hingga hatinya tak mampu untuk menampung beban itu. Melupakan semua nya dan membangun keluarga baru, hanya itulah yang bisa menyembuhkan luka hati Mirza. Setelah mengetahui fakta yang sebenarnya, ia menilai jika kematian Lunara bukan lagi musibah, melainkan berkah yang melepaskannya dari belenggu kebohongan wanita itu. 


"Kamu bekerja di mana?" tanya Mirza pada Ayla. 


"Di rumah sakit dekat sini. Kebetulan aku juga sudah bosan tinggal dengan mommy, dia itu bawel banget." 


Mirza hanya manggut-manggut menanggapi penjelasan Ayla. 


"Apa sekarang kamu sudah menikah?" tanya Ayla selanjutnya.


"Sudah, memangnya kenapa?" 


"Siapa perempuan yang beruntung menikah dengan kamu, pasti dia lebih cantik dari Lunara dan lebih terkenal." 


Ayla penasaran dengan wajah wanita yang sudah berhasil mendapatkan pria di depannya itu.


Mirza hanya tertawa, tidak mungkin ia menjelaskan pada Ayla tentang wanita yang saat ini telah menyusup masuk ke dalam hatinya. Bahkan memenuhi seluruh organ tubuhnya hingga di setiap langkah pasti akan terbayang dengan wajah manisnya. 


Pasti akan terdengar sangat aneh. Apalagi Ayla menyaksikan sendiri saat ia dengan tega menyuruh polisi untuk membawanya dan tidak memberi maaf, namun itulah yang terjadi. Mirza tak mungkin berdusta karena saat ini cintanya hanya untuk wanita itu seorang. 


"Ternyata perempuan cantik dan berpendidikan tinggi tak menjamin kita bahagia, terkadang dia hanya memanfaatkan kelebihannya untuk menutupi kebusukan."


Mirza bisa belajar dari masa lalu, di mana kepercayaannya dibalas dengan sebuah penghinaan yang sadis.


Terdengar seperti sebuah sindiran, namun Ayla tidak paham pada siapa ucapan itu dilayangkan. 


"Apa kamu tahu, kalau sebenarnya Lunara itu hamil?"


"Hamil?" ulang Ayla terkejut. Menatap manik mata biru Mirza yang tampak penuh dengan amarah. 


"Ternyata dia hamil dengan laki-laki lain. Aku tidak menyangka dia sejahat itu padaku."


Ayla membisu. Sedikit pun tak pernah tahu tentang masalah itu, bahkan selama mereka bersama, Lunara tidak cerita apapun selain menitipkan kotak putih yang sudah diberikan pada Mirza sesuai ucapan Lunara sebelum tragedi kecelakaan itu terjadi. 

__ADS_1


"Tapi apa kamu sudah tahu isi dari kotak itu?" tanya Ayla.


Mirza mengangkat kedua bahunya. Ia merasa tak pernah membuka apapun kotak seperti yang dikatakan Ayla. 


"Dulu aku memberikannya pada Arini, apa dia tidak memberikannya pada kamu?" 


Mirza mengingat-ingat kotak kecil yang semalam dibersihkan oleh bi Enis, entah itu atau tidak, ia sudah tidak berminat untuk mengetahuinya.


"Beberapa hari sebelum kejadian, Lunara sedikit murung, dia bilang keluarganya yang ada di luar negeri sakit dan tidak bisa datang ke acara pernikahan Kalian. Setelah itu ia menitipkan kotak putih itu padaku, karena dia harus segera pergi dan tidak sempat datang ke rumah. 


Ayla menjeda sejenak, mengingat-ingat yang terjadi tujuh tahun lalu.


"Tapi ternyata dia gak jadi pergi, katanya penyakit kerabatnya tidak parah. Mungkin karena lupa, dia tidak menanyakan kotaknya lagi. Dan aku melihat itu setelah dia meninggal." 


Apa jangan-jangan isi kotak itu ada hubungannya dengan kehamilan Lunara, terka Mirza dalam hati.


Tiba-tiba dering ponsel membuyarkan otak Mirza yang hampir berkelana. Ia segera menggeser lencana warna hijau tanda menerima. 


"Halo, Sayang. Ada apa?" tanya Mirza dengan suara lembut. 


"Aku mau jalan-jalan dengan Arini. Kata dia nggak jauh, cuma di pusat perbelanjaan dekat rumah." 


Ingin sekali melarang, namun Mirza juga kasihan pada Haira yang hampir setiap hari hanya di rumah. 


"Aku izinkan, tapi jangan lama-lama. Kamu ambil kartu yang warna hitam. Beli apa saja yang kamu suka, kalau perlu ajak kak Nita dan kak Aynur supaya mereka menjagamu."


Terdengar suara gelak tawa yang membuat Mirza menjauhkan benda pipihnya dari telinga. 


"Aku sudah tua. Tidak perlu dijaga, lagipula aku tidak mungkin kesasar," ucap Haira masih diiringi tawa kecil. 


Mereka mesra banget, seperti apa wajah istri Mirza. Apa dia wanita dari keluarga konglomerat juga. 


"Hati-hati, pokoknya jangan pernah tergoda dengan pria lain, karena aku tidak akan segan-segan membunuh mereka jika berani menyentuhmu."


"Posesif banget sih," jawab Haira. 

__ADS_1


Sambungan terputus,  Mirza mengambil dokumen yang ada di depannya lalu beranjak." Maaf, La. Ada meeting penting, kapan-kapan kita lanjut lagi."


Ayla mengangguk dan ikut berdiri. 


Keduanya berpisah di depan ruang rapat. Jika Ayla keluar dari kantor itu, Mirza berjalan ke arah lift. Sebenarnya tak ada pekerjaan yang penting. Mirza hanya menghindari pertanyaan dari Ayla yang pasti akan menyangkut tentang Haira. 


Setelah sekian lama hanya bisa melihat pemandangan di sekitar rumah. Akhirnya Haira bisa menghirup udara segar. Hidupnya berubah drastis. Kini ia adalah wanita terhormat dan berstatus sebagai nyonya Mirza. 


Dua pengawal yang memakai seragam berwarna hitam itu terus mengikuti langkahnya dan Arini hingga masuk ke mall. 


"Kenapa harus pakai pengawal?" bisik Haira di telinga Arini sembari menoleh ke arah pria bertubuh kekar yang berdiri di belakangnya. 


"Harus, Kak. Takutnya ada musuh kak Mirza yang mencoba untuk menyakiti atau menculik, Kakak." Arini balas berbisik, meraih tangan Haira dan mengajaknya ke sebuah toko baju. 


Ternyata gak enak juga jadi orang kaya. Masa harus dikawal seperti ini. 


Meskipun merasa risih, Haira pura-pura tidak melihat mereka yang terus mengikutinya. 


Hari ini Kemal sengaja tidak ikut, sebab bocah itu memilih pergi ke rumah Fajar untuk bermain di sana. 


Setelah apa yang dilakukan Mirza pada Haira, Nita sengaja tinggal di Istanbul untuk memantau sang adik supaya tidak mengulangi perbuatannya dulu. 


Haira membeli beberapa baju rumahan dengan harga yang murah lalu memberikannya pada pengawal yang berada di depan pintu. Ia berjalan lenggang meninggalkan toko baju. Setibanya di sebuah lorong, matanya menatap ke kanan kiri seperti mencari sesuatu.


"Anda mencari apa, Nyonya?" Suara berat menyapa dari arah belakang mengagetkan Haira.


"Kamu ngapain di sini?" pekik Haira mundur satu langkah. Menatap lekat pengawalnya yang terus mengikutinya.


"Menjalankan perintah Tuan Mirza. Saya tidak akan meninggalkan nyonya sedetik pun.


Haira menepuk jidatnya lalu menggeleng.


Mikir pakai otak, bukan pakai dengkul. Haira hanya mengejek dalam hati, takut menyinggug pria itu.


"Aku mau ke kamar mandi, apa kamu mau ikut masuk juga? Nanti kalau Tuan Mirza tahu, pasti kamu dipecat karena sudah mengintipku," ancam Haira serius.

__ADS_1


Seketika pengawal itu langsung membalikkan badan memunggungi Haira.


__ADS_2