
Sang bodyguard menjemput Kemal, Hasan dan Fajar sebelum waktunya pulang. Seluruh anak-anak dari keluarga Glora diamankan beserta Aynur dan Nita. Mereka dibawa ke sebuah vila yang terpencil demi keselamatan. Deniz dan Fuad bergerak cepat, mengerahkan anak buah mereka untuk mencari Haira. Melacak lewat jalan pintas untuk bisa menembus perlawanan musuh.
''Kamu yakin ini nomor plat mobilnya?'' tanya Deniz memastikan setelah Mirza menulis angka plat yang sempat ia baca.
''Iya, Kak. Dan sepertinya ini masalah bisnis.''
''Dengan siapa saja kamu kerja sama, atau mungkin ada klien yang sempat kecewa denganmu.''
Erkan yang dari tadi ada di samping Mirza ikut panik. Ia tidak berani mengambil langkah. Sebab, Deniz dan Fuad sudah turun tangan.
"Aku pernah memenangkan tender besar di Izmir, dan dulu saat membeli pabrik Garmen juga sempat berdebat, tapi itu sudah lama." Entah mana lagi, Mirza tidak terlalu mengingatnya, karena saat ini yang ada di otaknya hanya Haira yang pasti ketakutan.
''Kamu ikut aku!'' ajak Deniz membukakan pintu untuk Mirza. Fuad dan Erkan pun ikut masuk ke dalam mobil. Kembali memberi instruksi pada pengawal untuk berpencar.
''Tuan, kami sudah tahu markas penculik itu.'' Sebuah kabar yang mampu mengembangkan senyum di bibir Mirza. Ia langsung merebut ponsel yang ada di tangan Deniz dan menempelkan di telinganya.
''Di mana?'' tanya Mirza antusias. Ia berharap ada titik terang tentang istrinya.
Setelah mendapatkan petunjuk dari pengawal, Mirza langsung memutus sambungannya. Mengatakan pada Deniz apa yang ia dengar dari pengawalnya.
Ternyata mereka membawa Haira ke kota Eyup.
Eyup adalah salah satu daerah yang terletak di kota Istanbul, persisnya beberapa kilometer ke arah barat dari sisi luar benteng Konstantinopel. Mirza maupun saudara yang lainnya hafal dengan kota itu meskipun jarang menginjakkan kakinya di sana.
Kira-kira siapa yang menculik Haira.
Mirza menggigit jarinya. Menatap ke arah luar. Ia menyesal sudah membuat Haira sengsara.
''Kak, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Haira?'' Ucapan itu lolos begitu saja, dadanya terlalu penuh untuk memendam kesedihannya.
Deniz menepuk bahu Mirza yang nampak gelisah. Ia tahu, pasti adik bungsunya itu sangat takut kehilangan istrinya.
"Kamu percayakan semua ini pada kakak, Tidak akan terjadi sesuatu pada Haira.''
Mobil yang dilajukan Erkan sudah memasuki kawasan yang dikatakan oleh pengawal. Jalan yang mereka lalui lumayan sepi. Ada beberapa rumah yang berdiri kokoh, namun nampak tak berpenghuni.
__ADS_1
Deniz kembali menghubungi anak buahnya saat Erkan kebingungan memilih jalan.
''Lurus lalu belok kanan,'' titah Deniz.
Hampir saja Mirza mengambil senjata dari dashboard. Deniz mencengkal tangan pria itu.
''Biar aku yang menyelesaikan semuanya. Kamu cukup diam dan patuh.''
Sebagai kakak bungsu, Deniz bertanggung jawab penuh atas kedua adik nya, bahkan ia berjanji pada kedua orang tuanya akan selalu menjadi Nita dan Mirza sampai menghembuskan napas terakhir. Selalu ada untuk mereka yang membutuhkan bantuannya. Sedikitpun tak pernah mengucapkan lelah disaat mereka berdua di ambang masalah. Perjuangannya membesarkan adik-adiknya sudah lunas dan kini tinggal membangun keluarganya sendiri.
Mobil berhenti di gang buntu. Banyak mobil di sana dan juga penjaga yang saling mengangkat senjata.
Deniz turun dari mobil, sedikitpun tak merasa takut saat mereka semua mengarahkan senjata di depannya.
''Aku hanya ingin bertamu,'' ucap Deniz menjelaskan.
Mirza mengikuti langkah sang kakak yang membelah para pengawal. Ia tak berani membentak meskipun tangannya sudah terlalu gatal ingin merobek mulut mereka yang terus menodongkan senjata.
Tiba di depan sebuah rumah, Deniz menghentikan langkahnya menatap dua pengawal yang berjaga di depan pintu.
''Aku ingin bertemu Tuan kalian, bilang saja kalau Deniz Glora datang,'' pinta Deniz dengan nada ramah. Menunjukkan dirinya yang memang berwibawa.
''Tuan Yusef,'' pekik Mirza, hampir saja kakinya bergerak, tangan Deniz merentang ke samping menghalanginya.
"Yusef, ternyata kau yang ingin mengganggu keluargaku.''
Pria dengan hazel berwarna biru itu tersenyum lalu menghisap rokok. Setelah itu membuang dan menginjaknya.
''Ternyata kau masih berlindung di belakang kakakmu, Mirza," ejek Tuan Yusef sambil melihat Mirza sinis.
''Aku __" Ucapan Mirza terpotong saat Deniz mengangkat tangannya. Hanya pria itu yang mampu menghentikan semuanya.
''Kalau kau berbisnis dengan cara sehat, tidak mungkin aku ikut ke sini dengan Mirza. Bukankah itu artinya kau yang tidak punya nyali?'' Deniz balas mengejek.
Kedua tangan Yusef mengepal sempurna mendengar ucapan Deniz yang bernada merendahkan. Meskipun sudah handal di dunia bisnis, Deniz tetap saja menganggap Yusef sebagai semut kecil yang sudah berani menggigitnya.
__ADS_1
''Sekarang lepaskan adikku atau aku yang akan menghancurkan hidupmu,'' ancam Deniz kemudian.
Yusef menyunggingkan bibirnya. Meskipun ia bukan tandingan Deniz, tetap saja mementingkan egonya.
''Serahkan dulu perusahaan milik Tuan Mehmet, maka aku akan melepaskan Haira.''
Deniz juga mengingat nama itu, nama yang dulu pernah menjadi penguasa raja bisnis, namun harus jatuh dan menjual seluruh perusahannya, dan mungkin yang dimaksud Yusef adalah perusahan garmen yang kini menjadi Mirza.
''Tidak semudah itu, Mirza yang membesarkan perusahaan itu setelah bangkrut, dan sekarang kau memintanya. Benar-benar tidak punya harga diri.''
''Tolong...'' teriak dari dalam menghentikan pembicaraan Deniz dan Yusef, sedangkan Mirza tak bisa menahan amarahnya, ia menunjuk Yusef yang berdiri tak jauh dari sang kakak.
Itu suara Haira.
''Lepaskan istriku, atau kau akan aku bunuh.''
Darah Mirza mendidih. Namun, pergerakannya masih tertahan oleh Deniz.
''Aku tidak akan mengulang ucapan ku untuk yang ketiga kali, kau lepaskan adikku atau aku yang akan turun tangan.''
Sebenarnya amarah Deniz dan Fuad pun sudah memuncak di ubun-ubun, namun mereka berdua berusaha tenang demi Haira yang kini menjadi tawanan.
''Aku tidak takut mati di tangan kalian.'' Dengan beraninya menunjuk wajah Deniz.
Seketika itu Deniz maju hingga baku hantam terjadi. Ia dan Fuad menyerang Yusef dan asistennya.
''Selamatkan Haira!'' teriak Deniz pada Mirza yang hampir ikut berperang.
Suara tembakan menggema di setiap sudut ruangan membuat Haira yang ada ditempat kosong itu takut dan menutup kedua telinganya, seumur hidup, ini pertama kalinya ia mendengar suara tembakan.
Mirza dan dua pengawal terus memasuki lorong, sedangkan Deniz dan Fuad menunjukkan kekuatannya pada Yusef dan anak buahnya. Erkan pun ikut membantu Mirza mencari jalan karena tempat itu sangat gelap.
''Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, Yusef,'' ucap Deniz di tengah-tengah perkelahiannya. Kali ini tak ada yang lebih penting selain nyawa kedua adiknya di dalam.
Ia terus melawan Yusef yang sudah semakin lemah. Beberapa anak buah Yusef pun tumbang. Pertahanannya hampir runtuh dan memilih untuk mundur. Memberi aba-aba pada anak buahnya untuk menjauh.
__ADS_1
Baru saja Deniz membalikkan tubuh, terdengar tembakan menggema dari arah belakang. Yang mana membuat Mirza yang ada di ujung lorong menoleh.
''Kakak…'' teriak Mirza saat Deniz ambruk di lantai.