Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Tidak setuju


__ADS_3

"Ayo kita pulang, Son!" Wajah yang tadinya dipenuhi dengan senyuman kini mendadak pias. Nyonya Alvero menarik tangan Erkan untuk meninggalkan rumah mewah itu. 


"Mommy." Erkan mencoba menahan mommy nya yang sudah membuka pintu, mobil. "Jelaksn dulu, ada apa?" 


Nada sudah berlinang air mata. Ia melihat semburat kekecewaan di wajah sang calon mertua. Entah karena apa,  ia pun belum mengerti. 


Sedangkan Meyzin, hanya bisa terpaku di tempat. Organ tubuhnya pun terasa mati hingga tak mampu bergerak. 


"Dulu, sekarang dan selamanya, orang miskin tidak akan bisa bersatu dengan orang kaya." Tersenyum getir. "Mungkin kamu dan Nada tidak berjodoh. Carilah perempuan yang terlahir dari kalangan biasa yang bisa menghargai kita. Mommy tidak mau kau menerima penghinaan seperti yang pernah mommy alami." 


Erkan menggeleng. Ia semakin tidak mengerti dengan ucapan mommy nya. 


"Mommy tidak setuju kau menikahi Nada." Menunjuk Nada yang sudah berderai air mata. 


Bagaikan terhempas di dasar jurang terdalam, Erkan merasakan pilu. Dalam hatinya pernikahan yang hanya hitungan jam kini harus menghadapi rintangan yang serius. 


"Tapi pernikahanku lusa, Mom.  Undangan juga sudah disebar, semua sudah dipersiapkan. Gak mungkin kita batalin begitu saja." Mencoba membujuk mommy nya dengan berbagai alasan. 


"Kau mau melawan mommy?" Reflek,  Erkan memeluk nyonya Alvero. Ia tidak mau melihat wanita itu menangis,  meskipun sebenar nya juga kasihan pada Nada yang tampak kacau. 


Maafkan aku, Nad. Begitulah isi hatinya saat melihat sang calon istri sesenggukan. 


Setelah sekian menit,  akhirnya Meyzin menghampiri Nada dan memeluknya. Menguatkan putrinya dan berbisik. "Semua akan baik-baik saja, ini hanya masalah waktu, daddy akan menjelaskan pada mommynya Erkan." 


Erkan hanya bisa memandang Nada dari jauh,  belum saatnya untuk memeluknya mengingat hati nyonya Alvero yang saat ini sensitif. 


"Cepat masuk!" teriak nyonya Alvero dari dalam mobil. 


Aku pasti kembali. 


Dengan berat hati Erkan mengikuti perintah mommy nya. 


Nada sesenggukan, ia hanya bisa melihat ekor mobil itu menghilang di balik gerbang.


Maafkan daddy, Nak. Ternyata keegoisan ku berimbas pada putriku,  tapi aku tak bisa tinggal diam. Mereka harus bersatu.  Apapun akan aku lakukan demi putriku. 


"Sebenarnya ada apa, Dad? Kenapa mommy tidak mau menerimaku sebagai menantunya?" tanya Nada penasaran. 


"Ini tentang masa lalu, dan daday tidak bisa menceritakan padamu." Meyzin menggiring Nada masuk ke dalam, ia harus melepaskan semuanya sebelum terlambat. 


Perdebatan kembali terjadi di dalam mobil. Erkan tak terima begitu saja dengan keputusan mommy nya. Sungguh membingungkan dan membuatnya emosi. 

__ADS_1


"Mommy akan carikan istri yang lebih cantik." 


"Gak mau," jawab Erkan dengan cepat.  Tak peduli dengan mommy nya, kali ini ia tetap pada pilihannya,  yaitu menikahi nada. 


"Mau melawan mommy?" Nyonya, Alvero masih tak terima. Ia menarik telinga Erkan dari samping hingga membuat sang empu meringis. 


Sang supir hanya menahan tawa melihat aksi mereka. Raya ikut bingung dengan masalah yang masih teka-teki. 


"Mom, mencintai itu tak semudah mengatakan. Selama ini aku banyak mengenal perempuan, tapi hanya Nada yang aku cintai. Mommy gak bisa mengambil keputusan begitu saja. 


Mengusap telinga yang terasa panas.


"Terserah, mommy tetap tidak mau merestui kalian."


Erkan memilih bungkam. Sekeras apapun ia melawan nyonya Alvero, pada akhirnya akan kalah juga. 


Mobil berhenti di depan apartemen,  bertepatan saat keluar, Aslan datang dengan sejuta pesonanya. 


"Ngapain kau ke sini?" tanya Erkan ketus.  Hatinya sudah terlalu kesal menghadapi mommy nya, dan akan melampiaskan pada siapapun yang ada di depan nya. 


"Cuma mau nganterin ini." Menyodorkan sebuah dokumen pada Erkan. Sedangkan, matanya tak teralihkan dari gadis yang sibuk mengeluarkan koper dari bagasi. 


Setelah menerima, Erkan langsung mengajak mommy nya masuk. Meninggalkan Aslan tanpa mengucapkan terima kasih. 


"Boleh, kalau tidak merepotkan." 


Aslan mengusap-usap kedua tangannya.  "Tidak, ini adalah pekerjaan yang menyenangkan."


Hening


Di dalam apartemen itu tak ada pembicaraan. Aslan bagaikan patung hidup tanpa ada yang menyapa.  Nada menemani mommynya di kamar. Wanita itu menangis dan memeluk guling. 


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Aslan berbisik. 


"Mommy tidak menyetujuiku menikah dengan Nada. Bukankah ini gila?"


Kening Aslan berkerut. ingin menertawakan sang sekretaris tapi takut ia kena pukul tangan baja itu, akhirnya pura-pura bersedih akan lebih baik. 


"Aku turut berduka cita. Semoga kau mendapatkan jodoh yang lebih baik lagi."  Seketika sebuah pukulan melayang di perut Aslan. Pria itu jatuh tersungkur karena belum siap menerima serangan dadakan. 


"Kalau kau hanya mau menertawakan ku,  lebih baik pergi dari sini." 

__ADS_1


Bukan pintu tertutup yang ditunjuk, melainkan Mirza yang baru datang.  


"Ada apa ini?" tanya Mirza yang belum tahu. 


"Tu…Tuan." 


Haira menerobos masuk lalu duduk di samping Erkan. Tak sabar ingin segera menanyakan kebenarannya. Pasalnya, Nada hanya menangis saat menelponnya dan mengucap nama Erkan. 


"Tadi Nada menelponku dia menangis,  sebenarnya ada apa?" 


Erkan tertunduk lesu. Membayangkan wajah Nada, pasti dipenuhi air mata seperti saat ia pergi tadi. 


Mirza ikut duduk di samping sang istri yang nampak khawatir. 


"Mommy tidak menyetujui pernikahan saya dengan Nada." Satu kalimat itu sudah cukup menjelaskan pokok masalahnya.


Tak seperti Haira yang ikut bersedih, Mirza justru kegirangan mendengar mommy sekretarisnya itu sudah tiba. 


"Di mana dia?"


Plak 


Disaat genting, justru pria itu terlihat bahagia. 


"Sayang, mommy nya Erkan itu mommy ku juga. Aku harus menemuinya, sekalian  membujuknya,  karena hanya aku yang bisa.''


Ciri khas seorang Mirza selalu membanggakan diri di depan semua orang. Bahkan dia sangat percaya bisa meluluhkan hati Nyonya Alvero. 


Mirza masuk tanpa permisi, menyuruh Nada keluar.


Suara dentuman sepatu dan lantai semakin dekat. Nyonya Alvero mengusap air matanya tanpa ingin menoleh.


"Kalau kau ingin membujuk mommy percuma, karena sampai kapanpun mommy tidak akan menyetujui pernikahanmu dengan Nada."


''Ini aku, Mom.'' Suara berat menyapa membuat Nyonya Alvero terhenyak. Lantas, wanita itu memeluk tubuh tegap tinggi yang berdiri di samping ranjang.


"Ya Tuhanku, ini kau. Mirza Asil Glora yang suka kentut."


Harga diri Mirza jatuh ke dasar lautan terdalam hanya karena mommy laknat itu menyebutnya tukang kentut.


Mirza mendaratkan jari telunjuknya di bibir. Memberi kode pada Nyonya Alvero untuk diam. Malu bukan main, bagaimana bisa kenangan buruk itu masih diingat oleh mommy nya Erkan. Padahal, hanya sekali ia kentut. Itu pun memang di sengaja untuk membangunkan Erkan.

__ADS_1


"Di luar ada istriku. Dia ingin berkenalan dengan Mommy."


Mirza mengalihkan pembicaraan demi menjaga image. Menggiring Nyonya Alvero keluar untuk membahas tentang peenikahan Erkan.


__ADS_2