
"Apa kau yakin tidak ingin kusentuh?" Mirza menyembulkan kepalanya keluar. Menatap punggung Haira yang sedang melipat selimut. Tak percaya dengan yang diucapkan istrinya.
"Yakin." Haira menjawab singkat sambil menahan tawa. Membayangkan raut wajah Mirza, pasti sangat menyedihkan.
Tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perut Haira. Ia tahu Mirza tidak akan percaya begitu saja dengan ucapannya dan akan terus meminta hak.
"Ayolah Sayang, cepetan mandi! Atau aku mandikan?" tawar Haira, ia sudah tak tahan dengan Mirza yang terus bergelayut manja.
"Percuma kamu mandiin kalau gak boleh menjenguk dedeknya."
Mirza mengendurkan pelukannya dan berlalu ke kamar mandi. Ia memilih untuk mandi sendiri daripada dimandikan, dan otomatis akan membangkitkan sesuatu yang ada di bawah sana. Namun, tak bisa disalurkan karena ngidam yang menurutnya sangat aneh.
Satelah pintu terdengar tertutup, Haira tertawa lepas sambil guling-guling di atas ranjang. Menikmati hasil kebohongannya.
"Kalau seperti ini aku kan bebas dan tidak merasa terganggu dengan permintaannya."
Haira merasa menang sudah mengelabui Mirza yang masih polos dalam masalah ngidam. Dan menganggap setiap ucapan ibu hamil adalah ngidam. Ia menyiapkan baju Mirza di atas ranjang lalu keluar.
Belum ada siapapun di meja makan. Erkan masih ada di ruang tamu dan sibuk berbicara dengan benda pipihnya. Nenek pun ada di ruang makan sedang menyusun makanan.
"Nada ke mana, Nek?" tanya Haira celingukan mencari gadis itu.
Nenek Zubaida menyungutkan kepalanya ke arah taman.
Nampak Nada sedang duduk sambil mendengarkan musik dengan suara lirih.
Haira menghampirinya dan memeluknya dari belakang. Ia merasa bersalah sudah membongkar jati diri gadis itu. Namun, semua sudah terjadi dan tak bisa diputar kembali.
"Lagi mikirin apa?" tanya Haira basa-basi.
Nada mengusap air matanya yang sempat lolos lalu tersenyum paksa. "Gak mikirin apa-apa," jawabnya memalingkan pandangannya, takut Haira tahu kalau ia sedang menangis.
"Maafin kakak karena __"
"Kak," sergah Nada memotong ucapan Haira. "Tidak ada yang perlu dimaafkan. Seharusnya aku yang minta maaf sudah lancang menyalahkan Kakak tentang kematian ayah dan ibu. Tapi untuk kak Mirza, aku benar-benar hanya menguji dia. Aku sudah mencurigai nya sejak datang ke mari mencari kakak."
Nada menggenggam kedua tangan Haira.
"Terima kasih karena kakak sudah merawatku dari kecil. Terima kasih karena selama ini kakak sudah berkorban untukku. Sampai kapanpun aku tidak akan bisa membalas kebaikan kakak."
Keduanya saling memeluk dan saling menitihkan air mata.
Kalau ayah dan ibu bukan orang tua kandungku, lalu di mana orang tuaku yang sebenarnya.
Pertanyaan itu terus mengusik jiwa Nada yang terguncang dengan fakta sebenarnya.
__ADS_1
Erkan yang mengambil air putih di dapur tak sengaja melihat mereka, hatinya ikut terenyuh melihat tali persaudaraan yang sangat erat.
"Apa kamu sudah punya pacar?" tanya Haira mengalihkan pembicaraan.
Nada menggeleng. Selama ini ia belum memikirkan tentang pasangan hidup dan fokus menikmati pekerjaanya.
Dorrr
Erkan menyemburkan minumannya ke arah dinding saat telinganya terasa berdengung. Dengan sengaja, Mirza mengagetkannya dari belakang.
Sangat menyebalkan, namun Erkan tak bisa berbuat apa-apa melihat Mirza yang nampak berbahagia diatas penderitaannya.
"Kalau saya tuli bagaimana, Tuan?" protes Erkan membersihkan bajunya yang terkena cipratan air.
"Kamu ngapain di sini?" Mata Mirza menatap Haira dan Nada yang juga melihatnya.
"Kamu ngintip?" terka Mirza dengan suara lantang.
Haira dan Nada masuk menghampiri mereka yang saling ribut.
"Saya hanya mengambil air minum." Menunjuk gelas kosong yang beberapa detik diletakkan di atas wastafel.
Mirza manggut-manggut mengerti.
"Ada apa, Sayang?" Haira menghampiri Mirza, sedangkan Nada mengambil tisu, membantu Erkan mengelap bajunya yang basah.
"Aku gak ngintip kamu dan nona Haira. Aku juga gak dengar apa yang Kalian bicarakan," kata Erkan dengan cepat.
Nada tersenyum tipis. "Dengar juga gak papa. Lagipula aku dan kakak Haira tidak membicarakan apa-apa."
Nada berjalan menuju ruang makan diikuti Erkan dari belakang.
"Silahkan duduk!" Nada menarik kursi, mempersilahkan Erkan untuk duduk. Lalu memanggil dokter Hasad dan Mirza serta Haira untuk bergabung ke meja makan.
Tidak ada pembicaraan, hanya dentuman sendok dan piring yang terdengar. Sesekali Mirza melirik Erkan dan Nada yang duduk bersejajar.
Sepertinya mereka cocok.
"Erkan, nanti kalau pulang sekalian kamu antarkan Nada ke apartemen. Aku akan pulang sendiri," ucap Mirza memecahkan keheningan.
Erkan hanya mengangguk setuju.
"Daddy… mommy…" teriak Kemal dari ambang pintu.
Mirza segera beranjak menghampiri Kemal dan menggendong nya. Menuntun nenek ke ruang makan.
__ADS_1
"Apa nenek yakin mau tinggal di sini sendiri? Apa gak sebaiknya nenek ikut pindah saja ke mansion?" tanya Mirza untuk yang kesekian kali.
Melihat tubuhnya yang sudah ringkih, ia tidak bisa membayangkan bagaimana saat nenek menjalankan aktivitasnya tanpa orang lain, pasti akan lebih sulit.
Nenek tersenyum.
"Nenek gak mau merepotkan kalian."
"Justru kalau nenek tinggal di sini sendiri malah merepotkan," sergah Mirza serius. "Aku dan Haira gak bisa datang ke sini setiap hari, jadi lebih baik ikut kami." Mirza terus mendesak dan tak memberi celah nenek bicara. "Sayang, kamu beresin baju nenek, kita ajak dia tinggal di mansion."
Ucapan Mirza terdengar memaksa, namun itulah jalan satu-satunya supaya nenek Zubaida ikut tinggal dengannya dan Haira.
Haira langsung ke kamar membereskan baju nenek yang ada di lemari. Ia mengusap air matanya yang terus menetes.
Di balik kekejaman yang sering ditunjukkan di depannya. Ternyata Mirza menyimpan sejuta misteri yang sulit ditebak.
"Kamu kenapa?" Suara berat menyapa. Entah sejak kapan Mirza datang, pria itu merangkul pundak Haira yang bergetar naik turun.
"Aku terharu padamu." Haira berhamburan memeluk Mirza. Membenamkan wajahnya di pundak pria itu. Mencuri kesempatan untuk bisa menghirup aroma parfumnya.
Terharu, memangnya apa yang aku lakukan. Mirza menerka-nerka apa saja yang ia lakukan selama ini hingga membuat Haira menangis.
Jangan-jangan ini hanya jebakan.
Mirza menelan ludahnya. Mulai waswas dengan tingkah Haira yang tidak biasa.
Ibu hamil itu memang aneh, jadi kamu jangan heran, ikuti saja alurnya. Apapun yang dikatakan dia anggap benar. Terkadang dia bilang iya, padahal sebenarnya tidak. Jadi kamu harus bisa membaca hatinya.
Perkataan Aynur terlintas di otak Mirza hingga membuatnya harus ekstra hati-hati.
"Terharu untuk apa?" Akhirnya Mirza bertanya daripada salah tebak. Mengusap lembut rambut Haira yang tergerai panjang.
"Oh, aku tahu," selak Mirza lagi. Terpaksa Haira menutup bibirnya yang sudah menganga.
Haira mendongak. Menatap wajah tampan Mirza yang nampak cengengesan.
"Apa?"
Cup
Sebuah kecupan mendarat di pipi Haira.
"Pasti terharu karena aku sudah memuaskanmu dan berhasil mencetak tiga anak sekaligus, iya kan?"
Haira mengernyitkan dahi lalu mencubit pinggang Mirza yang membuat sang empu meringis.
__ADS_1
"Sok tahu."
Haira meninggalkan Mirza dengan hati kesal. Menyuruh pria itu untuk memasukkan baju nenek ke dalam koper.