
Keberadaan Arini di rumah Mirza bukan lagi hal yang asing. Sebelum Haira memutuskan untuk pergi dari tempat itu, ia pun pernah satu atap dengannya. Sering kali menerima perlakuan buruk yang sampai saat ini belum terlupakan. Namun, sekarang semua sudah berubah. Kedudukan Haira adalah seorang istri yang sesungguhnya, bukan tawanan atau sebagai tempat pelampiasan, hingga sedikitpun tak ada rasa takut baginya untuk melakukan apapun di rumah itu.
Di ruang makan itu terasa hening, hanya dentuman sendok dan piring yang terdengar. Sesekali Kemal yang berbicara meminta lauk pada Haira. Mirza nampak menikmati hidangannya, tak lupa menyuapi Haira yang juga sibuk menyuapi Kemal.
"Kak Fajar dan kak Hasan ke mana, Mommy?" tanya Kemal polos.
Kepergian mereka membuatnya kesepian.
"Pulang, Nak." Mirza yang menjawab karena Haira mengunyah makanannya.
Arini hanya melirik sekilas ke arah bocah yang nampak imut-imut itu tanpa ingin menyapa.
"Sepi dong, nggak suka." Melipat kedua tangannya, alih-alih ngambek.
Mirza tersenyum licik, kakinya menyenggol kaki Haira yang membuat sang empu terbelalak. Menghentikan kunyahannya.
Kode apalagi ini? Bertanya dalam hati. Belum bisa membaca raut wajah Mirza yang nampak cengengesan dengan mata berkedip cepat.
"Kalau begitu kita main ke rumah tante Nita saja," jawab Haira kemudian.
"Horeeee…." Kemal melonjak kegirangan. Sementara Mirza nampak datar.
Nggak ngerti banget sih ni orang, bisa-bisanya malah mau datang ke rumah kak Nita.
Arini yang merasa risih dengan sikap Haira dan Mirza pun memilih pergi setelah makanannya habis.
Mirza menarik kursi yang di duduki Haira. Mengikis jarak antara kedua nya. Mendekatkan bibirnya di telinga wanita itu lalu berbisik.
"Kalau anak kecil merasa kesepian itu artinya dia ingin punya adik."
Sontak Haira menoleh ke arah Mirza, tanpa sengaja bibir mereka bertemu hingga terjadilah ciuman lembut yang menyesatkan.
Pedes banget
Mirza segera melepas ciumannya da meneguk air yang ada di depannya.
__ADS_1
"Kamu makan apa, Sayang? Kok pedes banget," keluh Mirza mendesis.
Haira menahan tawa. Menikah tujuh tahun belum tahu kalau istrinya penggemar seblak yang pedasnya level 10.
"Makan apa saja yang penting pedas."
"Jangan, nanti kamu sakit perut."
Keluarga kecil Mirza belum meninggalkan ruang makan, sedangkan Arini sudah keluar dari kamarnya dengan memakai dress selutut serta tas tangan yang bermerek.
"Mau ke mana?"
"Perawatan," jawab Arini singkat. Beberapa minggu ini ia memang tak begitu memperhatikan penampilannya hingga kulitnya terlihat kusam. Ada jerawat juga yang menghiasi pipi gadis itu.
Mirza membuka ponselnya. Beberapa detik kemudian, hp Arini pun ikut berdering.
"Jangan malam-malam pulangnya," imbuh Mirza lagi.
"Iya," jawab Arini ketus.
Setelah Arini berlalu, Mirza menggenggam tangan haira.
Perawatan, bagi Haira itu adalah hal yang tabu. Ia tak pernah berpikir jauh. Dari remaja harus menjadi tulang punggung keluarga hingga uang yang dikumpulkan habis untuk makan. Setelah dewasa dan sepenuhnya bekerja, ia pun masih sama, harus membayar sekolah Nada dan menghidupi keluarganya. Kasus yang membelit membuatnya kehilangan masa depan hingga ia putus asa dan menyandarkan hidupnya pada kata, 'pasrah'.
Mengandung tanpa seorang suami bahkan menjadi masa terburuk dalam hidupnya. Cemooh orang membuatnya hatinya beku. Hidup dalam keterbatasan dan tidak memperdulikan diri sendiri.
Namun, semua itu sudah menjadi masa lalu yang pasti akan terkikis oleh waktu, kini Haira bagaikan putri raja dan pasti akan mendapatkan apapun yang diinginkan.
Meskipun Mirza sudah cukup puas dengan wajah Haira yang cantik alami, ia ingin memanjakan wanita itu yang berstatus sebagai permaisurinya.
"Apa aku kurang cantik?" tanya Haira lirih. Sebagai seorang istri, ia pun ingin menjadi yang paling cantik di mata suaminya.
"Tidak ada yang kurang dari kamu."
Disaat keduanya masih larut dalam melodi yang mengharukan, Erkan datang menghampiri Mirza.
__ADS_1
"Ada kabar apa?"
Erkan tak menjawab membuat Mirza menoleh lalu menatap Haira dan Kemal.
"Tunggu aku di ruang kerja!" titah nya.
"Sayang, kamu ke kamar dulu, aku bicara dengan Erkan sebentar."
Haira mengangguk. Menatap punggung Mirza yang semakin menjauh.
"Mommy, aku main dulu." Menunjuk ke arah taman, diikuti satu pelayan yang memang ditugaskan untuk menjaga Kemal.
Haira pun pergi ke kamar. Tak ingin melakukan apapun karena tubuhnya sangat lelah. Mungkin berbaring akan sedikit mengurai ototnya yang sedikit terasa kaku. Baru saja ingin duduk di sofa, mata nya menangkap sesuatu yang ada di rak buku. Terlihat seperti sebuah diary perempuan.
"Buku apa itu?"
Haira mengambilnya lalu membolak balikkannya. Jika dilihat dari depan tak ada yang berbeda dari buku pada umumnya. Namun, Haira penasaran dan ingin segera membukanya.
"Mirza marah, nggak ya?" Menatap pintu yang masih tertutup rapat. "Dia kan gak tahu?"
Haira segera membukanya. Di lampiran pertama ia disuguhi foto Mirza dan Lunara. Mereka terlihat mesra dengan tangan yang saling merangkul dan tersenyum.
Jantung Haira seperti diremas, meskipun itu hanyalah masa lalu Mirza sebelum dirinya hadir, tetap saja ia tak sudi melihatnya. Tak ingin berlama-lama, Haira membuka lampiran yang kedua. Ada sebuah syair cinta yang tersusun rapi. Entah siapa yang menulis dan itu dipersembahkan untuk siapa, ia tak ingin tahu. Kembali membuka lembaran selanjutnya hingga akhir.
Hatinya kesal dan menutup lalu mengembalikannya. Beralih duduk di sofa dan menyalakan tv untuk melupakan apa yang ia lihat tadi dari otaknya.
"Apa dia memang se mesra itu saat bersama Lunara? Tapi kenapa denganku hanya biasa saja," ucapnya jengkel.
Ingin rasanya membuang buku itu, namun ia takut kalau Mirza marah. Tak mau rumah tangganya yang baru saja dimulai itu berakhir lagi.
"Kalau dia memang sudah melupakan Lunara, Kenapa harus menyimpan semua kenangan tentang perempuan itu? Apa aku ini hanya pelarian karena dia takut dengan kakak-kakaknya?"
Buliran bening lolos begitu saja membasahi pipi Haira. Dulu ia bisa bertahan diperlakukan sedemikian buruk oleh Mirza, namun sekarang Haira tak ingin lagi hidup dalam tekanan batin. Kembali bukan keinginannya. Tapi, jika Mirza masih terbayang-bayang oleh masa lalu, ia pun tak bisa terima.
Pintu terbuka. Haira mengusap sisa air mata tanpa ingin menyambut kedatangan suaminya. Langkah kaki terdengar semakin mendekat membuat Haira memejamkan mata. Hatinya sedang tak bersahabat untuk melihat Mirza.
__ADS_1
Haira merasakan sebuah tangan menyentuh keningnya. Setelah itu tubuhnya melayang hingga punggungnya bersandar di alas yang sangat empuk.
Mirza menatap wajah Haira dengan tatapan intens. Ia tahu ada sisa cairan bening di pipi wanita itu yang membuat tangannya bergerak dan mengusap nya.