
Haira membuka buku kosong yang tersimpan di laci. Seharusnya banyak kata yang akan memenuhi kertas putih itu, namun tangannya malas untuk mencoret. Banyak kisah buruk yang ia lewati, begitu juga dengan kebahagiaan yang terus datang bertubi-tubi untuk ia curahkan pada sebuah tulisan.
Menatap Mirza yang baru keluar dari kamar mandi. Tubuhnya yang atletis langsung membuat Haira terpana. Bahkan rasa itu sudah hadir sejak dulu. Hanya saja pernikahan yang didasari atas balas dendam membuatnya untuk mengalihkan rasa itu. Sebab, berpikir harapan itu hanya bagaikan pungguk merindukan rembulan.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?"
Bukannya malu atau pergi. Mirza justru berdiri didepan Haira yang duduk di tepi ranjang. Buliran bening yang menghiasi kulit putih sang suami semakin membuat ibu hamil itu tergoda.
"Karena kamu sangat tampan," ucap Haira jujur.
Sekian lama menjadi istri seorang Mirza. Baru kali ini ia berani menatap suaminya itu dengan lekat. Seperti ada sesuatu yang terus mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang menurutnya sangat memalukan.
"Aku memang terlahir sebagai pria tampan." Bangga dengan pujian Haira.
"Tapi juga kejam," lanjut Haira terkekeh, meletakkan bukunya diatas meja. Melirik Mirza yang nampak merengut.
"Kekejamanku karena terobsesi." Meraih pinggang Haira hingga jatuh ke dekapan nya. Seperti yang sering Mirza lakukan, ia mencium ceruk leher Haira yang nampak putih bersih. Menghirup dalam aroma parfum yang membuatnya ingin melakukan lebih.
"Apa kau ingat kata dokter kemarin?" Haira menahan tangan Mirza yang hampir menyusup ke dalam baju.
"Ingat, kalau bisa jangan sentuh istrimu sampai kandungannya benar-benar kuat," jelasnya, namun tangannya tak mau berhenti begitu saja, bahkan nafasnya yang terdengar memburu seperti menuntut lebih.
Haira tersenyum. Entah ada angin apa, saat ini ia pun merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Sentuhan Mirza membuat sekujur tubuhnya kejang hingga lupa cara untuk menolak. Mengesampingkan rasa malu yang memenuhi wajahnya.
Melingkarkan lagi tangan Mirza yang hampir terlepas. Memutar tubuhnya dan mendongak lalu menyambar bibir Mirza dengan lahap.
Eh kenapa ini, apa ini juga termasuk ngidam.
Menjerit dalam hati. Hati dan otaknya saling bertolak belakang yang membuat tingkah Haira salah kaprah.
Jantung Mirza berdisko ria. Ia menggiring tubuh Haira ke ranjang. Tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan berlian itu. Persetan dengan penuturan dokter Rose, kali ini hasratnya tak bisa tertahan lagi dan harus segera tercurahkan.
Pelan-pelan Mirza membaringkan tubuh Haira di atas ranjang tanpa melepas pagutannya. Ia pun ikut merangkak naik dan melanjutkan aksinya.
Meskipun antusias, Mirza sadar bahwa ada kecebong yang kini bersemayam di perut Haira, hingga ia melakukannya dengan pelan dan lembut. Sedikitpun tak ingin menyakiti mereka yang menjadi sumber kebahagiaannya.
Tiga puluh kemudian
__ADS_1
Haira tersenyum malu. Tak berani menatap Mirza yang sudah ambruk di sisinya. Semakin hari ia semakin bingung dengan keinginannya yang berubah-ubah dan konyol. Terlebih saat ia menginginkan tubuh Mirza dan itu tak bisa ditahannya.
Mirza melihat jam yang ada di nakas lalu memeluk Haira.
"Sayang, aku ada meeting penting hari ini. Kamu jangan kemana-mana?" Mirza meringkuk mencium bahu Haira dari belakang.
Aroma parfum menusuk hidung menjadi candu bagi Mirza saat berada di dekat wanita itu.
''Jangan lama-lama," jawab Haira membenarkan posisinya.
"Cuma dua jam, semoga saja kliennya cepat datang." Mirza berjalan ke arah lemari tanpa memakai apapun. Memamerkan tubuh indahnya di depan Haira yang masih mengatur napas. Mengambil beberapa baju lalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah rapi dengan baju kantornya, Mirza menghampiri Haira lalu mengecup keningnya. "Kalau butuh sesuatu panggil Bi Eniz atau Naina."
Haira mengangguk setuju. Menatap punggung Mirza yang mulai menghilang bersamaan dengan pintu yang tertutup rapat.
Baru saja memejamkan mata, ponsel yang ada di nakas berdering membuat Haira terpaksa harus terbangun.
"Baru saja pergi, sudah menelpon lagi," gerutu Haira mengangkat sambungannya.
"Gak papa, mastiin kalau kamu baik."
"Lebay," jawab Haira lalu memutus sambungannya.
Mirza yang ada di seberang sana hanya terkekeh mengingat aksi Haira yang sedikit bringas dan menguasai permainan paginya.
Baru beberapa detik Haira meletakkan ponselnya, benda itu berdering lagi. Haira menyambar nya lalu menggeser lencana hijau tanpa melihat nama yang berkelip.
"Ada Apa lagi, Sayang? Aku ngantuk," keluhnya.
"Ini aku, Kak." Suara cempreng menyapa membuat mata Haira terbelalak dan menelan saliva dengan susah payah.
Menjauhkan benda pipihnya dan melihat nama sosok yang meneleponnya.
"Nada?" pekik Haira terkejut.
Suaranya tercekat hingga tak mampu bertanya lagi.
__ADS_1
"Nenek mau bicara denganmu," ucapnya kemudian. Setelah itu suara nenek Zubaida menyapa dengan lembut.
"Halo, Ra. Nenek kangen sama kamu," ucap nenek membuat mata Haira berkaca. Setelah acara resepsi itu, ia sengaja tidak pulang ke rumah karena menghindari Nada yang tak suka dengan statusnya.
"Aku juga kangen Nenek," ucap Haira dengan bibir bergetar.
"Kamu sehat, kan?" tanya nenek lagi memastikan, meskipun tinggal dengan orang-orang yang menyayanginya, tetap saja nenek khawatir pada Haira yang sudah lama tak menghubungi nya.
"Aku sehat, Nek. Dan sekarang aku hamil."
"Benarkah?" tanya nenek memastikan.
"Iya, anakku kembar tiga." Haira berbagi kebahagiaan pada nenek Zubaida.
Nada membisu, sedikitpun tak ingin berbicara dengan Haira. Juga tak memberikan ucapan selamat atas kehamilan sang kakak.
"Apa nenek boleh ke rumah kamu, Ra?" tanya nenek penuh harap.
Bagaimana bisa nenek bertanya seperti itu, seolah-olah Haira adalah orang asing hingga ingin datang saja harus meminta izin kepadanya.
"Kenapa nenek bilang seperti itu. Tentu saja boleh. Nanti aku akan bilang pada kak Mirza untuk menjemput nenek."
"Jangan, Ra. Kasihan Mirza, pasti dia sibuk," tolak nenek antusias. Ia tidak ingin merepotkan Mirza yang pasti sibuk dengan pekerjaannya.
"Pokoknya nenek gak boleh pergi sebelum ada mobil yang menjemput." Haira memutus sambungan. Sebab, jika ia berbicara terus menerus pasti nenek akan menolak perintahnya.
"Nenek lupa kalau sekarang kak Haira itu istrinya orang kaya." Nada mengambil ponselnya lalu ke belakang.
"Bukan lupa, meskipun Mirza itu kaya, bukan berarti kita terus menerus menyusahkannya. Dia sudah banyak membantu kita, dan nenek tidak mau menjadi beban."
Ucapan nenek lirih namun menohok. Mengingatkan kebaikan yang Mirza lakukan selama ini.
Nada menoleh ke belakang. Menatap punggung nenek yang mulai menjauh.
"Dari dulu nenek memang lebih menyayangi kak Haira daripada aku, bahkan nenek selalu mendukungnya dan mengabulkan semua permintaannya."
Kekesalan Nada semakin memuncak mengingat sikap nenek Zubaida yang selalu mengutamakan Haira daripada dirinya. Bahkan nenek pun pernah berkata, sampai kapanpun mereka akan tetap berbeda.
__ADS_1