
Hampir dua jam Nada dan Erkan menunggu Mirza di ruang tamu, namun pria itu tak kunjung keluar juga. Akhirnya mereka menyerah dan memilih pergi setelah berpamitan pada nenek.
"Orang kaya mah bebas, anggap kita lalat." Nada terus menggerutu sambil mengikuti langkah Erkan menuju mobil. Sedangkan Erkan hanya bisa diam, ia sudah sering kali berada di posisi itu dan tak akan kaget lagi.
"Jangan marah-marah, nanti cepat tua," tutur Erkan membukakan pintu untuk Nada.
Mirza yang ada di kamar, sedikitpun tak melepaskan Haira. Ia menggunakan kesempatan itu sebaik mungkin dan ingin terus menjenguk bayi nya. Bahkan mengabaikan jadwal rapat penting pagi ini.
"Kakak serius mau menikahiku bulan depan?" tanya Nada saat Erkan mulai menyalakan mesin. Faktanya, ucapan Erkan pada Meyzin membuatnya tak bisa tidur.
Erkan tersenyum kecil.
"Apa yang diharapkan dari hubungan orang dewasa. Bukankah pernikahan dan menjalin rumah tangga? Tidak mungkin seperti ini terus, takut ada setan dan menjerumuskan kita melakukan dosa."
"Tapi aku belum siap. Aku ingin bebas."
Erkan hanya bisa tersenyum. "Memangnya kalau kita menikah, aku akan mengekangmu, tidak. Aku hanya ingin hubungan kita resmi dan bisa melakukan apapun tanpa takut dosa," jelas nya.
Jawaban itu mampu membius bibir Nada. Tidak menyangkal jika ia mengagumi sosok Erkan, pria tampan itu tak pernah basa-basi dalam bertindak. Tetap teguh pada pendiriannya, dan yang paling penting mampu memikat hatinya yang masih terombang-ambing.
"Sekarang jawabannya hanya ada dua, Iya atau tidak," tanya Erkan menekankan.
Jika Nada terlihat gugup, Erkan nampak santai.
Iya, atau tidak ya.
Nada masih mikir-mikir. Ia mengingat ucapan nenek yang menyuruhnya untuk mengikuti kata hati, sedangkan saat ini Nada tak mau kehilangan Erkan. Meskipun hubungan mereka baru terjalin, tetap saja pria itu mampu bersemayam di hatinya.
"Iya," jawab Nada malu-malu.
Erkan cukup puas dengan jawaban itu.
Setelah mobil berhenti di depan gedung milik Meyzin, Erkan dan Nada tak langsung masuk. Mereka mengelilingi area gedung yang tampak luas dan mewah.
Hingga langkah keduanya harus terhenti saat mendengar suara berat memanggil dari arah belakang.
Nada dan Erkan menoleh ke arah sumber suara.
Ayah
__ADS_1
Nada hanya bisa mengucap dalam hati. Meskipun hasil tes DNA belum keluar, ia sudah yakin bahwa pria itu adalah ayah kandungnya.
"Selamat pagi Tuan Meyzin," sapa Erkan mengulurkan tangannya.
Meyzin menerima uluran tangan itu, namun matanya terpana pada Nada. Gadis yang terus mengingatkannya pada Veronika.
"Apa aku boleh bicara dengan Nada?" tanya Meyzin. Sebab, selain membereskan barang-barangnya yang ada di dalam, ia juga ingin bicara secara tertutup dengan gadis itu.
Tanpa berpikir panjang, Erkan mengizinkan Nada untuk ikut dengan Meyzin.
"Aku akan tetap mengawasimu dari sini," bisik Erkan pada Nada yang terlihat sedikit takut.
Nada mengikuti Meyzin yang memasuki sebuah ruangan kosong. Tidak ada apapun di sana selain satu meja dan dua kursi.
Mata Nada menyusuri ruangan itu. Kemudian ia duduk di depan Meyzin. Mereka saling bertatap muka dengan jarak yang cukup dekat.
"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?"
Nada langsung bertanya ke inti.
"Apa hubunganmu dengan Veronika?" tanya Meyzin menyelidik.
"Aku tidak mungkin lupa pada orang yang sudah membunuh calon istriku," timpal Meyzin kemudian.
"Apakah anda punya bukti kalau Veronika yang meracuni calon istrimu?" tanya Nada balik.
Meskipun belum tahu pasti kebenarannya, ia yakin ibunya bukanlah wanita sekejam itu.
Meyzin nampak gusar, selama ini ia memang belum memiliki bukti yang akurat, namun ada beberapa orang yang menjadi saksi dan itu membuatnya percaya.
"Banyak saksi yang bicara seperti itu. Beberapa orang mengatakan bahwa Veronika yang sudah meracuni calon istriku," imbuhnya meyakinkan.
Nada merogoh sebuah amplop berwarna coklat dari tas nya. "Lalu apa ini?" Melemparkannya tepat di dada Meyzin.
"Silahkan, kamu lihat foto itu dengan benar, kalau kau masih meragukannya, tanyakan pada Tuan Bahadir."
Diam-diam, Erkan sudah mencari cara untuk menjatuhkan keluarga Bahadir, termasuk mengusut kasus Veronika, sedikit demi sedikit ia akan mengupas borok seseorang yang ada di balik kematian Emelda Milka dan fitnah kejam Veronika.
Nada meninggalkan Meyzin yang masih nampak kebingungan dengan amplop yang saat ini ada di tangannya.
__ADS_1
"Aku tidak akan tinggal diam dengan apa yang pernah kau lakukan pada ibuku. Aku akan mencari keadilan untuknya," ucap Nada lalu menutup pintunya dengan keras.
Ibu, itu artinya dia adalah anak Veronika.
Meyzin membuka amplop itu. Ia mengambil beberapa lembar foto yang ada di dalamnya.
Seketika itu matanya membulat sempurna melihat gambar daddynya yang nampak memberikan se koper uang pada orang yang dulu pernah menjadi saksi kasus Veronika.
"Apa-apaan ini?"
Beberapa foto yang membuktikan ada sebuah rekayasa yang terjadi. Sudah dua puluh lima tahun lebih, namun Meyzin belum lupa dengan wajah-wajah yang ada di gambar itu.
Meyzin segera meninggalkan ruangan itu dengan penuh tanda tanya.
Dari arah jauh, ia bisa melihat Nada dan Erkan memasuki lift.
Dia sangat cantik seperti ibunya.
Tanpa disadari Meyzin mengagumi sosok Veronika.
"Apa maksud dari ini semua, Dad?" Meyzin melempar foto itu di depan Bahadir. Wajahnya mendadak pias dengan kedua bola mata yang menyala. Ia sudah tak sabar ingin segera mendapat penjelasan dengan fakta yang sesungguhnya.
Sama seperti Meyzin, Bahadir pun nampak kaget." Dari mana kau mendapatkan foto ini?" tanya Bahadir dengan bibir gemetar. Ia meraup foto yang bertebaran di meja lalu meremasnya hingga berbentuk bola.
"Daddy tidak perlu tahu aku mendapat itu dari mana, sekarang katakan apa yang sebenarnya terjadi waktu itu. Apa ini hanya sandiwara Daddy untuk menyingkirkan Veronika," pekik Meyzin.
Bahadir tertawa lepas. Lalu menatap Meyzin yang berdiri di depan nya.
"Kalau memang iya kenapa, lagipula untuk apa kamu mengungkit nya lagi. Sekarang kamu sudah bahagia dengan Lauren, dan jangan pikirkan orang lain."
Meyzin menjambak rambutnya, frustasi. Ia tidak tahu apa motif Bahadir tega melakukan itu semua, yang pasti tidak hanya menyakiti Veronika, tapi juga seolah-olah mempermainkan hidupannya.
"Tapi aku sudah menyiksa Veronika karena kesaksian palsu itu, Dad. Dia harus menerima hukuman dengan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dia lakukan."
Antara kesal dan marah, menyesal dan takut semua bercampur aduk mengimpit dadanya hingga terasa sesak.
Aku harus mencari Veronika.
Meyzin berlalu, ia tak mengindahkan Bahadir yang terus memanggilnya.
__ADS_1