Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Kemenangan Mirza


__ADS_3

Yusef tertawa keras. Benteng yang terkuat tumbang di tanganya. Ia merasa menang sudah menembak Deniz. Sekarang  tidak ada yang ia takuti lagi. Meskipun pasukan nya tinggal sedikit. Nyatanya,  pria yang sudah babak belur iu mengurungkan niatnya untuk pergi. 


Fuad langsung mendekap tubuh sang kakak yang setengah sadar. Menggenggam tangannya yang dipenuhi  dengan percikan darah. Ia menyesal sudah menuruti perintah Deniz untuk tidak membawa senjata, dan kali ini tidak bisa melakukan perlawanan lebih. Sebab, Yusef masih menodongkan pistol ke arahnya. 


"Apa kau masih berani berulah, Mirza?" ucapnya dengan lantang. Pistol mengarah pada Fuad, namun mata terus menatap Mirza yang berdiri tak jauh darinya. 


Erkan yang ada di samping Mirza pun hanya bisa diam mengikuti perintah Yusef. Sedangkan Mirza, seperti patung hidup.  Sekujur tubuhnya terasa kaku melihat  kedua kakaknya yang saat ini tak berdaya. 


Merasa musuh lengah, Fuad menepis pistol yang ada di tangan Yusef, disaat itu juga Mirza mengambil sesuatu dari saku jas nya. Fuad pun meraih benda milik musuhnya yang teronggok di dekat kaki Deniz. Tak lama kemudian suara tembakan kembali menggema.


Fuad melongo melihat Yusef sudah ambruk sebelum dia menekan senjatanya. Lalu menoleh ke arah adik iparnya yang memasukkan sesuatu ke dalam saku jas. 


"K–au…" ucap Yusef sambil memegang bagian perutnya yang sudah dipenuhi darah. 


Mirza berlari mendekati Deniz dan Fuad. Matanya berkaca-kaca melihat kakaknya terus tersenyum dengan mata yang menyipit. 


"Kak Fuad, bawa kak Deniz ke rumah sakit. Aku yang akan mengurus semuanya." Air mata Mirza lolos saat ia mengelus pipi kokoh sang kakak yang lebam. 


"Jangan bunuh Yusef," pinta Deniz terputus-putus. Ia tahu, pasti Mirza tidak berhenti disitu saja dan akan melakukan lebih pada pria itu. 


"Tidak, Kak. Aku menembaknya di bagian perut." Dengan santainya Mirza berkata. Seolah-olah yang ia lakukan hanya bermain saja, dan itu sukses membuat Deniz terkekeh di tengah dirinya yang melawan maut. 


Adiknya memang tak pernah berubah dan akan melawan musuh dengan kejam. Namun, kali ini ia tak menyalahkan Mirza sepenuhnya karena Yusef yang membuat masalah. 


Setelah pertahanannya merasa benar-benar runtuh, anak buah Yusef memilih untuk menyerah. Mereka yang masih hidup tidak mau bernasib sama seperti yang dialami Tuannya saat ini. Yaitu tertembak dengan cara mengenaskan. 


Setelah mengantar Deniz ke mobil, Mirza kembali menghampiri Yusef yang juga meminta pertolongannya. 


"Tadi kau bilang aku tidak punya nyali dan berlindung pada kakakku." Mirza menyenggol tangan Yusef dengan kakinya. Lalu berjongkok. Menertawakan pria itu yang kini berada di genggamannya. 


Kini Mirza bebas melakukan apapun setelah mobil yang membawa Deniz itu sudah pergi. Tidak ada yang ia takuti untuk menyiksa musuh seperti yang dilakukan sebelumnya. 


"Anggap saja tembakan tadi satu sama, karena kau juga menembak kakakku." 

__ADS_1


Mirza kembali menginjak tangan Yusef hingga sang empu merasakan sakit yang bertumpuk-tumpuk. "Ini imbalan karena kau sudah berani membuat kak Aynur menangis," ujarnya geram. 


"Dan ini untuk istriku yang sudah kau culik." 


Bugh 


Kemudian, Mirza memukul wajah Yusef dengan keras hingga pria itu benar-benar memejamkan matanya. Darah tak hanya bercucuran dari perut, namun juga sudut bibir dan luka lainnya. Sebab, Mirza tak henti-hentinya memberikan bogeman. Meluapkan amarahnya yang dari tadi menggebu. 


"Tuan, kita harus menyelamatkan Nona Haira." Ucapan Erkan membuat Mirza seketika melepaskan Yusef yang kini mungkin sudah mati. Ia berlari menghampiri sang sekretaris yang dari tadi berjaga.


"Apa kau sudah lapor polisi?" tanya Mirza sembari mengusap tangannya yang kotor terkena darah milik Yusef. 


"Sudah, Tuan. Diperkirakan tiga puluh menit akan tiba." 


"Lama sekali, apa mereka naik andong," gerutu Mirza melanjutkan langkahnya. Mengikuti sumber suara yang dari tadi meminta tolong. 


Tiba di sebuah salah satu ruangan, Mirza  melihat dua orang yang berjaga di depan pintu. Ia berjalan pelan menghampiri mereka yang juga membawa senjata. 


"Lepaskan istriku, atau kalian akan mengalami nasib yang sama seperti Yusef.'' 


Kedua pria itu menelan ludahnya dengan susah payah. Sekujur tubuhnya bergetar menahan takut. Jika yang mereka hadapi saat ini adalah Deniz, mungkin akan babak belur saja. Namun, yang ada di hadapannya saat ini adalah jelmaan dari mafia kejam yang rela melakukan apapun demi memperjuangkan miliknya. 


"Cepat menyingkir atau kau akan ku habisi," teriak Mirza yang sudah kehabisan kesabaran. Kedua pengawal itu saling tatap lalu mulai menyerang Mirza dan Erkan tanpa aba-aba.


Tak butuh waktu lama untuk melumpuhkan mereka yang hanya manusia tengik. Nyatanya, Mirza sudah berhasil menguasai peperangan itu.


"Aku tidak perlu senjata untuk membunuhmu."


Mendorong tubuh kekar pria itu tepat di dinding pagar yang menjulang hingga terhempas dengan kerasnya. Membiarkan Erkan yang saat ini juga menahan pengawal yang satunya  lagi. 


Mirza bergegas membuka pintu, tampak sang istri yang berada di sudut ruangan dengan baju yang robek itu menangis dan memohon ampunan. 


Pria yang sudah bertelanjang dada itu menoleh ke arah pintu yang terbuka. Dia adalah Murad, yang berhasil membawa Haira pergi. 

__ADS_1


"Kurang ajar! Berani kau menyakiti istriku," geram Mirza melirik senjata yang ada di meja. 


Murad terkejut, tangannya mengulur ingin mengambil senjata miliknya, namun  ia kalah cepat dari Mirza yang kini sudah mengambilnya lebih dulu. 


Erkan yang sudah berhasil mengalahkan musuh pun berjaga di ambang pintu, mencegah Murad supaya tidak bisa keluar. 


Ingin menarik tubuh Haira, lagi-lagi pergerakannya tercekat saat Mirza menyuruhnya untuk angkat tangan. Ia tak mau mati konyol dan memilih melakukan perintah pria itu. 


Sialan, kenapa mereka bisa mengepungku, lalu apa kabar dengan Tuan Yusef. 


"Kau mau mengambil ini?" Mirza memamerkan senjata yang ada di tangannya. Ia  terus berjalan hingga berada di dekat Haira. 


"Sayang, buka matamu, ini aku," bisik Mirza di telinga Haira. Tangannya masih fokus pada Murad. 


Perlahan Haira membuka mata dan menatap malaikat penolongnya. Ia berhamburan memeluk Mirza dan menumpahkan air matanya. 


Dor 


Haira mengeratkan pelukannya saat mendengar suara tembakan itu. 


Mirza tak mau mengambil resiko, ia menembak Murad di bagian paha hingga pria itu tak bisa belurah. Sambil menunggu polisi datang, Mirza terus memberikan pelukan yang menghangatkan untuk sang istri. 


"Tenanglah, sekarang kamu sudah aman." Mirza mengusap punggung Haira yang masih bergetar karena tangis. 


"Aku  takut," ucap Haira di sela-sela tangis nya. Melirik Murad yang sudah terkapar dengan darah mengalir ke lantai. 


Mirza menangkup kedua pipi Haira. 


"Aku yang lebih takut. Aku takut tidak bisa menyelamatkanmu. Sekarang kita pergi dari sini, nanti kalau ditanya polisi, bilang saja apa yang mereka lakukan padamu."


Mirza membalut tubuh sang istri dengan jasnya lalu membawanya pergi. 


"Erkan, kamu tunggu sampai polisi datang," titah Mirza melangkahi tubuh Murad. Kakinya yang jahil pun menggoyang-goyangkan kepala pria itu, berharap masih hidup. 

__ADS_1


"Baik, Tuan." 


__ADS_2