Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Tiba di rumah nenek


__ADS_3

Bukan karena kekayaan ia mencintai Mirza. Tapi sebuah ketulusan yang telah terpancar dari dirinya membuat Haira  sadar, bahwa dibalik kekejaman seorang Mirza ada hati yang lembut dan penuh kasih sayang. Juga memiliki rasa kasihan terhadap sesama, tapi ia juga bisa melakukan hal yang lebih kejam jika hatinya terluka. 


Dari balik pintu kamar mandi, Haira bisa mendengar saat Mirza berbicara dengan seseorang yang ada di balik telepon. Ia menyuruh mereka untuk mengasingkan Lunara. Bahkan, Haira tak mampu jika itu terjadi pada dirinya sendiri. Pasti sangat berat, tapi itulah hidup. Siapa yang salah harus menerima konsekuensinya seperti yang dilakukan Lunara padanya yang sudah berakibat fatal dan menjatuhkan dirinya sendiri. 


Setelah Mirza meletakkan ponselnya, Haira keluar dari kamar mandi.


"Berapa hari kita di rumah nenek?" tanya Mirza antusias. Ia memasukkan beberapa baju ke dalam koper. 


"Aku nggak mau nginep di sana." 


"Kenapa?" Mirza beralih membantu Haira mengeringkan rambutnya lalu mengambilkan baju yang akan dipakai. Seperti biasa, ia mengambilkan gaun yang berwarna putih.


"Aku gak mau Nada marah-marah karena kehadiranku di sana."


Mirza melingkarkan tangannya di perut Haira. Untuk yang kesekian kali tak menyangka bisa bersatu dengan wanita selembut itu. Yang terus memikirkan perasaan orang lain, meskipun hatinya sendiri terluka. 


Sekali pun tidak pernah membantah ataupun menolak permintaannya, kecuali disaat tertentu.


"Apakah kau tidak membenciku, Sayang?" Mirza menatap bayangan wajah Haira dari pantulan cermin. Ia memastikan tidak ada dendam lagi di hati Haira untuknya. 


Haira tersenyum renyah lalu memutar tubuhnya hingga mereka saling  berhadapan. 


"Tidak ada alasan aku membencimu. Semua orang pernah melakukan kesalahan. Tidak ada makhluk di dunia ini yang sempurna, tapi jika dia ingin berbuat lebih baik, apa salahnya kita menerima. Aku pun tidak sesempurna yang kamu bayangkan. Aku hanya manusia biasa yang tidak bisa memberikan semua yang kamu inginkan. Kalau kamu selingkuh atau menduakan aku, itulah ada alasan untuk membencimu. Meskipun aku sakit hati, tapi aku tahu itu bukan kesalahan kamu. Itu kecelakaan. Apakah aku boleh meminta satu permintaan?"


Mirza langsung mengangguk tanpa suara. Itu artinya ia menyanggupi permintaan Haira. Apapun itu. 


"Apa, katakan saja. Kalau aku bisa pasti akan memenuhinya." Mirza  menggenggam kedua tangan Haira. Menunjukkan keseriusannya yang ingin setia. 


"Mulai hari ini dan seterusnya, jangan pernah dekat dengan perempuan, kecuali Kak Nita, Kak Aynur dan juga nenek. Jangan pernah kamu berbicara dengan mereka ataupun berjabat tangan."

__ADS_1


"Dengan senang hati, aku akan melakukan apa yang kau mau. Aku akan memindahkan semua karyawan yang ada di kantor. Aku tidak akan berbicara selain pada keluarga kita, tidak ingin mendekati  mereka, apalagi menyentuhnya. kau bisa pegang janjiku. Sekali lagi aku melanggar, tinggalkan aku untuk selamanya."


Mirza mengucap dengan serius. Ia sudah terlalu lelah menyakiti Haira, namun juga tak ingin kehilangan wanita itu.


Haira kerap meminta sesuatu yang akan disanggupi pria itu, namun kini rasanya mustahil. Dia yakin itu akan terasa sulit bagi Mirza, tapi dengan mudahnya pria itu menyanggupi permintaan Haira. Bukankah itu salah satu bentuk ketulusan supaya bisa tetap bersatu. 


"Maafkan aku karena sudah membuatmu melakukan ini. Tapi aku tidak bisa melihatmu jika dekat dengan wanita."


"Percayalah, aku tidak akan dekat dengan siapapun itu." 


Haira memeluk Mirza. Menumpahkan air matanya di sana, hatinya merasa terenyuh mendengar ucapan suaminya yang sanggup melakukan itu demi dirinya. Padahal, Mirza bisa memilih wanita yang ia mau. Namun, tetap setia padanya yang hanya wanita biasa. Mereka dari kalangan atas pasti berlomba-lomba ingin mendapatkan pria tampan itu. Tapi Haira lah yang menang meskipun harus melewati jalan yang berliku.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Haira berlari menghampiri nenek yang ada di teras depan, diikuti Kemal dan Mirza dari belakang ia sudah tak peduli mendengar teriakan Mirza yang menyuruhnya hati-hati. Bagi Haira saat ini waktunya untuk meluapkan rasa rindu pada nenek Zubaida. Wanita tua yang dulu membesarkannya dengan penuh kasih sayang. 


Layaknya Mirza yang dibesarkan oleh kakak-kakaknya, Haira justru dibesarkan oleh neneknya yang sudah tua, namun mereka sangat berbeda. Jika Mirza bergelimang harta dan bisa mendapatkan apapun yang ia mau, Haira hanya wanita miskin yang harus bersusah payah mencari makan. Terlahir dari kalangan rakyat jelata membuatnya tangguh dan bisa melawan dunia sangat kejam.  


"Maaf nenek merepotkan kalian. Seharusnya nenek yang datang ke sana karena kamu lagi hamil." Nenek Zubaida mengelus perut rata Haira lalu duduk di sampingnya. Mengusap rambut kepala Kemal dan menatap Mirza yang nampak redup. 


"Kamu kenapa, Za? Apa ada masalah?"


Mirza tersenyum paksa. Sebenarnya ia masih merasa bersalah pada Haira dengan kejadian kemarin. Namun, waktu tak bisa diputar kembali. Kesaksian Haira saat dirinya menyentuh Lunara, pasti akan menjadi bayangan hitam seumur hidupnya. Meskipun Haira terus berkata memaafkan, tetap saja ia sudah menciptakan luka disaat istrinya itu hamil anaknya dan pasti akan menyakitkan. Menjadi momok yang sampai kapanpun tidak akan terhapus dalam ingatan.


"Tidak apa-apa, Nek. Aku hanya capek saja," jawab Mirza setelah beberapa detik kemudian.


"Ya sudah, nenek buatkan minum untuk kalian. Tunggu di sini!" 


Haira menatap Mirza sekilas, lalu menatap kamar Nada yang tertutup rapat. ia tidak tahu di mana gadis itu, dan juga tidak ingin menanyakannya pada nenek. 

__ADS_1


"Kak, malam ini kita tidur di sini. Apa kau mau?" 


"Terserah kamu saja. Aku ikut." 


Di mana Mirza yang kejam dan juga cengengesan. Seolah-olah kejadian di kantor itu mengubah diri Mirza menjadi lebih pendiam.


Sepuluh jam perjalanan membuat perut Haira keram. Ia memilih untuk ke kamar dan berbaring di pembaringan.


"Apakah kau butuh sesuatu?" tanya Mirza meletakkan koper nya. Lalu membuka lemari pakaian. Menyimpan baju mereka di sana. 


"Aku hanya ingin tidur. Temani aku."


Sifat manja nya kumat lagi, dan hanya Mirza yang mengerti dirinya. 


"Baiklah, aku lihat Kemal dulu." 


Keluar dari kamarnya. Memastikan kalau Kemal bersama Nenek Zubaida. 


Mirza menutup pintu nya lagi lalu berbaring di samping Haira.


Aku harus bisa mengembalikan sikap kak Mirza yang pecicilan.


Haira mencari cara untuk menciptakan tawa. Ia mencubit kedua pipi Mirza lalu menggelitik ketiak pria itu.


"Sayang, katanya mau tidur." Mirza mengucapkannya dengan nada serius yang membuat Haira manyun.


Apa aku pancing saja.


Terpaksa Haira membuka kancing bajunya, lalu menuntun tangan Mirza untuk menyentuh dada nya.

__ADS_1


"Apa kau tidak jijik padaku?" Mirza berbisik. Terlalu naif jika ia tak menginginkan tubuh Haira. Faktanya, sesuatu yang ada dibawah sana sudah tegak sempurna.


__ADS_2