Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Minta bantuan


__ADS_3

Untung suasana hati Haira sangat baik. Ia tidak terlalu menghiraukan Mirza yang terus bersikap mesum  padanya dan memilih menyibukkan diri dengan Kemal. Membantu bocah itu untuk mempersiapkan mainannya yang akan dibawa pulang. Sebab, setelah ini ia dan yang lain akan tinggal di Istanbul untuk selamanya. 


"Apa semua sudah siap?" Mirza membantu dokter Hasad dan Erkan memasukkan barang-barang yang akan dibawa. Memastikan tidak ada yang tertinggal lagi. 


"Sudah, Tuan," jawab Erkan sembari  menutup bagasi. 


Haira dan nenek menatap nanar rumah mereka. Rumah yang menjadi saksi bisu perjalanan hidup yang penuh dengan duri. Dari sana Haira dan Nada tumbuh menjadi dewasa meskipun dalam keadaan yang sulit.


"Kita akan tetap main ke sini kan, Ra?" ucap nenek dengan berat. 


Haira mengangguk. Memeluk nenek dengan erat. Meyakinkan bahwa mereka tidak akan melupakan tempat itu. 


"Sekarang kita pulang. Kak Mirza sudah menunggu." Menunjuk Mirza yang dari tadi memegang pintu mobil. 


Nenek duduk di jok belakang bersama dengan Kemal. Haira duduk disamping Mirza yang sengaja menyetir sendiri.


Di mobil lain


Nada yang duduk di jok belakang terus menatap Erkan dari pantulan spion. Tangannya memegang kotak kecil yang diberikan nenek. Kotak yang menurutnya sangat berharga. Satu-satunya jalan yang akan menunjukkan pada fakta yang sebenarnya. 


Aku harus panggil dia apa?


"Tu…Tuan." Akhirnya Nada memberanikan diri memanggil dengan sebutan Tuan. 


"Aku atau Erkan?" Dokter Hasad yang menoleh ke belakang. 


Nada bingung mau menjawab apa, lalu mengurungkan niatnya. 


"Gak jadi, maaf mengganggu."


Erkan terus mencuri pandang lewat layar ponsel yang sengaja disandarkan di depannya. Dengan begitu, ia bisa melihat setiap pergerakan Nada yang duduk di belakang. 


Perjalanan sangat mulus. Baik mobil Mirza maupun Erkan tidak terjebak kemacetan. Mereka berhenti di mansion lebih dulu untuk mengantarkan baju. Setelah itu baru akan mengantarkan Nada ke apartemen yang lebih dekat dengan pabrik tempatnya bekerja.


Sama seperti saat kedatangan Haira, keluarga Mirza pun menyambut nenek Zubaida.


Deniz dan Aynur serta Nita dan Fuad pun sudah ada di sana. 


"Selamat datang, Nek."


Nita berhamburan memeluk nenek yang baru turun dari mobil. Diikuti Aynur dari belakang. 


"Kalian lama sekali perginya, aku jadi kangen," keluh Nita mengelus perut Haira. Memastikan mereka semua baik-baik saja. 


"Seharusnya kami sudah pulang kemarin, Kak. Tapi Kak Mirza diare. Jadi batal deh." Ucapan Haira membuat semua orang bergelak tawa.


Terlebih Deniz, ia yang lebih tahu tentang adik bungsunya itu sampai memegang perut mendengar penuturan Haira. 

__ADS_1


"Memangnya dia makan apa, Ra?" tanya Deniz pada Haira, namun menatap sang adik yang nampak merengut. 


"Makan seblak." Semua saling tatap  dan mengangkat bahu. Mungkin terdengar aneh, namun itulah makanan kesukaan Haira dari dulu.


"Ya sudah, Kalian masuk, sudah malam." 


Semua orang masuk ke dalam. Begitu juga dengan beberapa pelayan yang memasukkan barang-barang bawaan. 


Nada yang berjalan di belakang Erkan menarik tangan pria itu hingga menoleh. 


"Ada apa?" tanya Erkan tanpa suara. 


"Aku mau bicara dengan kakak, berdua saja." Nada berbicara lirih, takut orang lain mendengar.


Eh ada apa ini, sepertinya Nada serius. Apa dia mau menyatakan cinta padaku. 


"Baiklah." Erkan bersikap angkuh, berjalan mengikuti Nada menuju ke teras samping. 


Mereka berdua berada di sebuah taman. Tidak ada orang lain selain penjaga yang berdiri sedikit jauh. 


Nada membuka tas dan mengambil sesuatu dari sana. 


"Apa kak Erkan bisa membantuku?" Menyodorkan kotak itu di depan Erkan. 


"Membantu apa?" tanya Erkan hanya menatap kotak itu tanpa ingin menyentuhnya. Ia masih bingung dengan Nada yang tiba-tiba terlihat suram. Meskipun mereka berdua di bawah lampu remang, Erkan masih bisa melihat mata Nada yang berkaca-kaca. 


Erkan membius bibirnya. Ia mencerna ucapan Nada. 


Orang tua, itu artinya Nada dan nona Haira bukan saudara kandung. 


Erkan bergegas merebut kotak itu dari tangan Nada lalu membukanya. Ternyata sebuah kalung emas dengan liontin indah di dalamnya. 


"Di dalam liontin itu ada dua foto, aku gak tahu foto siapa, tapi kata nenek kemungkinan besar itu adalah ibu dan ayahku." Nada tak bisa membendung air matanya yang dari tadi menumpuk di pelupuk. 


"Apa nona Haira tahu tentang ini?"


Nada menggeleng. 


"Kata Nenek, ini ditemukan saat ibu dan ayah menemukanku, dan mereka tidak memberitahu kak Haira."


"Apa aku boleh melihatnya?"


Nada mengangguk. 


Bagaikan dirajang, ulu hati Nada terasa sakit, ia merasa menjadi orang yang paling terhina karena kehadirannya tidak diharapkan. 


Benar, di dalam liontin itu ada foto seorang pria dan wanita.

__ADS_1


"Apa aku boleh membawanya?" tanya Erkan serius. Meskipun pekerjaannya di kantor menumpuk, tetap saja ingin membantu Nada. 


"Silahkan, Kak. Nanti kalau kakak menemukan orang diantara mereka, kasih tahu aku," ucap Nada terputus-putus. Menahan sesak di dadanya.


Tanpa sadar, Erkan menarik tubuh mungil Nada dan mendekapnya. Ia tak tahan melihat air mata yang terus berlinang membasahi pipi wanita itu.


Kedua mata Nada membulat sempurna, terkejut saat tubuhnya terhuyung di dada bidang sang sekretaris.


Nada mencium aroma parfum di tubuh pria itu. Bahkan, ia bisa mendengar detak jantung Erkan yang lumayan memburu. 


Eh, kenapa dia memelukku?


Kedua tangan Nada ikut melingkar di punggung Erkan. Sungguh, kali ini tubuhnya merespon dan ingin tetap seperti itu. 


"Oh, ternyata kalian di sini." Suara bariton membuat Erkan terkejut dan menoleh. 


"Tuan Mirza," pekik Erkan, namun tangannya masih merengkuh Nada, seakan tak ingin melepasnya. 


Mirza menyandarkan tangannya di dinding dengan kedua tangan saling melipat. 


Menatap Nada dan Erkan bergantian. 


"Ka… kakak." 


Mendengar suara Nada, akhirnya Erkan melepaskan pelukannya. Wajahnya pucat pasi saat Mirza menatap dengan tatapan intimidasi. 


"Masuk!" titah Mirza pada Nada. 


Nada langsung berlalu meninggalkan Erkan dan Mirza yang saling berhadapan. 


"Apa itu?" Menyungutkan kepalanya ke arah tangan Erkan. 


"Nada meminta saya untuk mencari orang tuanya. Ini adalah satu-satunya bukti yang dia punya." Erkan menunjukkan foto itu di depan Mirza. 


Tak ada tanggapan, namun Mirza nampak mengernyitkan dahi saat menatap foto itu. 


Aku seperti pernah melihat dia, tapi siapa. 


Mirza terus mengabsen klien yang pernah bekerja sama dengannya, namun juga belum menemukan nama orang yang menurutnya tak begitu asing. 


"Apa kau butuh bantuan?" tawar Mirza. Entah, ia ikut penasaran dengan foto itu. 


"Tidak usah, Tuan. Ini pekerjaan yang sangat mudah."


"Baiklah, sekarang kau masuk, Kak Deniz mau bicara."


Erkan mengikuti langkah Mirza menuju ruang tamu, sedangkan para wanita nampak heboh di ruang tengah. Apalagi kalau bukan membahas busana yang baru saja diluncurkan oleh Mirza. 

__ADS_1


__ADS_2