
Seperti sebuah sihir pengikat, begitulah Mirza menganggapnya. Saat dia dekat dengan Haira pasti tak bisa menahan hasrat yang selalu menggebu. Setelah memindahkan Kemal di kamarnya, Mirza kembali ke kamar. Sebelumnya ia mengatakan pada semua pembantu untuk tidak mengganggunya. Terlebih semua kakaknya sudah pulang yang membuatnya lega.
Ini adalah rencana ritual perdana di rumah setelah mereka dipertemukan kembali. Mirza tak ingin menyia-nyiakan waktu yang sempit mengingat sensitifnya Kemal saat ia berada di dekat mommy nya.
"Apa kau mau melakukannya sekarang?" tanya Haira. Suara lembutnya benar-benar menggoda jiwa kelelakian Mirza yang masih tertidur.
"Iya." Menjawab singkat sambil melepas kemejanya, kini hanya meninggalkan boxer. Berjalan lenggang menuju ranjang.
Tanpa meminta izin, Haira langsung naik dan duduk di paha Mirza hingga kedua netra saling bertemu.
"Sepertinya ini mulai musim dingin, apa kamu gak kedinginan?" Haira menggosok tangannya lalu menempelkan di dada bidang suaminya yang tak tertutup sehelai benang.
"Tidak," jawab Mirza singkat. Matanya beralih menatap bibir merah Haira. Dari lubuk hati terdalam ingin segera melahapnya, namun ia harus sabar, takut kalau kenangan buruk itu akan melintas kembali.
Rasa hangat mulai menjalar di sekujur tubuh Mirza. Sentuhan tangan wanita itu mampu membangkitkan sesuatu di bawah sana.
"Tapi aku kedinginan." Mirza meraih tubuh Haira yang berada di atasnya. Meletakkan kepalanya wanita itu di dadanya.
Haira bisa mendengar detakan jantung Mirza dengan jelas. Mengikuti pergerakan tubuhnya yang naik turun saat bernapas.
Tangan Haira mulai merayap menyentuh perut sispek suaminya. Ia pun tergoda dengan tubuh atletis itu yang semalam membawanya terbang ke angkasa.
"Apa kamu bisa melayaniku sekarang?"
Sepertinya penyatuan semalam sudah cukup memberikan permulaan yang bagus hingga Haira langsung mengangguk.
Rasa takut itu perlahan mulai lenyap tanpa jejak.
Tanpa aba-aba, Mirza langsung melanjutkan aksinya. Membalikkan posisi Haira yang di atasnya menjadi di bawahnya lalu mengungkungnya. Seperti singa kelaparan, pria itu pun tak segan-segan melucuti bajunya. Dalam hitungan menit, penyatuan kembali terjadi sebagai bukti cinta mereka.
Sedikitpun tak memberi celah pada Haira untuk bebas. Mirza terus membuktikan kejantanan yang sudah lama merindukan surga nya.
Puas dengan pergulatannya, Mirza membaringkan tubuhnya di samping Haira. Membawa tubuh lelah sang istri ke dalam dekapannya.
"Kamu tidur aja dulu, biar nanti aku yang jaga Kemal."
"Kamu tidak memberikan tanda seperti semalam lagi, kan?" tanya Haira takut.
Mirza tertawa lepas. Sebenarnya ia ingin menambah tanda indah itu, namun teringat Kemal, ia pun mengurungkannya.
__ADS_1
"Tidak, sayang. Tenang aja. Nanti kalau sudah hilang, biar aku membuatnya lagi."
Seketika itu Haira mencubit pinggang Mirza yang membuat sang empu meringis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Fuad dan Deniz yang sudah berada di apartemen terus membujuk Arini untuk pulang. Meskipun mereka hanya sepupu, tapi kasih sayangnya pun melebihi saudara kandung.
"Anak gadis gak baik tinggal di luar sendirian. Kalau kamu gak mau pulang ke rumah Mirza, tinggal saja di rumah ku atau kak Nita."
Berulang kali Deniz memeluk Arini yang lagi-lagi tak mau pulang. Gadis itu nampak murung dengan tatapan kosong. Apartemen yang setiap harinya rapi itu kini menjadi berantakan bak kapal pecah, bahkan beberapa botol minuman ada di sana menghiasi meja.
"Kalian pergi saja, aku gak mau pulang." Arini berbicara tanpa menatap.
Deniz merengkuh tubuh Arini. Mengusap pucuk kepalanya dengan lembut.
"Kalau kau ada masalah, cerita dengan kami," imbuh Fuad yang dari tadi banyak diam.
Arini membenamkan wajahnya di antara lutut dan pahanya. Masih enggan bercerita dengan masalah yang dihadapinya kali ini.
"Aku gak ada masalah, hanya ingin mandiri dan tidak merepotkan Kalian."
"Tapi gak bisa begini juga. Kami semua khawatir. Kemarin kau juga tidak datang ke pernikahan Mirza dan Haira, kan?"
Arini memalingkan wajahnya ke arah lain. Tak sudi mendengar nama Haira disebut oleh keluarganya.
Kebenciannya sejak tujuh tahun yang lalu nyatanya tak terkikis oleh waktu. Apalagi saat mendengar Mirza sudah menerima wanita itu sebagai istri, dadanya terasa hampir meledak.
"Sekarang kita pulang, kakak akan bantu kamu beres-beres." Arini menarik tangannya lagi lalu menatap Deniz yang sudah berdiri.
"Aku ingin dengar sendiri kalau kak Mirza akan tetap menyayangiku seperti dulu," ucap Arini menegaskan.
Fuad menatap Deniz dan Arini bergantian lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Iya, dia pasti menyayangimu seperti dulu."
Deniz lalu merogoh ponselnya, menghubungkan ke nomor Mirza.
Beberapa detik kemudian, Mirza mengangkat teleponnya dan menyapa dengan suara berat.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Haira tanpa bersuara. Ia masih berada di samping sang suami dengan tubuh telanjang.
"Kak Deniz," jawab Mirza tanpa mengeluarkan suara juga.
"Ada apa, Kak?" tanya Mirza setelah mencium pipi Haira.
"Arini mau bicara dengan kamu."
Mirza mengerutkan alisnya sejenak lalu menatap Haira yang memainkan bulu halus yang tumbuh di dadanya.
"Bicara apa?" tanya Mirza penasaran.
"Apa kakak menyayangiku?" tanya Arini dengan suara khas nya.
"Aku menyayangimu, memangnya kenapa?" tanya Mirza balik. Tak ada sedikitpun ingin membenci atau mengabaikan. Mirza masih mengingat pesan kedua orang tua Arini sebelum meninggal yang menitipkan gadis itu padanya.
"Aku mau pulang, asalkan kakak tetap menyayangiku seperti dulu."
"Tentu," jawab Mirza tanpa basa-basi. "Cepat pulang. Kami semua akan selalu sayang padamu," lanjutnya.
Ternyata dia juga sangat menyayangi Arini. Aku gak nyangka di balik kekejamannya ada kasih sayang yang sangat besar.
Mirza meletakkan ponselnya lagi. Memiringkan tubuhnya hingga saling tatap. Berulang kali mengucapkan kata cinta yang menurut Haira sangat basi.
"Kamu sudah dengar sendiri, kan? Kalau Mirza juga sayang sama kamu." Deniz Membantu Arini memasukkan bajunya kedalam koper.
"Sayang, tapi pasti dia lebih sayang pada Haira daripada aku."
Fuad tersenyum geli melihat bibir Arini yang nampak mengerucut.
"Sayang antara saudara dan istri itu berbeda, Rin. Kedudukan kalian juga berbeda, lagipula kamu cemburu dengan Haira?" tanya Fuad menyelidik saat melihat wajah Arini yang merengut seperti orang yang cemburu.
"Tidak," jawab Arini ketus mengambil jaket nya lalu keluar lebih dulu.
Fuad menggelengkan kepala, meskipun bibir Arini menjawab tidak, ia bisa membaca ada sesuatu yang dipendam gadis itu.
Setibanya di lorong menuju lift, Fuad menarik tangan Deniz dari belakang. Mereka menatap punggung Arini berlalu.
"Kayaknya Arini suka sama Mirza."
__ADS_1
Meskipun Deniz juga menyangka seperti itu, ia memilih diam dan tak ingin membahasnya. Sebab, Mirza sudah menjadi milik Haira.