Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Terjawab


__ADS_3

Haira melepas pelan tangan Mirza yang dari tadi menggandengnnya. Ia masuk ke mobil yang sudah dibuka oleh Erkan. Matanya berkaca-kaca melihat seseorang yang seharusnya menjadi masa lalu itu kembali. Entah itu siapa dan yang meninggal kala itu siapa. Ia tak ingin tahu. Dadanya sudah terlalu sesak untuk memikirkan jati diri orang lain.


Tak hanya senyum yang meredup, namun juga kebahagiaannya lenyap bersamaan saat Mirza membalas sapaan wanita itu di depannya. 


"Erkan, aku mau pulang sekarang," ucap Haira datar.


Erkan yang ada di samping Mirza ikut bingung. Antara menunggu Mirza yang masih berbincang dengan Lunara atau melajukan mobil seperti permintaan Nona nya. 


Tak berselang lama, Mirza masuk dan duduk di samping Haira, sedangkan Lunara terlihat pergi bersama pria tua yang berbaju hitam pekat. 


Mobil mulai melaju meninggalkan bandara. Kemal yang dari tadi duduk di pangkuan mommy nya hanya diam sembari menatap mata mommy nya  yang mulai menitihkan cairan bening. 


Kisah itu kembali teringat di benaknya, di mana Kemal sering murung saat melihat Haira itu menangis. 


"Mommy kenapa?" Tangannya terangkat mengusap air mata yang membasahi pipi Haira. 


Cepat-cepat Haira membersihkan sisanya. Ia tak mau terlihat sedih di depan Kemal. 


"Gak papa, Nak." 


Sadar akan hal itu. Mirza memasukkan ponsel di saku jas setelah menyalakan nya. 


"Kamu kenapa, Sayang?" Mirza meraup kedua pipi Haira yang kembali di basahi air mata. 


"Aku akan menjelaskan semuanya. Semua ini tidak seperti yang kamu lihat, oke."


Tangis Haira mereda saat Mirza memeluknya dengan erat. Meskipun hatinya menebak-nebak tentang wanita itu, setidaknya Mirza sudah angkat bicara. 


Siapa dia? 


Lunara atau orang lain? 


Tapi kenapa bisa bersama Mirza? 


Apa saja yang mereka lakukan di New York? 


Lalu, kenapa dia ikut datang ke sini? 


Apa mirza masih mencintainya? 


Apa selama ini aku hanya menjadi bahan pelarian? 


Apakah setelah ini Mirza akan meninggalkanku dan memilih perempuan itu?

__ADS_1


Dan masih banyak pertanyaan yang membuat Haira tak tenang. 


Setibanya di depan rumah, Erkan mengajak Kemal bermain. Memberi ruang Tuannya untuk berbicara dengan Haira dan menjelaskan semuanya. 


Mirza terus memeluk tubuh Haira yang terasa lemas itu ke kamar. Mendudukkannya di tepi ranjang, sementara Mirza berlutut di depannya. 


Mirza mencium kedua punggung Haira dengan lembut. 


"Kamu pasti bertanya, siapa perempuan itu. Dia adalah Lunara." Satu pertanyaan terjawab dengan lugas dari sudut bibir Mirza. 


"Aku sengaja menemuinya karena rasa penasaranku yang sangat besar." Pertanyaan kedua pun sudah mempunyai jawaban. 


"Aku tidak melakukan apa-apa, Sayang. Percayalah! Hanya kamu yang ada di hatiku." Mirza menggeggam tangan Haira dan meletakkan di dadanya. 


"Dia hidup menderita karena ulah kembarannya. Dan aku memberikannya pekerjaan yang lebih layak di sini." 


"Sekali lagi aku akan mengatakan padamu. Kalau aku tidak mencintainya. Sekarang dan selamanya hanya ada kamu seorang." 


"Jangan pernah berpikir kalau kamu hanya pelarian. Karena bukan itu tujuanku mencarimu. Tapi, aku ingin kamu mendampingi hidupku sampai kapanpun."


"Dan satu yang harus kau tahu. Aku tidak memilih Lunara, karena kamu dan Kemal sudah menyempurnakan hidupku." 


Tangis Haira pecah. Akhirnya ia mendapat jawaban atas pertanyaannya. Seolah-olah Mirza membaca isi hatinya saat ini. 


Mirza bangkit dan kembali memeluk Haira. Menyalurkan kasih sayangnya yang  tak akan pernah pudar. Kasih sayang yang seharusnya ia berikan sejak dulu, namun harus terlambat karena kebodohannya. 


Mirza tersenyum lebar, setidaknya wanita di depannya itu memberikan respon yang menurutnya wajar sebagai seorang istri. Apalagi selama ini Haira tidak pernah menuntut apapun dan menerimanya dengan tulus. 


"Kalau untuk urusan pekerjaan bagaimana? Sekarang dia sudah bergabung di perusahaanku," goda Mirza sekali lagi ingin melihat reaksi istrinya. 


"Kan, ada Erkan," pekik Haira yang hampir tersulut emosi dengan ucapan suaminya.  Terlihat dengan jelas kalau Haira cemburu. 


"Iya iya, aku tidak akan menemuinya lagi, kecuali __" 


"Tidak ada kecuali," sergah Haira menarik Mirza dan menggigit tangannya. 


Tidak merasakan sakit, justru gigitan lembut itu membangunkan sesuatu yang lima hari ini tidur dengan tenang. 


Mirza meraih tubuh Haira dan mendekapnya. Bibirnya mulai nakal menelusuri setiap jengkal wajah sang istri. 


Baru beberapa menit Mirza menyatukan bibirnya, dering ponsel berdering membuyarkan keromantisan yang tercipta. Terpaksa ia melepas pagutannya lalu merogoh ponselnya. 


Sial, siapapun kamu aku doakan tidak laku. 

__ADS_1


Ternyata nama Lunara yang berkedip. Meskipun begitu, Mirza tidak ingin mencabut doanya yang terlanjur meluncur. 


"Kalau kau butuh sesuatu bilang pada Erkan, karena saat ini aku sibuk." Mirza memutuskan sambungannya. 


Lunara yang ada di seberang sana berdecak kesal. Dadanya terasa meletup-letup mendengar ucapan Mirza yang acuh padanya. 


Mirza melanjutkan aksinya. Ia menggiring Haira ke arah ranjang. Namun, lagi-lagi ia harus menelan pil pahit saat mendengar suara pintu diketuk dari luar. 


"Siapa lagi sih?" gerutu Mirza kesal. Hasratnya sudah mulai memuncak, namun harus ada iklan yang mengganggu. 


"Jangan marah-marah, mungkin itu Kemal, dari kemarin dia kangen." Mengelus pipi Mirza, berharap pria itu untuk bersabar sampai waktu yang tepat. 


Mirza mengancingkan bajunya yang sempat terlepas dan membuka pintu.


Ternyata Kemal yang datang. Bocah itu pun membawa beberapa mainan di tangannya. 


"Aku mau tidur dengan Daddy," ucapnya polos. 


Mirza menatap Erkan dan menyungutkan kepalanya ke arah luar. Menandakan pria itu bisa pergi. 


"Iya, Nak. Kita akan tidur dengan mommy juga." Menggendong Kemal dan membawanya masuk. 


Kebersamaan yang terasa hangat. Kemal berbaring di tengah kedua orang tuanya. Bercerita pada Mirza tentang Fajar dan Hasan yang sudah pintar membaca dan menulis.


"Daddy, kapan aku sekolah?" Tiba-tiba pertanyaan itu muncul membuat Haira terenyuh.


Ia pernah berjanji akan menyekolahkan Kemal jika punya uang, namun itu belum terwujud hingga sekarang.


Mirza menatap Haira sebentar lalu mengelus kening putranya.


"Besok daddy akan antarkan Kemal sekolah."


"Beneran Daddy?" tanya Kemal memastikan. Ia tak mau hanya menerima janji seperti yang sering diucapkan Haira.


Mirza mengangguk tanpa suara.


Kasihan Kemal, pasti dulu Haira tidak punya uang untuk menyekolahkan dia. Sekarang, apapun yang kamu dan mommy inginkan akan Daddy penuhi.


"Sayang, besok kita daftarkan Kemal sekolah di tempat Hasan dan Fajar."


Tidak menjawab pertanyaan Mirza, Haira malah meminta maaf pada pria itu, ia merasa bersalah tidak bisa memenuhi permintaan Kemal.


"Aku yang seharusnya minta maaf, karena aku, kamu hidup menderita. Sekarang aku janji tidak akan membiarkan hal itu terulang lagi."

__ADS_1


Dalam hitungan menit, Kemal memejamkan matanya. Kini tinggal Mirza dan Haira yang masih berbincang.


"Nanti malam kita dinner berdua," bisik Mirza di telinga Haira.


__ADS_2