Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Ikut pulang


__ADS_3

Tuan Bahadir tiba di mansion utama. Di antara klien penting lainnya hanya ada beberapa orang yang tahu tempat tinggal baru Mirza, salah satunya adalah Tuan Bahadir. Namun, pria itu sangat kesulitan untuk masuk,  pasalnya semua penjaga melarangnya sebelum mendapat izin dari sang tuan rumah. 


"Apa kau ingin bertemu dengan kakekmu?" Haira kembali bertanya saat mendapat laporan dari penjaga yang bertugas. 


Nada membisu seribu bahasa. Memiliki keluarga kandung adalah hal yang paling diimpikannya, dan kini terwujud. Entah siapa yang salah, dirinya hanya korban dari keegoisan mereka yang tak mau bertanggung jawab. 


"Kalau tidak,  aku akan mengusirnya," imbuh Mirza sembari memainkan rambut Haira.


Tidak hanya Mirza dan Haira, seluruh keluarga mendukung apapun keputusan Nada, Erkan pun hanya bisa menghargai pilihan gadis itu. 


"Aku akan menemuinya, Kak." 


Setelah sekian menit, akhirnya Nada menjawab pertanyaan dengan lugas, namun berat.


"Suruh Tuan Bahadir masuk!" Deniz memerintahkan penjaga untuk pergi. 


Mirza dan Haira ke kamar. Mereka selalu memanfaatkan momen seperti ini.  Mumpung mood bumil lagi baik membuat Mirza terus bersemangat untuk menengok bayinya. Sedangkan yang lainnya pun ikut pergi dengan aktivitas masing-masing, kini di ruang tamu itu hanya ada Nada dan Erkan yang menanti kedatangan Tuan Bahadir. 


Dari jauh,  nampak pria tua berjalan ke arah Nada dan Erkan. Raut wajahnya terpancar kebahagiaan dengan senyum yang terus mengembang. 


"Itu namanya Tuan Bahadir. Dia ayah nya Tuan Meyzin," bisik Erkan. 


Nada menatap sekilas lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tidak mau terlalu percaya diri akan diterima oleh pria itu. 


"Silahkan duduk, Tuan!" Erkan membungkuk ramah.  Sebelum fakta pria itu adalah kakek dari calon istrinya,  Erkan pun sudah mengenal baik dan sering bekerja sama. 


Bahadir duduk di samping Nada.  Matanya kembali berkaca melihat gadis itu. 


"Kamu putri Meyzin?" 


Nada mengangguk  pelan.  Ia masih takut untuk berbicara panjang lebar pada orang yang menurutnya asing. Menggeser sedikit duduknya ke arah Erkan, menghindari tatapan Bahadir yang tak  dapat dibaca olehnya. 


"Ini Grandpa," cicit Bahadir ragu. Mengusir rasa malu yang dari tadi menghiasi wajahnya. 


Nada berusaha untuk menerima semuanya dengan lapang hingga ia melempar senyum untuk Bahadir. 

__ADS_1


"Aku tahu,  tadi daddy sudah mengirim pesan, katanya Grandpa mau ke sini." 


"Apa kamu gak mau peluk?" Merentangkan kedua tangannya. 


Seketika Nada berhamburan memeluk Bahadir dan menyandarkan kepalanya di dada bidang pria tua itu. 


Ternyata seperti ini rasanya dipeluk sama kakek kandung. 


Keduanya saling menikmati pelukan hangat itu hingga membuat Erkan cemburu.  Dirinya yang selama ini bersama dan berjuang membantu Nada, namun harus orang lain yang mendapatkan pelukan lebih dulu. 


Awas saja kalau dia sudah menjadi istriku,  aku pastikan kakek dan daddy tidak akan bisa menemuinya lagi. 


Erkan menatap Bahadir sinis. Menganggap pria itu merebut calon istrinya. 


Terdengar isakan kecil yang membuat senyum nada meredup. Ia mengendurkan pelukannya menatap pipi keriput Bahadir yang dipenuhi dengan air mata. 


"Kenapa Kakek menangis?" tanya Nada menatap manik mata sayu bahadir dengan lekat. 


"Aku menangis bahagia karena bisa bertemu kamu. Tuhan mendengar doa kakek yang penuh dosa ini.  Sekarang kamu ikut kakek pulang." 


Nada menoleh, menatap Erkan yang menggeleng kecil. Sepertinya saat ini gantian ia yang harus ngusilin Erkan. 


"Aku mau,"  jawab Nada tanpa ragu. 


Erkan mencubit kecil punggung Nada hingga membuat sang empu meringis. 


"Hari ini kita ada pemotretan foto prewedding,  kamu gak boleh pergi." 


Nada menilik jam mewah yang melingkar di pergelangan tangan Erkan. "Masih ada waktu dua puluh menit,  Kak. Nanti aku akan langsung pulang, sekalian jenguk daddy." Menaik turunkan alisnya, membujuk Erkan yang nampak merajuk. 


"Baiklah,  tapi harus denganku." Erkan tak mau kalah, ia harus memastikan keselamatan gadis itu,  apalagi Nada belum tahu seluk beluk keluarga Bahadir.  Meskipun mereka keluarga kandung,  tak menuntut kemungkinan ada niat buruk dibalik itu semua. 


Di dalam kamar,  Haira kembali bermandikan peluh. Ia harus menerima hujaman kenikmatan dari seorang Mirza yang akhir-akhir ini sangat posesif dan ingin terus menjamahnya. Tidak ada kata bosan untuk terus membawa Haira terbang melayang dan berada di puncak nirwana. 


Keduanya saling mengatur napas setelah berhasil melewati pergumulan panasnya.  Tak henti-hentinya ucapan terima kasih meluncur dari sudut bibir Mirza.  Tak hanya untuk Haira, akan tetapi juga ketiga anaknya yang semakin hari semakin menginginkannya.  Bahkan Haira pun sudah tak meminta hal yang aneh-aneh lagi dan itu membuat Mirza banyak-banyak bersyukur. 

__ADS_1


"Kamu yakin gak merasakan apa-apa?" Mirza mengusap kening Haira yang masih basah lalu membelai pipi Haira yang nampak merona. Takut aksinya menyakiti mereka.


Haira menggeleng tanpa suara. Memejamkan matanya sejenak untuk mengembalikan tenaganya yang habis terkuras oleh Mirza yang bersemangat. 


Sementara itu,  Nada yang ikut Bahadir harap-harap cemas. Sepanjang perjalanan ia hanya bisa diam sembari mendengar cerita dari sang kakek. Sesekali melirik Erkan yang terlihat manyun. 


"Kakak marah?" tanya Nada berbisik,  namun masih bisa didengar seluruh penumpang,  termasuk sang supir yang mengendalikan mobilnya. 


"Kalau bertemu dengan calon mertua,  kenapa harus marah," tukas Erkan sembari merogoh ponselnya yang berdering. 


Ternyata pesan dari salah satu rekan kerja yang mengingatkan tentang meeting besok,  sedang ia juga sibuk mempersiapkan pernikahan yang sudah tujuh puluh lima persen terselesaikan. 


"Sebentar lagi kamu menikah, tapi masih sibuk bekerja," cetus Bahadir. Ia tahu, pasti Erkan masih bergelut dengan pekerjaannya yang pastinya super sibuk. 


"Masih ada beberapa rapat diluar kota, dan aku tidak bisa meninggalkannya, Tuan." 


"Aku kakek kamu, kenapa kau memanggilku, Tuan?" pekik Bahadir sembari memukul lutut Erkan dengan tongkatnya. 


Nada yang duduk di tengah-tengah mereka hanya bisa menahan tawa melihat perdebatan antara kakek dan calon suaminya. 


"Lupa, Kek." Mengusap lututnya yang terasa nyeri.


Tanpa terasa, mobil berhenti di depan mansion yang sangat mewah. Nada turun mengikuti langkah Bahadir menuju pintu depan. 


Brraaaakkkk


Tiba-tiba suara gebrakan dan jeritan menggema dari arah dalam. Bahadir bergegas membuka pintu utama. Betapa terkejutnya saat melihat barang-barang teronggok di lantai. Juga Meyzin dan Laurent yang saling berdebat. 


"Sudah cukup!" teriak Bahadir yang hampir berjalan menghampiri Meyzin. Tapi, langsung ditahan oleh Nada.


"Kakek jangan ikut, biar Daddy yang menyelesaikan semuanya, bisiknya dengan rasa takut."


Meyzin tersenyum melihat putrinya berdiri di antara ayah dan calon menantunya.


Tanpa disadari tangan Laurent yang memegang pecahan gelas langsung melayang tepat di punggung pria itu.

__ADS_1


__ADS_2