
"Daddy…" jerit Nada melepas diri dari pelukan Bahadir. Ia berlari menghampiri Meyzin yang mulai ambruk.
Erkan yang panik pun ikut berlari. Namun, langkahnya terhenti saat Lauren meraih tubuh Nada dan menodongkan pistol ke arah leher gadis itu. Mencekik lehernya hingga nampak kesulitan bernapas.
"Daddy…." Nada tak peduli dengan nyawanya. Air matanya terus luruh saat Meyzin bersimbah darah, bahkan baju bagian belakang sudah penuh dengan warna merah pekat.
"Lepaskan dia!" titah Erkan saat Lauren mulai membawa Nada berjalan mundur.
Bahadir memanggil semua penjaga yang bertugas di rumahnya untuk mengepung lokasi.
"Jangan hiraukan aku, Kak. Bawa daddy ke rumah sakit," pinta Nada antusias. Ia takut kehilangan Meyzin disaat dirinya baru saja mendapatkan kasih sayangnya.
Erkan bingung harus melakukan yang mana, di satu sisi Meyzin butuh pertolongan. Akan tetapi, ia tak bisa meninggalkan Nada dalam kondisi seperti itu.
"Kalian turunkan senjata, atau aku akan bunuh dia!" ancam laurent saat melihat semua penjaga sudah mengelilinginya.
Bahadir mengedipkan mata. Ia tak mau mengambil resiko mengingat siapa yang ada di cengkeraman Lauren saat ini. Ia pun tak mau cucunya menjadi tumbal lagi.
"Sebenarnya apa yang kamu mau, aku sudah menutupi keburukanmu. Sekarang lepaskan cucuku!" perintah Bahadir santai. Mengikuti langkah laurent menuju pintu depan.
Senyap
Tak ada yang berani bersuara. Erkan bingung mau melakukan apa dan memilih untuk mengikuti alur laurent. Sedangkan, otaknya masih berjalan, mencari cara untuk bisa melepaskan calon istrinya.
"Serahkan semua harta kamu, atau kau akan melihatnya mati hari ini juga."
Bahadir bergegas ke kamar. Tak lama kemudian pria itu kembali membawa beberapa map di tangannya.
"Ini kan yang kamu mau?" Mengangkat map itu. "Tapi lepaskan cucuku." Melempar map itu tepat di depan laurent. Tidak ada yang terpenting selain keselamatan Nada.
Mata Nada tak teralihkan dari Meyzin yang tak sadarkan diri.
Daddy, bangun.
Setelah memeriksa semua map yang benar keasliannya, laurent membawa Nada keluar. Setibanya di sisi mobil. Ia memperingatkan pada seluruh penjaga untuk tidak melawan, lalu mendorong tubuh Nada hingga jatuh tersungkur.
"Kamu tidak apa-apa?" Erkan berjongkok lalu merengkuh sang kekasih yang nampak ketakutan.
"Daddy, Kak. Kita harus menolongnya."
Erkan mengangguk. Ia menghubungi seseorang untuk mengejar mobil yang ditumpangi laurent. Begitu juga dengan anak buah Bahadir yang berhamburan pergi.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa, Nak?" Bahadir ikut cemas dan mengusap kaki Nada yang nampak memar akibat terhempas lantai.
"Aku tidak apa-apa. Sekarang kita bawa daddy ke rumah sakit."
Erkan segera meminta bantuan yang lain untuk mengangkat Meyzn ke mobil.
Di sisi lain, Mirza langsung mencengkeram ponsel di tangannya setelah mendapat kabar duka yang terjadi di rumah Bahadir.
Rupanya ada yang mau main-main denganku.
Erkan memang bukan saudara, namun Mirza ikut geram jika ada yang mengusik hidup sang sekretaris.
Nada kembali bermandikan air mata saat Meyzin dilarikan ke rumah sakit. Ia hanya bisa berdoa demi kesehatan pria itu.
"Apa sudah ada perkembangan?" tanya Erkan pada orang yang ada di balik benda pipihnya.
"Kami sudah berhasil menangkapnya, Tuan."
"Amankan semua sertifikat, sebentar lagi aku ke sana."
"Baik, Tuan."
Erkan kembali menghampiri Nada yang masih terisak. Ia bisa melihat kekacauan pada gadis itu hingga membuatnya sedikit tak tega untuk pergi.
"Kamu di sini dengan kakek, aku akan pergi sebentar," ucapnya dengan lembut.
"Tapi, Kak __" ucapannya terhenti saat Erkan membungkam bibir gadis itu dengan jarinya.
"Aku akan segera kembali," imbuh Erkan meyakinkan.
Terpaksa Nada mengangguk, walaupun berat ia harus melepas Erkan.
Baru beberapa langkah menjauh, Haira dan Nenek serta Mirza datang. Mereka nampak panik dan berhamburan memeluk Nada.
"Bagaimana keadaan Tuan Meyzin?" tanya Mirza yang baru saja tiba.
"Dokter belum keluar, Tuan. Saya juga menunggu," jawab Bahadir dengan ramah.
Erkan dan Mirza saling berbicara berbisik, lalu pergi meninggalkan rumah sakit setelah sebelumnya pamit pada sang istri tercinta.
Di sebuah bangunan tua yang jauh dari pemukiman warga, Erkan mendaratkan mobilnya. Ia sudah tak sabar bertemu dengan wanita yang secara tidak langsung sudah membuat calon istrinya menangis. Baginya itu sudah keterlaluan.
__ADS_1
"Sebaiknya Tuan tidak usah ikut masuk," pinta Erkan pada Mirza, tidak ingin merepotkan orang lain.
"Tidak, aku harus ikut, lagipula aku bisa membantumu jika perempuan itu macam-macam." Mirza tetap kekeh dan mengikuti langkah Erkan dari belakang.
"Di mana dia?" tanya Erkan pada penjaga yang berdiri di depan pintu utama.
Seorang pria bertubuh kekar itu berjalan menunjukkan tempat di mana ia dan kawan-kawannya menyekap Laurent.
"Ini semua sertifikat yang dibawa perempuan itu, Tuan," lapor salah satu di antara banyaknya orang yang berjaga.
Erkan memeriksanya lalu mengembalikan kepada pria itu, setelah itu melanjutkan langkahnya. Ia masuk ke sebuah ruangan kosong, dimana hanya ada Laurent di sana. Kaki dan tangan wanita itu terikat serta mulut yang disumpal dengan kain.
Mirza tertawa puas melihat Laurent yang tak berdaya. Seolah-olah sudah bersorak atas kemenangan Erkan yang sudah berhasil meringkus sasarannya.
"Sekarang rasakan pembalasan dia." Menunjuk Erkan yang berdiri di samping nya.
Laurent hanya bisa melihat Erkan dan Mirza. Percuma memberontak, ia tidak akan bisa terlepas dari mereka.
"Aku tidak tahu apa motifmu melukai Daddy, tapi aku tidak terima karena kamu sudah membuat calon istriku menangis," ungkap Erkan dengan dada yang meletup-letup.
Pasalnya, kesedihan Nada baru saja mereda, namun harus terulang lagi dan itu membuatnya tak terima.
Mirza mengambil kain yang menutup mulut Laurent." Silahkan berbicara mantan Nyonya Meyzin!" titahnya sembari melempar kain itu ke sudut ruangan.
Laurent hanya diam dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Ayo nyonya! Sebelum sekretarisku ini membuatmu tak bisa bicara selamanya. Gunakan waktumu sebaik mungkin," imbuhnya.
"Ini tidak ada hubungannya dengan kalian, jadi percuma saja kalian memaksaku.''
"Aku tidak memaksa, cuma mengingatkan kalau sebentar lagi kamu akan habis dimakan Erkan."
Dimakan, memangnya aku kanibal yang suka makan manusia, gerutu Erkan dalam hati sembari menepuk jidatnya. Kehadiran Mirza malah membuyarkan semua rencananya yang sudah tersusun rapi. Bagaimana Tidak, pria itu terus berbicara absurd di tengah suasana yang mencekam.
Erkan memanggil pengawal. "Kamu jaga dia dengan baik, nanti aku ke sini lagi," bisiknya.
Erkan langsung menggiring Mirza keluar dari tempat itu.
"Kenapa kita pergi, aku belum lihat kamu menyiksa dia," protes sang penguasa.
"Yang ada kita bukan menyiksa dia, tapi melawak di depan dia," pekik Erkan yang membuat beberapa pengawal tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1