
Mirza terus memandang wajah cantik Haira yang terlelap. Tangannya mengusap kening sang istri dengan lembut dan sesekali menciumnya, sedikitpun tak ingin jauh dari wanita itu yang kini membawa sebagian dari dirinya.
"Kau itu hampir membuatku jantungan," lirih nya. Mengingat permintaan yang sulit ia lakukan.
Bagaimana tidak, Haira meminta Mirza datang ke Indonesia dalam hitungan jam, dan harus kembali seketika itu juga.
Cerita Nita tentang wanita hamil yang pasti akan banyak maunya sudah mulai terbukti pada diri Haira. Mirza pun ingin membuktikan sejauh mana wanita itu mengujinya. Apakah Mirza akan sabar seperti Haira saat mengandung dan merawat Kemal, ataukah tidak ada apa-apa dibandingkan pengorbanan Haira selama ini.
Engh
Haira melenguh dan menggerakkan tubuhnya yang terasa remuk.
Mirza membujuknya dengan segala cara, akhirnya bisa luluh dan mau melupakan permintaannya.
Pelan-pelan matanya terbuka. Mengelilingi setiap sudut kamar dan berhenti pada wajah tampan Mirza yang dihiasi dengan senyuman.
"Ngapain kamu di sini?" ucap Haira sinis sembari mendorong Mirza ke belakang.
Mirza kebingungan, tidak biasa Haira ketus padanya, bahkan ini pertama kali, wanita itu mendorongnya.
"Aku suamimu, dan biasanya kita juga sedekat ini. Setiap malam kamu minta dipeluk."
Mirza maju lagi dan mempraktekkan saat ia memeluk. Namun, tidak dengan wanita itu yang terus mencekal Mirza hingga melepaskan pelukannya.
"Aku gak mau dekat-dekat dengan kamu. Pergi!" pinta Haira melengos. Tangannya mengulur menunjuk pintu kamar yang tertutup rapat.
Mirza mengacak rambutnya, frustasi. Bingung harus bagaimana. Di satu sisi teringat dengan ucapan Nita yang harus memenuhi setiap permintaan Haira. Di sisi lain, ia tidak ingin jauh walaupun satu centi.
"Sayang, Ayolah, nanti kamu kedinginan." Masih mencoba merayu Haira, berharap bisa luluh seperti tadi.
Haira menyibak selimut lalu turun. Ia sendiri juga bingung dan tidak ingin melihat wajah suaminya.
"Tapi aku gak bisa dekat kamu, Sayang." Cairan bening lolos membasahi pipi mulusnya. Ia tidak tahu dengan dirinya sendiri, yang sangat muak saat melihat wajah Mirza.
Mirza ikut turun dan mencoba mendekati Haira, namun dengan cepat wanita itu berlari ke arah kamar mandi.
"Sayang, aku gak mau dekat kamu."
Mirza membisu. Otaknya berkelana, memikirkan apa yang sudah terjadi pada istrinya saat tidur hingga tidak mau dekat padanya. Meraba kesalahan yang ia lakukan, tapi tak menemukannya.
__ADS_1
Melihat Haira sesenggukan, terpaksa Mirza mengalah.
"Baiklah, aku akan keluar, tapi cium dulu."
Haira menahan perutnya yang terasa mual saat Mirza berjalan menghampirinya. Tangannya bergerak menjepit hidungnya lalu memejamkan mata.
Setelah mencium Haira, Mirza langsung keluar. Dengan berat hati ia harus meninggalkan Haira.
Fuad yang ada di ruang tamu menyungutkan kepalanya ke arah Mirza yang tampak lesu.
"Kenapa, Za?" tanya Aynur menatap lekat adik iparnya yang duduk di samping Deniz.
Mirza menghela nafas panjang. "Haira memintaku pergi."
Fuad menahan tawa. Penderitaan yang tiada tara. Meskipun ia belum pernah berada di posisi Mirza, namun pria berdarah blasteran itu bisa merasakan penderitaan adik iparnya. Ingin mengejek, kasihan. Tapi lucu juga melihatnya menderita.
"Sabar, ibu hamil memang seperti itu. Mungkin anakmu balas dendam karena kamu pernah membenci mommynya," ucap Deniz menohok.
Ia tidak pernah menyalahkan Haira dan selalu mengingatkan pada Mirza tentang kesalahan yang pernah diperbuatnya.
"Tapi aku gak bisa jauh darinya, Kak," bantah Mirza meninggikan suaranya. Haira bagaikan paru-paru. Maka, dadanya terasa sesak jika jauh dari wanita itu.
"Tapi itu permintaan anakmu. Apa kau tidak mau memenuhi keinginan anakmu sendiri. Lihat Kemal, apa kau tahu bagaimana kehidupan dia sebelum bertemu denganmu. Pasti juga menderita."
Aku tahu, tapi aku tidak bisa. Mirza hanya mengucap dalam hati. Mencoba menahan gejolak yang membelenggu.
Ceklek
Pintu kamar terbuka.
Haira berjalan ke arah meja makan, dan kembali membuka tudung saji.
Mirza hanya bisa melihatnya dari jauh. Meskipun ingin memeluk dan mencium, tetap ia tahan demi anaknya.
"Mau makan apa, Ra?" tanya Nita yang baru saja menghampiri Haira.
"Makan ini aja, Kak.'' Mengambil sepotong roti daging yang masih tersisa. Duduk di ruang makan dan ditemani kakak iparnya.
''Kata kak Deniz besok kita sudah bisa pulang, kamu konsultasi lagi dengan dokter pribadi keluarga kita.''
__ADS_1
Mengelus perut Haira yang masih rata. Bangga dengannya, mampu bertahan di sisi Mirza yang kejam, bahkan hanya ia satu-satunya yang bisa meluluhkan hati sang adik yang sekeras batu. Menjadi siang malamnya dan juga cahaya yang terang.
Haira beranjak dari duduknya melewati Mirza yang baru saja berdiri, sedikitpun tak ingin melirik suaminya yang berharap disapa.
Haira membuka pintu depan. Menatap satu persatu penjaga yang sedang menjalankan tugasnya.
''Kamu mencari siapa, Sayang?" Mirza mencoba bertanya dari arah kejauhan.
Haira menoleh ke belakang, menatap suaminya, jijik.
"Mencari Erkan, dia di mana?" tanya Haira yang membuat dada Mirza menguap.
Sabar, Za. Jangan sampai kau terbawa emosi.
Mirza mengusir amarahnya yang hampir tiba di ubun-ubun. Ternyata menghadapi ibu hamil lebih sulit dari pekerjaan yang digelutinya.
"Dia sudah ada di perjalanan, sebentar lagi sampai," jawab Mirza seketika.
Haira duduk di belakang pintu dengan mata terus menatap ke arah gerbang.
''Mau apa dia mencari Erkan, apa dia nitip sesuatu?" tanya Mirza pada diri sendiri.
Kesal, marah dan ingin memaki semua orang. Hati dan pikirannya semrawut dan ingin meluapkan kekesalannya. Namun apa daya, Mirza hanya bisa menerima dengan apa yang diucapkan.
Tin Tin
Suara klakson menggema. Senyum mengembang di bibir Haira saat melihat seorang pria turun dari mobil.
"Erkan sini!" Melambaikan tangannya ke arah sang sekretaris yang masih berbicara dengan pengawal.
Tak ubahnya seperti Mirza, Erkan pun bingung dengan sikap nona nya yang nampak akrab. Padahal, selama ini mereka hanya berbicara penting saja. Itupun sesingkat mungkin karena Mirza terus mengawasi pergerakannya.
"Saya, Nona," jawab Erkan terputus-putus, bukan takut pada Haira atau yang lainnya, melainkan pada mata elang Mirza yang menatapnya dengan tatapan tajam.
Kenapa aku ingin melihat Erkan, bukankah kak Mirza lebih tampan darinya.
Haira menatap Mirza lalu beralih menatap Erkan. Entah kenapa ia merasa nyaman saat berada di dekat sang sekretaris daripada harus berada di dekat suaminya sendiri.
''Duduk di situ.'' Menunjuk kursi yang ada di depannya.
__ADS_1
Erkan langsung duduk seperti yang Haira inginkan.
Sekujur tubuh Mirza berkobar melihat senyum Haira yang dipersembahkan untuk pria lain. Meskipun Erkan terus menunduk, tetap saja ia ingin memukul pria itu.