Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Sandiwara dimulai


__ADS_3

''Kau menyindirku?'' Mirza menyahut dari arah meja makan. Wajahnya memang tak nampak, tapi suaranya terdengar menggelegar bak petir yang menyambar.


Haira melirik sekilas lalu menarik bi Enis yang hampir masuk kamar. Berdiri di belakang lemari dan saling berhadapan. Ia ingin melihat sejauh mana Mirza marah padanya. Egonya yang terlalu tinggi pun tak mau mengalah demi menjaga kebenaran. 


''Sepertinya ada yang berbicara, tapi dari mana ya? Bukankah semua orang sudah tidur.'' Haira sengaja memancing emosi Mirza yang sudah hampir naik. Tak henti-hentinya berbicara menyinggung sang suami yang saat ini jelas mendengar suaranya. 


Sabar, Za. Ingat jangan sampai kamu salah langkah. Menguatkan diri sendiri untuk bisa menghadapi segala omongan istrinya. 


Mirza meraih sendok yang beberapa saat lalu diletakkan. Menahan dadanya yang sudah hampir meledak. 


Wajah bi Enis pucat pasti. Tenggorokannya sudah terasa kering, ia takut kalau Tuannya itu akan marah dan memukul Haira. Pergerakannya pun tercekat karena saat ini Haira terus memegang tangannya. 


''Mungkin tetangga yang sedang kamu ghibah.'' Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya Mirza angkat bicara. 


Haira menahan tawa. Tak seperti dulu yang selalu takut saat berhadapan dengan Mirza, kali ini rasa itu lenyap, bahkan sedikitpun dia tak takut pada suaminya dan terus ingin menggodanya. 


"Bukannya rumah ini terpencil ya, Bi? Kenapa tetangga bisa dengar," selorohnya. 


Mirza sudah tak tahan lagi, ia meneguk air hangat yang ada di atas meja lalu beranjak. Ia langsung berjalan ke arah dapur dan berdiri di belakang Haira. Melipat kedua tangannya dan menyandarkan bahu di lemari pendingin.


Bi Enis yang melihat Tuannya itu langsung saja menundukkan kepala. Sedangkan Haira nampak santai, namun dengan posisi memunggungi suaminya. 


"Bi Enis, waktunya tidur," ucap Mirza memberi kode. Berharap wanita yang masih berseragam pelayan itu cepat pergi. 


Terpaksa bi Enis ke kamar meninggalkan haira sendirian. 


Haira memutar tubuhnya. "Permisi, Tuan," ucapnya pelan. 


Dengan sigap, Mirza meraih tubuh ramping wanita itu dan mendekapnya. 


''Aku tidak pernah menuduhmu selingkuh,'' ucap Mirza menjelaskan. Tadi siang ia hanya terbawa emosi saat istrinya itu menerima bunga dari orang lain. Terlebih seorang pria. 


''Tapi  kamu marah padaku,'' bantah Haira mencengkal tangan Mirza. Namun, tenaganya yang kecil tak mampu mengalahkan tenaga Mirza yang sangat besar. Bahkan Mirza malah semakin merengkuh nya dengan erat. 


''Aku terbawa emosi. Aku gak suka ada yang bilang cinta ke kamu, selain aku.'' 


Haira lega, setidaknya Mirza sudah mengakui kesalahannya dan tidak menyudutkan nya lagi. 


''Kamu sudah makan apa belum?'' tanya Mirza. 

__ADS_1


Haira menggeleng. Ia memang tak selera makan saat Mirza memarahinya. 


''Aku suapi.'' Menggiring sang istri ke ruang makan. 


Bu Enis dan pelayan lainnya yang mengintip pun ikut senang melihat majikannya kembali akur. 


''Apa kamu pernah berpacaran dengan Hamiz?'' tanya Mirza di sela-sela menyuapi Haira. 


Hair menggeleng. Sebenarnya tak ingin bercerita tentang masa lalu, tapi ia tak mau membuat Mirza salah paham padanya. 


''Dulu kami berteman. Tapi setelah aku tahu Nada mencintainya, aku memilih untuk menjauh. Setelah itu Hamiz bilang padaku kalau dia tidak bisa menerima Nada, dan aku juga memutuskan untuk tidak bertemu dia lagi,'' jawab Haira jujur. 


Mirza manggut-manggut menyaring setiap perkataan sang istri. 


Lalu siapa yang berani mengirim bunga itu. Masih menerka-nerka seseorang yang sudah lancang mengusik dirinya. 


Usai makan, Mirza mengambil ponsel. Ia menghubungi anak buahnya yang ditugaskan untuk memata-matai Hamiz. Meminta mereka untuk tetap waspada dan jangan sampai ketahuan oleh tersangka. 


''Kamu jangan main kasar,'' pinta Haira. 


''Kau membela dia?'' sentak Mirza 


''Bukan, Sayang. Aku belain kamu. Aku gak mau kamu berurusan dengan polisi. Ya," Haira menyela Mirza yang hampir membuka suara. "Aku tahu kamu bisa membayar berapapun untuk mencuci tangan, tapi tetap saja itu salah, dan aku gak mau Kemal mewarisi sifat arogan nya kamu."


Mirza hanya bisa memendam emosinya dalam hati. Tak mungkin ia membantah dan berakhir tidur sendiri. 


''Iya, Iya, aku gak akan melukai cinta masa lalumu.'' Beranjak dari duduknya. 


Haira tersenyum, akhirnya ia bisa meluluhkan hati Mirza yang dulu sekeras batu karang. Ia berlari dan melompat. Melingkarkan tangannya di leher sang suami serta kedua kakinya di pinggang pria itu, hingga Mirza harus menyangga kedua paha Haira. 


''Tidur di mana nih?'' tanya Mirza menghentikan langkahnya. 


Haira menunjuk kamar yang biasa mereka tempati. Menyandarkan dagunya di pundak Mirza. Malam ini ingin bermanja-manja tanpa gangguan siapapun. 


Mirza menurunkan Haira di atas ranjang. Setelah itu dirinya ikut naik dan berbaring di samping nya. 


''Malam ini gak ada jatah, karena sudah membuatku emosi," terang Haira menarik selimut. 


''Besok double,'' bisik Mirza menyeringai. 

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Mirza harus membuka mata saat mendengar ketukan pintu. Ia langsung membukanya, takut ada  yang penting. 


''Maaf mengganggu, Tuan," sapa pelayan, ia menyodorkan ponsel milik Haira yang tertinggal di kamar Kemal. 


''Ini hp nona berbunyi, Tuan.'' 


Mirza menerima lalu membawanya masuk. Ia menatap nomor tanpa nama yang berkelip di layar. 


Ingin membangunkan Haira, namun ia tak tega melihat sang istri yang nampak terbang ke alam mimpi, akhirnya Mirza  mengangkatnya tanpa menyapa. 


''Halo, Sayang. Kenapa lama?'' Suara berat menyapa membuat dada Mirza kembali meletup-letup. 


Bajing an, umpat Mirza dengan kedua tangan mengepal. Darahnya mendidih mendengar ucapan yang memuakkan itu. 


Akhirnya Mirza mematikan ponselnya lagi dan beralih menghubungi pria itu lewat pesan. 


Sebenarnya ia jijik untuk mengetik kata-kata itu. Namun apa daya, demi sebuah kebenaran ia rela untuk bermain petak umpet. 


Kamu siapa? pesan pertama terkirim. Mirza yang cerdik tidak langsung menanggapi lebih dekat, Harus tahu seluk beluk dan ciri khas dari orang tersebut. 


Aku Murad, teman kamu waktu sma, masa gak kenal sama mantan sendiri.


Setelah membacanya, Mirza kembali mengetik sesuatu. Ia sudah tak sabar ingin menguak semuanya.


Temen aku kan banyak, mungkin aku lupa. Dari mana kamu tahu nomorku?


Itu tidak penting, Sayang. yang penting sekarang kita bertemu lagi, dan aku ingin memperbaiki hubungan kita. Apa kamu suka bunga dariku?


Aku gak bisa bertemu sembarang orang. Jadi bunga itu darimu? Mirza mengirim pesan lagi. 


Besok kita ketemu di taman kota jam sepuluh, aku memakai baju warna merah. 


Mirza hanya mengirim emoji jempol lalu meletakkan benda pipih itu di atas nakas. 


''Siapa pun kamu, aku akan memberikan hukuman yang setimpal karena sudah berani mengganggu istriku.''


Mirza mengusap kening Haira.


"Aku yakin kalau kau hanya korban dari mereka yang ingin menghancurkan rumah tangga kita."

__ADS_1


Mirza mencium pipi Haira lalu ikut berbaring. Menanti waktu yang akan menjelaskan semuanya.


__ADS_2