
Tak hanya mentari yang bersinar cerah, hati Haira pun bercahaya. Ia merasa hidupnya lengkap, didampingi suami dan juga buah hati yan tampan. Setelah bangun tadi, ia memeriksa kamar Mirza. Ternyata sudah bersih dari barang-barang yang bersangkutan dengan Lunara. Kini kembali ke kamar Kemal untuk melihat dua orang yang saling berpelukan dan meringkuk di atas ranjang.
Tak tega membangunkan keduanya yang baru tidur beberapa menit yang lalu, Haira pun memilih keluar. Tak sengaja, wanita itu berpapasan dengan Arini yang baru saja turun dari tangga. Entah ada angin apa, gadis itu tersenyum renyah ke arah Haira.
"Pagi, Kak," sapa nya yang membuat Haira tercengang, bahkan kali ini seperti mimpi di pagi buta.
"Pagi," jawab Haira ragu, terus menatap Arini yang berlalu menuju ruang makan.
"Kak Mirza dan Kemal belum bangun?" tanya Arini dari jauh.
"Belum," jawab Haira seraya menggeleng. Ingin melangkah mendekati gadis itu, namun di urungkannya.
"Kak, temani aku makan." Seperti seorang adik yang bermanja dengan kakaknya, itulah Haira mendengar suara Arini, bahkan sekilas ia teringat dengan Nada yang dulu juga sering bermanja padanya.
Haira melangkah, menghampiri Arini yang mulai menggigit kebab di tangannya.
Kemarin di tempat itu mereka tak saling bicara, bahkan seperti orang asing, namun kini keduanya bagaikan saudara. Saling akrab dan tertawa, benar-benar aneh.
"Semalam kamu pulang jam berapa?" tanya Haira, memecahkan suasana yang lumayan membeku.
"Jam tujuh, Kakak dan kak Mirza sudah ada di kamar," jawabnya.
Jika dilihat tak ada yang aneh, namun tetap saja Haira merasa masih canggung.
Jam tujuh, itu artinya kau sudah pindah di kamar Kemal.
"Aku punya sesuatu untuk, Kakak." Arini meninggalkan ruang makan lalu ke kamarnya untuk mengambil sesuatu.
Kenapa dengan dia, apa semalam mendapat wahyu sampai dia baik padaku.
Haira masih tak percaya dengan sikap Arini yang berubah seratus delapan puluh derajat.
Arini kembali membawa paper bag di tangannya. Meletakan di atas meja dan membukanya.
"Ini mahal lo, Kak." Menjewer dress cantik yang berwarna putih. Dilihat dari mereknya itu memang baju mahal, bahkan hanya pengusaha besar dan kaya yang mampu membelinya.
Haira menerimanya lalu mengucapkan terima kasih. Menatap curiga pada Arini yang kembali menikmati kebab nya.
Apa ini cuma akal-akalan dia, atau cara dia untuk mengusirku dari rumah ini. Aku gak boleh berprasangka buruk, mungkin saja dia memang sudah sadar dan mau menerimaku sebagai kakak sepupunya.
"Ayo Kak, dicoba. Pasti kak Mirza terpesona. Dia itu suka perempuan yang memakai baju berwarna putih seperti itu."
__ADS_1
Haira mengingat-ingat dengan bajunya yang ada di lemari.
Pantas saja dia sering beliin baju yang berwarna putih, ternyata itu warna favoritnya.
"Ya sudah, aku coba dulu."
Haira masuk ke kamarnya. Ia langsung berdiri di depan cermin tanpa melihat ke arah ranjang. Melepas semua bajunya meninggalkan dua kain yang menutupi area sensitifnya.
Gila, itu body, apa gitar spanyol?
Mirza yang dari tadi sudah terbangun menelan ludah dengan susah payah. Matanya tak teralihkan dari tubuh putih Haira. terpana dengan makhluk cantik yang pernah disia-siakan itu. Sesuatu dibawah sana sudah meronta ingin meminta jatah. Namun apa daya, di kamar itu ada Kemal dan juga masih terlalu pagi untuk beraktivitas ranjang. Takut banyak gangguan yang melintas. Akhirnya ia hanya bisa berkelana dengan otak mesumnya. Lumayan, matanya sudah disuguhi pemandangan yang luar biasa indahnya.
Ternyata pilihan Arini bagus banget. Haira memuji dalam hati. Menatap bayangannya dari pantulan cermin lalu berputar-putar bak model yang melakukan sesi pemotretan.
Setibanya menghadap ke arah ranjang, matanya terbelalak melihat sang suami yang sedang bersandar dashboard dengan kaki menjulur ke depan. Bukan itu, ternyata Mirza menatapnya bagaikan penonton yang menikmati film action, serius.
"Ka… kamu, sudah bangun?" tanya Haira gugup. Wajahnya merona mengingat kelakuannya sendiri.
"Hmmm.. Memangnya kamu gak lihat kalau aku sudah bangun?"
Haira menggeleng, betapa bodohnya sampai tak memperhatikan suaminya yang ternyata sudah bangun.
"Itu artinya kamu melihatku dari tadi?" Jantung Haira berdebar tak karuan, malu pada Mirza.
"Ini baju dari siapa?" tanya Mirza memutar tubuh Haira. Dua tangannya memegang pinggang ramping yang tadi membuatnya terhipnotis.
"Dari Arini."
Ingin tertawa, takut terjadi kesalah pahaman. Sama seperti Haira, ia pun tak percaya dengan ucapan wanita itu.
"Tumben Arini baik banget sama kamu. Biasanya dia menbencimu setengah mati."
Sebab, dulu Mirza sering mendengar olokan Arini untuk Haira.
"Mungkin dia baru dapat rejeki nomplok."
Mirza berdecak dan memeluk Haira. Menghirup dalam-dalam aroma wangi dari tubuh istrinya.
"Setiap hari dia juga dapat rejeki, kemarin aku kirim uang ke rekeningnya."
"Berapa?"
__ADS_1
"Seratus ribu lira."
"Whaatt!" pekik Haira seketika. Tak menyangka dengan nominal yang diucapkan Mirza. Bekerja hingga satu tahun saja ia baru mendapatkan seperlima nya, namun Mirza memberikan uang itu dengan mudah.
"Kenapa kamu kaget begitu?" tanya Mirza. Ia banyak menyimpan rencana liar saat melihat keterkejutan istrinya. Mungkin mengerjai Haira dengan cara ini akan lebih seru, itulah menurut Mirza.
Haira menggeleng, otaknya terus berputar akan membeli apa saja jika memegang uang sebesar itu.
Semenjak bertemu, Mirza memang belum memberikan sejumlah uang untuk Haira. Ia hanya mencukupi kebutuhan wanita itu, bukan pelit atau tak percaya, namun Mirza tak ingin Haira terlalu bebas di luaran seperti wanita yang lainnya.
"Itu tak seberapa. Kamu bisa memegangnya lebih dari itu," imbuhnya dengan nada merayu.
"Memangnya boleh?" tanya Haira ragu. Ia juga ingin bermandikan uang seperti istri konglomerat yang lainnya.
"Boleh, asalkan ada upahnya."
"Apa Arini memberikan upah juga?"
Mirza menggeleng. Ternyata istrinya benar-benar tak mengetahui niatnya yang terselubung.
"Beda. Arini hanya akan menerima yang yang aku beri, sedangkan kamu akan memegang seluruh harta milikku. Termasuk penghasilan dari tambang yang ada di Indonesia. Nanti biar Erkan menghitung jumlah uang yang masuk perbulan."
Rasanya Haira ingin pingsan saja, tapi malu-maluin. Ia melingkarkan tangannya di leher Mirza.
"Upahnya apa?"
Haira ingin segera mengetahui upah yang dimaksud Mirza.
"Kamu harus menyerahkan tubuhmu untukku, tidak ada yang boleh memilikimu selain aku."
"Itu bukan upah," ucap Haira yang hampir melepaskan tangannya, namun segera ditarik oleh Mirza hingga keduanya kembali berpelukan.
"Lalu apa namanya?"
"Tumbal."
Mirza bergelak tawa mencubit gemas pipi Haira.
Ponsel yang ada di nakas berdering membuyarkan canda keduanya.
"Siapa ini?" Mirza menatap nomor yang tidak dikenal. Ia langsung menggeser lencana hijau tanda menerima, takut itu penting.
__ADS_1
"Halo, Za. Ini aku."
Suara seorang wanita dari seberang ponsel menyapa Mirza.