
Prosesi Pernikahan Haira dan Mirza banyak meninggalkan peristiwa penting. Pesta yang digelar hanya sebatas simbol kehadiran keluarga baru di rumah mereka. Meskipun begitu, tak mengurangi meriahnya acara yang dihadiri banyak tamu itu. Di antara mereka bahkan terkejut bahwa Mirza sudah memiliki istri cantik dan seorang putra yang sangat tampan.
Tujuh tahun Haira jauh dari keluarga. Bahkan ia lupa untuk tertawa, setiap harinya hanya bisa marah dan jengkel dengan keadaan. Semua tetangga terus menciptakan masalah bertubi-tubi hingga hatinya sekeras batu.
Al hasil, Mirza harus menjelaskan semuanya, takut mereka beranggapan buruk padanya tentang status Kemal yang memang anak dalam pernikahan.
Nita dan Deniz sengaja hanya mengundang orang penting saja dan kerabat jauh. Takut Haira tak nyaman saat bertemu banyak orang yang belum dikenal.
"Kemal ke mana?" Tiba-tiba saja Haira teringat pada sang putra yang dari tadi tidak ada di sampingnya.
"Tenang saja, Kak Nita sudah mengamankan anak-anak. Tidak akan terjadi sesuatu padanya."
Mengucapkan seperti yang diucapkan Nita padanya.
Sudah separo acara berjalan dengan lancar. Tinggal berapa sesi lagi selesai. Sebenarnya Haira lapar, namun ia tak berani bilang pada Mirza. Ia hanya bisa menahan perutnya yang mulai berbunyi.
Sesekali menatap Mirza yang nampak menikmati alunan musik. Lalu beralih sang adik yang berada di tengah tamu yang lainnya.
Semoga setelah ini Nada sadar dan tidak marah padaku lagi.
"Selamat ya, Za. Lama menghilang ternyata kamu sudah punya istri," ucap seorang pria yang berjabat tangan dengan Mirza.
"Bukan aku yang menghilang, tapi kamu." Mirza menepuk lengan pria itu.
Keduanya bergelak tawa dan saling memeluk. Lalu menyematkan peniti hadiah di baju Mirza.
Haira menoleh, menatap pria yang ada di depan suaminya. Wajahnya tak begitu asing, hanya saja Haira lupa, di mana ia pernah bertemu pria itu.
"Selamat ya, Nona." Beralih mengulurkan tangan di depan Haira.
Haira hanya mengangguk. Tangannya yang hampir menerima uluran tangan pria itu ditarik oleh Mirza.
"Jangan sentuh istriku! Nanti kamu jatuh cinta padanya," tuduh Mirza, dan keduanya kembali tertawa terbahak-bahak.
Pertemuan yang singkat namun penuh canda. Melihat panjangnya antrian tamu yang ingin mengucapkan selamat pada sang pengantin, pria itu turun kembali.
"Dia siapa, Sayang?" tanya Haira antusias.
Mirza mengikuti arah mata Haira pemandangan.
"Namanya Halil, dulu teman kuliah. Sekarang dia memiliki perusahaan otomotif di berbagai negara." Berhenti sejenak menatap wajah Haira yang bengong. "Kamu kenal dia?" Lagi-lagi pertanyaan itu memojokkan Haira.
__ADS_1
Haira menggeleng, "Kalau kenal kenapa? Kalaupun tidak, juga kenapa?" tanya Haira.
"Kamu gak boleh mengenal laki-laki lain selain aku. Kalau tidak, aku pun tidak akan mengenalkanmu dengan dia."
Jawaban Mirza membuat hati Haira kesal sekaligus senang. Kesal karena suaminya terlalu posesif, senang karena itu pun tanda jika Mirza memang mencintainya seorang.
Hampir lima jam, akhirnya pesta itu usai. Semua tamu berpamitan pada seluruh keluarga, khususnya Mirza dan juga Haira. Satu persatu dari mereka meninggalkan gedung.
"Jam berapa?" tanya Haira dengan suara pelan, satu tangannya memegang perutnya yang terasa keroncongan.
"Jam sepuluh."
Seketika itu Haira menghempaskan tubuhnya di kursi. Kakinya benar-benar lentur dan tak kuat menopang tubuhnya. Matanya berkunang dan ngantuk.
"Kamu lapar, ya?" Kak Nita datang membawa makanan. Diikuti nenek Zubaida dari belakang.
Ingin menjawab tidak, tapi perutnya semakin memberontak, ingin menjawab iya, dia malu.
Kenapa harus kak Nita yang bawain.
"Makan saja, Sayang. Daripada sakit perut."
Kembali, matanya melihat seorang wanita yang tak asing.
Entah, bayangan mereka melintas begitu nyata, namun Haira lupa siapa dan di mana ia pernah bertemu dengan orang-orang itu.
Apa mungkin aku melihatnya waktu masih bekerja di pabrik garmen?
Masih menerka dua orang yang menjadi tamu undangan itu. Seolah-olah, ada kejadian yang serius membuat Haira tak tenang.
"Ra, malam ini biar Kemal tidur dengan Fajar dan Hasan."
Mirza langsung mengangkat jempolnya tanpa meminta persetujuan dari Haira.
Nenek Zubaida tak banyak bicara. Ia hanya mengangguk jika setuju dan menggeleng jika tidak. Sedikit tak percaya bisa menjadi besan keluarga terpandang tersebut.
"Nada di mana, Nek?" tanya Haira di sela-sela makannya.
Nenek Haira menunjuk Nada yang sedang berbincang dengan seorang laki-laki. Meskipun dari awal acara sampai akhir mereka tak bercakap sedikit pun, Haira lega karena Nada mau berpose dengannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Malam semakin larut, ballroom mulai sepi. Hanya ada beberapa pelayan yang membersihkan ruangan. Mirza mengangkat tubuh Haira yang berjalan sempoyongan.
"Aku capek." Haira menyandarkan kepalanya di dada Mirza. Memejamkan matanya yang sudah terasa berat.
"Tidurlah, biar aku yang gantiin baju."
"Tapi aku mau mandi." Meskipun matanya terpejam, Haira masih bisa mendengarkan ucapan Mirza.
Pelayan membantu Mirza membuka pintu. Setelah itu menutupnya lagi.
Aroma mawar menusuk rongga hidung membuat Haira membuka mata. Menatap langit-langit kamar. Lampu menyala redup. Seketika dada Hiara bergemuruh saat Mirza membaringkan tubuhnya.
Seperti yang pernah ia lihat di tv, setelah resepsi pasti akan ada acra malam pertama. Apakah akan terjadi malam kedua?
"Kamu mau mandi dulu apa langsung tidur?" tanya Mirza sembari membuka high heels yang membalut kaki Haira.
"A…Aku __" Ucapan Haira tertahan. Lidahnya terasa kelu dan tak mampu mengucap kalimat dengan benar. Ia gugup saat Mirza bersikap begitu lembut padanya.
"Jangan takut, aku tidak akan meminta hakku sampai kamu mengizinkannya sendiri."
Mirza mencium kening Haira. Meyakinkan wanita itu untuk tidak takut. Seperti ucapannya, tak akan memaksa seperti waktu itu.
Haira menatap Mirza yang sibuk melepas baju. Ia menganggap dirinya terlalu egois dan tidak memikirkan Mirza yang pasti menginginkan tubuhnya. Namun, kejadian itu memang masih membekas hingga rasa takut terus menyeruak, takut Mirza memperlakukannya dengan kasar.
"Aku mau mandi," ucap Haira memecahkan keheningan.
Mirza menghampiri Haira yang duduk di tepi ranjang. Membantu membersihkan wajah dan melepas aksesoris nya.
"Apa kamu mau mandi bersamaku?" tawar Mirza menggoda.
Haira mengangguk pelan tanda menerima.
Mereka masuk ke kamar mandi bersama. Haira berdiri di samping pintu menunggu Mirza yang masih mengisi bathtub dengan air hangat. Layaknya pengantin baru, ruangan itu pun dipenuhi dengan lilin yang menyala. Sepertinya Nita memang sudah menyiapkan semuanya se romantis mungkin.
"Kamu mandi saja dulu."
Haira menarik tangan Mirza yang hampir pergi. "Aku ingin kita mandi bersama."
Mirza tersenyum saat Haira menyatukan bibirnya.
Apakah akan ada malam kedua di kamar mandi? Mirza mengharapkan itu akan terjadi, meskipun kemungkinannya sangat kecil.
__ADS_1