
Berjam-jam mereka bersama dalam satu atap, sepatah kata pun tidak ada yang saling bicara. Hanya Mirza yang sesekali memerintah pelayan untuk melayani Haira saat membutuhkan sesuatu. Ia terus mengikuti pergerakan sang istri. Menjadi pengawal setia hingga masuk ke kamar. Kebetulan sekali yang Haira tempati saat ini adalah kamar Mirza.
"Jangan ikuti aku terus," rengek Haira menghentikan langkah Mirza yang hampir membukakan pintu untuknya. Ia merasa risih dan tidak bisa bebas.
"Sayang, ayolah! Dengarkan aku sebentar saja. Aku hanya ingin menjelaskan tentang kejadian tadi di kantor," pinta Mirza penuh harap. Ia menangkupkan kedua tangan di depan Haira lalu bersimpuh di depan wanita itu. Merendahkan dirinya untuk mendapatkan sebuah maaf dari Haira.
Mata Haira berkaca-kaca. Ia melihat ketulusan di kedua bola mata suaminya, namun hatinya masih sedikit sulit untuk menerima begitu saja. Sakit melihat suaminya menyentuh wanita lain di depan matanya. Meskipun mereka belum melakukan hal yang inti, tetap saja itu rasanya bagaikan duri yang menancap.
"Lalu apa yang akan kau lakukan pada Lunara? Apa kau akan membiarkan dia begitu saja terbebas dan melakukan apa saja yang ia inginkan? Atau kau akan menghukumnya atas perbuatan yang dia lakukan?"
"Aku sudah menghukumnya. Dan setelah ini akan mengembalikan dia pada tempat yang seharusnya."
Haira mengulurkan tangannya di depan Mirza. Hatinya yang terlalu lembut tak bisa lama-lama marah pada pria itu. Pria yang sudah banyak berkorban untuk nya dan keluarga. Juga berani mengakui kesalahannya.
Mirza menerima uluran tangan itu lalu memeluk Haira dengan erat. Menyalurkan rasa cinta yang dalam dan teramat besar. "Maafkan Aku." Mengucap dengan penuh penyesalan lalu mencium kening Haira.
"Siapa yang mengantarmu ke sini?" tanya Mirza menggandeng tangan Haira menuju sofa setelah memastikan Kemal terlelap dengan tenang.
"Kak Fuad," jawab Haira jujur. Sebab, setelah dirinya mengatakan ingin pergi, keluarganya langsung menyuruh pria itu untuk mengantarnya. Awalnya Haira tak tahu tujuan Fuad membawanya. Lalu Nita menceritakan semuanya, dan sekarang dia paham, tempat apa yang ia singgahi saat ini. Yaitu sejarah terciptanya marga Glora yang kini menjadi keluarga yang tetap erat. Meskioun kedua orang tuanya sudah tiada.
"Apa dia tidak berbuat macam-macam padamu?"
__ADS_1
"Adik ipar laknat, kau pikir aku apa, mau mesum dengan adik ipar sendiri. " Suara berat dari arah pintu depan terdengar lantang. "Kau jangan menudingku seperti itu."
Haira terkekeh melihat Fuad menunjuk Mirza dengan sapu yang direbut dari tangan pelayan. Ternyata keluarga mereka juga datang ke Mansion itu. Setiap ada Mirza dan Haira pasti mereka akan menyusul. Tujuh tahun meninggalkan Mirza hidup seorang diri sudah cukup memberi banyak pelajaran bagi Deniz dan Nita, dan sekarang mereka akan selalu ada untuk adiknya supaya tidak melakukan kesalahan yang fatal lagi.
"Kalian sengaja menghukumku seperti ini?" ucap Mirza kesal. Dirinya kelimpungan mencari Haira, dan dengan tenangnya mereka sembunyi tangan. Seolah-olah tak ikut campur dengan masalahnya.
Namun, Mirza juga bahagia bisa menemukan istrinya di tempat itu. Ia tak tahu lagi jika keluarganya tidak ada seperti waktu itu, pasti Haira sudah pergi menjauh darinya dan tidak akan ditemukan lagi seperti dulu.
"Apa kau ingin mendengarkan penjelasanku?" tanya Mirza mengelus pipi Haira dengan lembut. Menatap setiap jengkal wajahnya yang begitu sempurna. Wajah yang sangat cantik membuatnya tergila-gila hingga rasa benci yang ia ciptakan berubah menjadi cinta yang mendalam.
"Tidak usah, tadi Kak Nita sudah menjelaskan semuanya. Apa kamu sudah mandi?" tanya Haira di depan kakak-kakaknya. Ia tidak malu dan memastikan bahwa tubuh suaminya sudah bersih dari bekas sentuhan Lunara.
Haira mengendus-endus kan hidungnya tepat di leher suaminya. Tercium aroma parfum yang menyengat, dan sudah dipastikan suaminya itu bersih dari tangan si wanita penggoda. Haira beralih duduk di pangkuan Mirza.
"Di mana kau mengurung Lunara?" tanya Deniz. Seharian ia sibuk mengurus kantor hingga lupa mencari tahu tentang itu.
Mirza enggan untuk mengungkap keberadaan wanita itu dan tidak mau kakaknya ikut campur. Tapi apa daya, jika Deniz sudah bertanya, maka ia harus menjawabnya.
"Di gudang," jawab Mirza singkat melirik Haira yang nampak memejamkan mata di dadanya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" imbuh Nita. Ia tak kalah kepo dari kakaknya, namun juga tidak ingin Mirza menghukum dengan cara yang terlalu kotor.
__ADS_1
"Aku akan bawa dia ke pulau, di mana dulu Lucinta membuangnya."
"Bukankah itu terlalu kejam, Sayang?" sahut Haira dengan setengah sadar. Meskipun Lunara sudah berbuat jahat padanya, Ia tetap mempunyai hati nurani dan tak tega melihat seseorang harus menerima hukuman seperti itu.
"Lebih kejam mana dengan yang ia lakukan padaku? Dia hampir membuat kita bercerai-berai. Dia juga ingin merebutku darimu, dan ingin menjatuhkan harga diriku."
Untuk kali ini Mirza tidak ingin menuruti permintaan Haira dan tetap pada keputusannya yang akan membawa Lunara kembali ke New York. Ia akan mengembalikan kehidupan wanita itu seperti semula. Hidup miskin dan sebagai rakyat jelata yang akan mengais rezeki dengan susah payah. Tidak punya kekuasaan untuk membuat ulah.
"Tenang saja, Ra. Suamimu memang kejam, tapi dia tahu apa yang harus dilakukan."
Tidak ada jawaban, ternyata wanita yang diajak bicara sudah terlelap di pangkuan Mirza. Semua orang hanya menggeleng melihat tingkah Haira yang sangat lucu dan menggemaskan.
"Untuk sementara waktu ajak Haira tinggal di sini sampai semua benar-benar aman. dan segera antarkan Lunara pulang. Pastikan tidak ada antek-antek yang mengganggu kehidupan rumah tangga kalian lagi," tutur Deniz. Selain menyuruh Mirza untuk waspada pada orang-orang terdekat, Ia juga mewanti-wanti pria itu untuk tetap setia menjaga keharmonisan rumah tangganya. Sebab, awal kebahagiaan dan langgengnya sebuah pasangan itu dilandasi dengan kesetiaan, kejujuran dan saling terbuka.
"Besok kami akan ke rumah nenek, dan setelah itu aku akan tinggal di sini untuk selama-lamanya.".
Semenjak memasuki tempat itu, hati kecil Mirza berkata akan menempati mansoin. Memberikan cucu yang banyak untuk kedua orang tuanya.
"Dad, memang tidak pernah salah, bahkan sebelum meninggal, dia pun pernah berkata, bahwa kau yang akan mengikuti jejaknya. Waktu itu aku sempat iri melihatmu yang terus di puji olehnya." Deniz menjeda ucapannya sejenak. "Tapi setelah beliau tiada, aku baru sadar, bahwa ternyata kasih sayang yang diberikan padaku dan Nita jauh lebih besar, karena kami berdua bisa lebih lama bersamanya.''
Ini pertama kali Deniz menceritakan masa kecilnya yang memilukan. Dia harus menyaksikan Mirza yang masih bayi saat diasuh oleh pelayan.
__ADS_1