Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Mengejutkan


__ADS_3

Haira hanya diam di pelukan Mirza. Menyandarkan kepalanya yang sedikit pusing di dada bidang pria itu. Ia belum bisa melupakan mayat yang tergeletak di sembarang tempat. Namun, rasa takut lenyap begitu saja saat mobil sudah mulai melaju dan membawanya pergi menjauh dari lokasi pertempuran. 


"Apa kamu ke sini sendirian?" tanya Haira menatap wajah Mirza yang nampak cemas. 


"Tidak, tadi aku datang dengan kak Deniz dan kak Fuad," jawab Mirza tanpa ekspresi. Meskipun ia masih bersama Haira, separuh jiwanya terbang bersama kakaknya yang saat ini entah bagaimana keadaanya. 


"Lalu mereka ke mana?" tanya Haira menatap mobil di belakangnya. 


"Sudah pulang," jawab Mirza. Tangannya terus merengkuh pundak Haira dan sesekali mencium kening wanita itu. 


Tak berselang lama, ponsel yang ada di saku jas Mirza berdering. Nama Aynur yang berkelip membuatnya sedikit bingung. 


Apa yang harus aku katakan pada kak Aynur. Bimbang antara menerima panggilan itu atau tidak. 


Akhirnya Mirza menerimanya, takut Aynur akan lebih cemas lagi. 


"Halo, Kak, ada apa?" tanya Mirza mengawali pembicaraan. 


"Halo, Za. Bagaimana kabar kamu dan yang lain? Kalian baik-baik saja, kan? Apa Haira sudah berhasil diselamatkan?"


Mirza membisu. Ia tak sanggup menjawab pertanyaan yang bertubi-tubi dari kakak iparnya itu. Sejak dulu Deniz memang selalu melindunginya, namun baru kali ini ia kembali membawa kabar duka, bahkan ia belum tau kondisi kakaknya sekarang. 


Aynur kembali menyapa saat sambungan ponsel itu terasa hening. 


"Iya, Kak. Aku baik-baik saja. Haira juga sudah ada bersamaku, kita sekarang perjalanan menuju villa."


Aynur tersenyum. Setelah beberapa saat khawatir, akhirnya ia mendapat kabar tentang keluarganya. 


"Villa?" tanya Haira lirih. 


Mirza mengangguk. 


"Baiklah, kami menunggu kepulanganmu dan yang lain." 


Mirza menutup teleponnya lalu mengecup kening Haira. Ia belum tahu bagaimana cara menghadapi kakak iparnya itu yang pasti akan terluka jika mendengar Deniz yang saat  ini di rumah sakit dan hampir meregang nyawa. 


Haira tidak tahu apa yang terjadi selama dirinya dikurung beberapa jam yang lalu, namun ia bisa membaca wajah Mirza yang nampak gelisah. 


"Sebenarnya apa yang terjadi, cerita padaku?" pinta Haira menatap lekat mata suaminya yang mulai digenangi cairan bening. 


"Kak Deniz tertembak," ucapnya dengan bibir bergetar. Mungkin bercerita dengan Haira bisa mengurangi bebannya saat ini. 

__ADS_1


Runtuhnya Deniz adalah musibah terbesar dalam hidupnya hingga Mirza merasakan sakit dan tak bisa berbuat apa-apa. 


"Apa?" Dada Haira terasa sesak. Tak bisa membayangkan sakitnya saat tubuh kekar kakak iparnya itu harus ditembus peluru yang mematikan. 


"Tapi aku yakin dia akan baik-baik saja," ucap Mirza lagi meyakinkan hatinya untuk berpikir positif. 


Untuk saat ini Haira hanya bisa menguatkan suaminya yang berduka. Tak menyangka keluarga Mirza rela bertaruh nyawa hanya demi menyelamatkan dirinya. 


"Aku mau ikut ke rumah sakit," pinta Haira selanjutnya. 


"Kita belum tahu keadaan kak Deniz, lebih baik kamu di vila, jangan kasih tau kak Aynur, biar nanti aku yang bicara padanya."


Mobil berhenti di depan villa mewah, bangunan yang tampak indah itu terlihat sepi. Hanya ada pengawal yang berjaga mengelilingi sekitar. 


Sebelum pergi, Deniz berpesan pada seluruh keluarganya untuk tidak melewati pintu depan. Memperketat penjagaan selama dirinya tidak ada di dekat mereka.


"Kamu masuk saja, aku langsung ke rumah sakit." 


Mirza kembali mencium kening istrinya dengan lembut. Bersyukur bisa menyelamatkan wanita itu tanpa kecacatan sedikitpun. 


Haira melepas jas milik Mirza yang dari tadi membalut tubuhnya. Tak sengaja, ia melihat benda jatuh dari saku nya. 


Mirza yang sadar akan hal itu langsung melempar pistol nya di dashboard. 


"Sayang, bangun!" Mirza menepuk-nepuk pipi Haira dengan pelan. 


Sopir yang masih berada di depan setir menoleh ke belakang, melihat kepanikan Mirza yang memangku kepala Haira. 


"Nona Haira kenapa, Tuan?" tanya nya. 


"Gak tahu, tadi dia mengambil pistolku yang jatuh, setelah itu pingsan."


Sopir itu hanya menahan tawa, di balik ketangguhan nya saat melawan musuh, ada sebuah kebodohan yang dipelihara. 


"Nona Haira takut pistol anda, Tuan," ujar sang sopir tanpa rasa takut. 


"Benarkah?" tanya Mirza antusias. 


"Tadi Nona baik-baik saja, tapi setelah memegang pistol Anda, dia pingsan. Itu artinya pistol Anda sangat menakutkan."


Masih dengan keadaan panik, Mirza mengangkat tubuh mungil Haira dan membawanya ke dalam. 

__ADS_1


Nampak dua wanita yang sedang duduk di ruang tamu. Mereka langsung berhamburan menghampiri Mirza yang baru saja masuk. 


"Haira kenapa, Za?" tanya Nita mengikuti langkah adiknya. Aynur menyembulkan kepalanya ke arah luar. Tidak ada siapapun selain sopir Mirza yang masih mematung di sisi mobil. 


Mungkin daddy nya anak-anak masih dalam perjalanan. Aynur memegang dadanya yang tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa. Seolah-olah jantungnya tertusuk jarum. 


"Kakak tidak apa-apa?" sapa Nita dari belakang mengagetkan Aynur. 


Wanita itu menggeleng. Meskipun merasa cemas, ia tak mau mengungkapkan isi hatinya dan berharap semua baik-baik saja. 


Baru saja Mirza membaringkan tubuh Haira, wanita itu membuka matanya dengan lebar. Menatap Mirza yang nampak sibuk berbicara dengan seseorang lewat telepon. 


"Sayang, aku tidak apa-apa, mungkin hanya butuh istirahat saja, sekarang kamu temui kak Aynur." 


"Aku janji tidak akan membawa pistol lagi." 


Haira hanya menanggapi janji sang suami dengan senyum manis dan mengangguk. 


Mirza keluar dari kamarnya menghampiri kedua kakaknya. Ia memeluk Nita kemudian memeluk Aynur. 


Mereka berdua adalah ibu baginya, setelah Aynur menjadi istri Deniz, Mirza merasakan mempunyai ibu kembali. 


"Di mana kak Deniz dan kak Fuad?" tanya Nita antusias, dari tadi ia pun belum mendapat kabar tentang mereka. 


Mirza tertunduk lesu. Dalam hati berat untuk mengungkapkan, namun ia tak bisa diam begitu saja.


"Mereka ada di rumah sakit." 


Mendengar kata itu saja jantung Aynur seakan berhenti berdetak, suami dan adik iparnya itu baru saja melawan musuh, namun sekarang malah ada di rumah sakit, membingungkan.  


"Ngapain?" 


Aynur menepis segala prasangka buruk yang mungkin terjadi. Ia tidak mau salah satu keluarganya itu terkena musibah.


Kasihan kak Aynur, pasti dia akan sedih dan kecewa dengan keadaan ini, tapi dia juga berhak mengetahui keadaan kak Deniz. 


"Kak Deniz tertembak."


Seketika itu sekujur tubuh Aynur lemah tak berdaya, hingga kakinya terasa lentur dan ambruk.


Dengan sigap Mirza menangkap punggung kakak iparnya dan membawanya ke kamar. 

__ADS_1


__ADS_2