
Seandainya bisa, Erkan sudah mengupas wajahnya lalu mengganti dengan adonan semen dan pasir. Sudah terlalu malu jika berada didepan Nada. Bagaimana bisa mimpi seindah itu disaksikan gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Ini gila, tapi itulah yang terjadi, bahkan pria itu tak bisa mengelak jika rasanya seperti nyata. Sentuhan dalam mimpi semalam membangkitkan gairahnya yang selama ini terpendam.
Menundukkan kepalanya, sesekali menyuap makanan yang tinggal sedikit. Matanya tak berani menatap wajah cantik yang duduk di samping nya.
"Nanti jangan malu-maluin mommy. Pengantin itu harus anteng, tidak boleh mata keranjang dan pecicilan," cibir nyonya Alvero sembari menuang susu untuk calon menantu.
Nada dan Erkan saling lirik dengan tatapan masing-masing.
Kenapa harus disaksikan Nada sih.
Masih kepikiran dengan kejadian tadi.
"Nad, laki-laki yang mau menikahimu tidak perjaka lagi, jadi kamu jangan heran kalau nanti rasanya aneh."
Erkan meletakkan sendok dengan kasar.
"Kok gitu, aku belum pernah bersentuhan dengan perempuan manapun, tapi kenapa mommy bilang aku bukan perjaka," protes Erkan tak terima.
"Tidak perjaka bukan berarti kamu celap-celup dengan perempuan lain."
"Lalu?" memekik.
"Itu karena tadi kamu sudah mengeluarkan racun dari sana." Nyonya Alvero menyungutkan kepala ke arah bagian sensitif Erkan yang sontak membuat Nada tersedak.
Benar-benar, mulut mertuanya itu pedas dan lucknut.
Erkan buru-buru mengambil segelas air putih dan membantu gadis itu minum.
"Jangan dengarkan mommy, dia itu setengah waras," bisik Erkan yang mampu mengembangkan senyum di sudut bibir sang kekasih.
"Memangnya semalam kakak mimpi apa sih, kok sampai begitu?" Nada pun bertanya dengan suara kecil, takut nyonya Alvero mendengar dan kembali membahasnya.
"Berhubungan dengan kamu," jawab Erkan jujur. Sebab, memang itulah penyebab dirinya tak bisa menahan sesuatu yang sudah lama bersemayam.
"Nanti jangan ditunda lagi, ya!"
Wajah Nada bersemu, ia tak bisa menolak pemintaan Erkan yang tampak penuh harap.
Beberapa orang datang ke apartemen. Mereka adalah utusan Tuan Bahadir untuk menjemput Erkan, Nada dan keluarganya.
Waktu yang ditunggu akhirnya tiba, setelah melewati drama yang menguras emosi, kini Nada hanya bisa menunggu jam untuk menjadi pasangan halal seorang Erkan.
"Aku gak mau naik mobil lain." Nada mendorong salah satu anak buah Meyzin saat memintanya pergi lebih dulu.
__ADS_1
"Tapi ini perintah Tuan Meyzin, Nona." Pria berseragam hitam itu sedikit memaksa.
Nada tetap menggeleng dan pada pendiriannya. "Pokoknya gak mau, aku ingin naik mobil dengan kak Erkan, mommy dan juga Raya." Bergelayut manja di lengan sang calon mertua.
Jika sudah seperti ini mereka tak bisa berkata apa-apa selain menuruti perintah wanita itu.
"Ya sudah, kita berangkat bareng." Erkan menyetujui permintaan Nada. Ia berangkat dengan gadis itu juga mommy dan Raya, tapi tetap dengan pengawalan.
Di sisi lain
Mirza tertawa terbahak-bahak mendengar cerita mommy tentang mimpi Erkan. Tanpa terasa air matanya keluar begitu saja. Membayangkan bagaimana wajah pria itu, pasti malu setengah mati.
Haira menghampiri sang suami lalu duduk di pangkuannya.
"Ada apa, kelihatannya seneng banget?" Haira penasaran saat Mirza tak henti-hentinya tertawa di depan layar ponsel.
"Kata mommy Erkan mimpi buruk."
Haira mengerutkan alisnya. "Ada yang mimpi buruk, tapi kenapa kamu malah tertawa?" Terdengar aneh, namun itulah suaminya dan Erkan yang ternyata sama-sama konyol saat di depan keluarga.
"Mimpi buruk karena tidak bisa melampiaskan hasratnya hingga ia membuang air jimat sia-sia."
Haira langsung paham apa yang dikatakan Mirza. Sebagai istri dari laki-laki mesum tingkat dewa, ia tak pernah kehabisan bahasa saat pria itu menyebut sesuatu dengan sedikit unik dan beragam.
"Kayaknya ada yang ngambek," sindir Mirza, mengusap rambut Kemal yang mulai tebal.
"Apa adik Kemal cewek semua?" Jemari lentik bocah itu mengusap perut mommy nya dengan lembut.
Haira dan Mirza saling tatap. Apapun jenis kelamin bayi mereka nantinya, memang tidak dipermasalahkan. Namun, jika seperti ini seolah-olah membuat Kemal bersedih. Apalagi dari awal bocah itu meminta saudara cowok seperti dirinya. Sedangkan dari hasil USG ketiganya cewek.
"Kakak saja yang jelaskan," ucap Haira dengan bergetar, tak sanggup melihat kesedihan Kemal.
"Kemal gak usah sedih." Mirza ikut mengelus-elus perut sang istri. "Meskipun adik yang ini cewek semua, nanti mommy dan daddy akan buatkan yang cowok."
Seketika itu juga Haira menepuk bahu lebar Mirza. Kesal dengan ucapannya yang belum tentu ia sanggupi. Harta memang bisa berkuasa, tapi Haira tak yakin bisa memberikan anak lagi setelah ini.
"Kenapa? Katanya aku yang disuruh ngomong."
"Ya gak gitu juga, Kak. Kamu pikir hamil itu mudah?"
Ckckck
Mirza berdecak kemudian melirik Haira yang nampak jengkel.
__ADS_1
"Kemal saja kita bikinnya hanya satu kali, bukankah itu sudah menjadi bukti kalau bikin anak sangat mudah."
Dada Haira semakin meletup-letup. Antara kesal dan marah bercampur aduk. Berdiri lalu meninggalkan Mirza dan juga Kemal.
Pintu tertutup dengan keras menandakan jika wanita itu merajuk.
"Daddy, apa mommy marah karena Kemal?"
Mirza menggeleng pelan. Otaknya mulai berkelana mencari cara untuk merayu Haira.
"Sekarang Kemal siap-siap, sebentar lagi kita datang ke pernikahan om Erkan dan onty Nada."
Kemal berhamburan menghampiri pengasuhnya yang dari tadi menunggu.
Bagaimana ini, kalau nyonya sudah mulai marah itu pertanda aku akan libur untuk beberapa hari.
Disaat genting seperti ini Mirza masih saja memikirkan urusan ranjang.
Mirza tak mau salah langkah, ia mengetuk pintu sopan sebelum masuk. Tindakan ini terus dilakukan disaat hati seseorang yang ada di dalam itu tergores kecil.
"Sayang, Ayolah buka pintu nya, aku akan jelaskan se __"
Pintu terbuka lebar memotong pembicaraan Mirza.
Pemandangan yang apik membuat pria itu menelan ludahnya susah payah.
Tubuh indah nan seksi terpampang jelas di depannya.
Ini ujian, ini ujian, jangan terpancing.
Dada putih yang terekspos dengan senyum menggoda, paha pun nampak separo membuat pertahanan Mirza semakin runtuh. Ingin menerkamnya, namun bahaya pun mengintai. Harus lebih hati-hati untuk langkah selanjutnya.
"Kenapa, kamu tahu konsekuensinya kalau membuatku marah, 'kan?"
Mirza mengangguk cepat lalu mengangkat jarinya satu-persatu sambil mengucapkan larangan saat mereka marahan.
"Itu artinya?"
"Malam ini aku tidur sendiri," jawab Mirza berat.
"Tapi sayang __"
Segera Haira mengangkat tangan memberi kode supaya pria itu diam.
__ADS_1
"Tidak ada tapi-tapian, pokoknya malam ini kamu tidur sendiri." Sang pemilik mansion harus mengalah demi kebahagiaan ibu negara. Sebab, wanita itulah yang paling berkuasa dibanding dirinya.