
''Hamiiizz…'' teriak Haira saat pria tampan itu berlari ke arahnya.
Jangan ditanya lagi, wajah Mirza datar tanpa ekspresi melihat istrinya tersenyum pada pria lain. Dadanya hampir meledak melihat pria yang dipanggil Hamiz itu sudah semakin dekat.
Ia tak lupa nama itu, nama yang sempat disebut oleh Nada ketika bertengkar dengan istrinya, sudah dipastikan ada masa lalu yang ia tak tahu di antara mereka.
''Kamu apa kabar, Ra?'' Hamiz mengulurkan tangannya, namun dengan segera ditepis oleh Mirza sebelum Haira menerima uluran tangan itu.
''Jangan pernah menyentuh Haira. Mirza memperingatkan dengan tegas.
Hamiz menatap Mirza dan Haira bergantian. ''Ini siapa, Ra?'' tanya Hamiz pada Haira.
Haira melirik Mirza sekilas lalu fokus pada Hamiz yang nampak kebingungan.
Dia __"
''Aku suaminya,'' sergah Mirza memotong ucapan Haira. Tangannya meraih pinggang ramping sang istri, memamerkan kemesraannya di depan Hamiz.
Haira tersenyum malu dengan kelakuan Mirza yang seperti anak kecil.
''Benarkah kau sudah menikah?'' tanya Hamiz memastikan.
Haira mengangguk cepat saat mendapat tatapan tajam dari Mirza. Ia tidak ingin suaminya itu marah dan melakukan sesuatu pada orang lain.
Mirza membuka pintu mobil. Tidak ingin berlama-lama meladeni orang yang tak penting.
Setelah Haira masuk, Mirza kembali menghampiri Hamiz yang masih mematung dengan segala kebingungannya.
''Namaku Mirza Asil Glora, aku ingatkan jangan sekali-kali kau berani mendekati istriku.''
Sekujur tubuh Hamiz bergetar hebat mendengar nama yang diucapkan suami Haira. Nama yang tak asing baginya. Nama yang bisa menghancurkan siapapun yang berani mengusik hidupnya.
''Kenapa Haira bisa menjadi istrinya, atau jangan-jangan __"
Hamiz tak melanjutkan ucapannya, ia memilih pergi setelah mobil Mirza mulai melaju.
Tak seperti biasanya yang banyak bicara, Mirza cenderung diam, fokus pada jalanan yang lumayan padat. Meskipun Haira terus membuat canda, tetap saja tak berpengaruh pada pria itu.
Tiga puluh menit, akhirnya mobil yang dikendarai berhenti di depan perusahaan milik nya. Seperti yang dilakukan tadi, Mirza sendiri yang membukakan pintu untuk Haira. Ia menggandeng tangan wanitanya lalu masuk.
__ADS_1
Seluruh karyawan pun menyapa dengan ramahnya, kali ini mereka heran dengan Mirza yang membawa Haira ke kantor.
''Sayang, pelan-pelan, aku capek,'' pinta Haira yang hampir tak bisa mengimbangi langkah lebar suaminya. High heels yang terlalu tinggi membuat kakinya sakit.
Mirza tak peduli. Terus mengikuti langkah Erkan menuju lift.
Sesampainya di dalam. Haira menarik tubuh kekar Mirza hingga terhempas di dinding, lalu wanita itu berdiri dan mengungkung suaminya. Tak mengindahkan Erkan yang ada di samping mereka.
''Kamu cemburu?'' tanya Haira menatap jakun Mirza yang naik turun. Ingin tertawa, namun ia tahan demi image sumainya sang penguasa di tempat itu.
''Tidak,'' jawab Mirza singkat.
Erkan membuka layar ponselnya. Ia tak paham dengan masalah yang mereka hadapi, namun sepertinya ada kesalahpahaman yang terjadi.
''Kalau tidak, kenapa dari tadi diam saja, sakit gigi?''
Mirza melirik Erkan, seandainya pria itu tidak ada. Mungkin ia melahap bibir merah yang menggodanya, namun itu hanya sebatas harapan kosong.
''Tidak juga, aku hanya malas bicara.''
Mirza merapikan dasinya yang sebenarnya sudah rapi. Mengusir rasa gugup yang mulai melanda. Entah kenapa, ia tak betah melihat wajah cantik di depannya itu.
Ting
Mirza hanya menahan tawa melihat istrinya yang salah tingkah. Diraihnya lagi jati lentik Haira lalu keluar.
''Lain kali jangan mesum-mesum, kamu mau jadi bahan ghibah di kantor ini.''
Padahal yang lebih mesum dia, kenapa aku yang menjadi kambing hitam.
Membuka pintu ruangannya.
Haira melepas kedua sepatu dan melempar tas ke sembarang arah. Duduk di sofa dengan bibir manyun.
"Permisi Tuan, Nona,'' sapa seseorang dari arah pintu. Menyapa dengan sopan.
''Masuk!'' sahut Mirza sembari membuka laptop yang ada di meja kerjanya. Haira hanya membalasnya dengan senyuman manis.
Seperti biasa, itu adalah staf yang akan melaporkan hasil kerjanya. Seorang wanita menghampiri Mirza dan bercakap serius. Sedangkan Haira hanya menjadi pendengar setia. Pendidikannya yang rendah tak paham dengan apa yang mereka bicarakan.
__ADS_1
Mirza menandatangani beberapa berkas yang sudah menumpuk di depannya. Saking fokusnya sampai lupa ada Haira yang setia menemaninya. Tak berselang lama, Mirza mendengar nafas teratur dari arah sofa. Nampak Haira sedang terlelap dengan posisi duduk dan punggung yang bersandar.
Mirza menghampiri Haira. Membelai lembut pipi mulus wanita itu lalu tersenyum.
''Aku tidak suka kamu akrab dengan laki-laki lain. Kamu hanya milikku dan tidak ada yang boleh menyentuhmu. Meskipun hanya tangan.''
Mengecup bibir Haira singkat. Lantas, menekan tombol telepon kantor.
"Datang ke ruanganku!'' titah nya.
Tak berselang lama, seorang pria datang membawa alat bersih-bersih. Namun sebelum masuk, Mirza menahan pria itu dan menyuruhnya untuk pergi.
''Aku mau yang perempuan,'' ucap Mirza tegas. Alhasil pria itu kembali dan menyuruh temannya untuk datang.
''Permisi, Tuan.'' Mirza menatap lagi wanita yang baru tiba. Ia memastikan itu benar-benar murni wanita, bukan jadi-jadian. Setelah yakin jenis kelaminnya, Mirza menyuruh orang itu membersihkan kamarnya yang sudah lama tidak terpakai.
Tiga puluh menit kemudian, wanita yang membersihkan kamar itu keluar setelah menjalankan tugasnya. Mirza mengangkat tubuh Haira dan membaringkannya di ranjang.
''Pasti dia kelelahan karena semalam,'' gumam Mirza terkekeh. Sebab, semalam ia tak henti-hentinya menggempur pertahanan Haira hingga menjelang pagi.
Mirza kembali melanjutkan aktivitasnya. Berharap cepat keluar sebelum ia menjemput Kemal di sekolah.
''Permisi, Tuan.'' Kali ini giliran Erkan yang datang.
''Ada apa?'' tanya Mirza tanpa menatap sang sekretaris.
''Ada Lunara, dia ingin bertemu dengan, Tuan.''
Belum juga menjawab, wanita itu sudah menerobos masuk. Melintasi Erkan yang berdiri di belakang pintu.
''Mau apa kau ke sini?'' pekik Mirza.
Lunara menatap sepasang sepatu yang teronggok di lantai lalu menghampiri Mirza. Sedangkan Erkan pergi dari ruangan itu.
Tanpa aba-aba, tangan Lunara menyentuh lengan kekar Mirza yang membuat sang empu terbelalak.
Ia segera melepas tangan Lunara dengan kasar. ''Jaga sikapmu, kita tidak ada hubungan apa-apa lagi,'' ucap Mirza tegas.
Lunara tersenyum. ''Kita tidak pernah putus, Za. Aku sangat mencintaimu, bahkan saat di pulau terpencil pun hanya ada namamu di hatiku.'' Lunara menitihkan air mata. Menuangkan kesedihannya yang sudah lama menggerogoti kebahagiaannya.
__ADS_1
''Tapi sekarang berbeda, aku sudah mempunyai istri dan anak, sedangkan hubungan kita hanya masa lalu dan selamanya akan sperti itu. Sekarang pergi, aku tidak mau istriku salah paham.''
Mirza mendorong Lunara hingga ke depan lalu mengunci pintunya. Berharap wanita itu tidak datang mengusik keluarganya.