
"Apa kau akan menemui tuan Meyzin sendirian?" Mirza menghampiri Erkan yang masih duduk di ruang rapat, sedangkan yang lain sudah meninggalkan tempat itu.
Erkan masih nampak berpikir keras. Antara yakin dan tidak, tapi jika melihat gambar mereka berdua, orang yang ada di Liontin itu adalah Tuan Meyzin yang tadi sempat berbincang dengannya. Hanya saja yang ada di foto itu lebih muda, sedangkan Tuan Meyzin sudah nampak tua dan rambutnya mulai beruban.
"Iya, Tuan. Saya yakin bisa mengatasinya." Erkan terlihat tegas dan ikut beranjak. Seperti tadi, saat ini ia pun mengekori Mirza hingga ke ruangan pria itu.
"Nanti aku mau makan siang dengan Haira, jadi kau tidak perlu menyiapkannya," ujar Mirza sebelum masuk.
Erkan merapikan jasnya lalu membuka pintu lift. Kembali membaca pesan masuk. Ternyata itu dari tuan Meyzin yang memberikan alamat restoran tempat mereka akan bertemu.
Sebelum melajukan mobil, Erkan menghubungi Nada terlebih dulu.
"Ada apa, Kak?" sapa suara lembut dari seberang sana.
Erkan menghela nafas panjang. Seharusnya saat ini ia mengajak Nada untuk menemui Tuan Meyzin, namun karena keadaan yang tidak memungkinkan, Erkan hanya akan memberi tahu gadis itu.
"Aku bertemu dengan orang yang mirip dengan foto yang ada di Liontin mu. Tapi Aku belum tahu, apa dia orang yang sama atau tidak."
Nada menutup laptop yang ada di depannya. Jantungnya berdegup kencang mendengar itu.
"Sekarang aku mau menemuinya, kamu fokus bekerja saja."
"Bagaimana kalau memang benar dia orang tuaku, Kak?" ucap Nada dengan bibir bergetar.
"Jika itu benar, aku akan mencari tahu kenapa mereka menelantarkanmu. Tapi yakinlah, semua akan baik-baik saja." Erkan mematikan telepon lalu menyalakan mesin mobilnya.
Sesampainya di restoran, Erkan langsung menghampiri Tuan Meyzin yang duduk di kursi paling pinggir. Membelah beberapa pengunjung yang berlalu lalang keluar masuk.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang waktu setempat, dan restoran itu lumayan dipadati banyak pengunjung.
"Silahkan duduk, Tuan!" Meyzin mempersilahkan Erkan yang baru datang.
Kini mereka saling duduk berhadapan berseberangan meja.
Tak berselang lama, waitress datang membawa minuman dan makanan pesanan Meyzin.
Pria dengan manik mata biru dan hidung mancung itu meletakkan secangkir kopi di depan Erkan.
"Tuan mau membicarakan apa?" tanya Meyzin sembari membuka ponselnya yang berdering. Lalu berbicara serius, namun masih tetap di depan Erkan.
__ADS_1
Setelah dikira cukup. Meyzin kembali fokus pada Erkan yang terlihat sukup santai.
"Maaf, Tuan. Istri saya menelpon."
"Tidak apa-apa, santai saja. Sebenarnya saya ke sini hanya ingin tahu tentang perempuan ini."
Erkan menunjukan Liontin milik Nada.
Mata Meyzin membulat sempurna melihat wajah yang tak asing itu.
Veronika
"Dia mantan istri saya, Tuan," jawab Meyzin malas. Menyeruput kopi panas untuk menenangkan pikirannya yang sedikit kacau.
"Jadi tuan dengan perempuan ini sudah bercerai?" tanya Erkan antusias.
Meyzin mengangguk lalu menunduk. Seperti menyimpan sebuah penyesalan yang mendalam. Entah apa yang dipikirkan saat ini, yang pasti ia pun tidak bisa melupakan wanita itu. Wanita yang dinikahi hanya untuk balas dendam.
"Tapi kenapa Tuan menanyakan dia?" Meyzin menyelidik. Sebenarnya ia tidak ingin bercerita tentang masa lalu yang pahit itu, namun mengingat Erkan adalah sekretaris Mirza, Meyzin tak bisa menyembunyikan apapun, takut berpengaruh pada bisnisnya yang sebagian besar ada di bawah kekuasaan pria itu.
Erkan tersenyum, masih bersikap tenang. "Saya hanya ingin tahu saja. Apa Tuan dengan wanita ini punya anak?"
Meyzin menggeleng.
"Maaf kalau saya terlalu lancang. Apakah Anda berkenan menceritakan tentang perempuan ini?"
Erkan menunjuk foto yang ada di Liontin itu, karena dari tadi Meyzin belum menyebut nama nya.
"Namanya Veronika." Meyzin lantas menceritakan tentang jati diri wanita itu.
Veronika adalah gadis cantik yang kala itu bekerja di kantor Tuan Bahadir. Kecerdasannya yang luar bisa membuat Tuan Bahadir kagum dan mengangkatnya menjadi sekretaris. Disaat itu dia dituduh meracuni wanita cantik yang bernama Milka, yaitu tunangan Meyzin. Semua bukti mengarah pada Veronika yang baru beberapa bulan menduduki sekretaris tersebut.
Disaat itu amarah Meyzin memuncak. Setelah Milka meninggal dunia, ia menikahi Veronica. Karena hanya dengan begitu ia bisa membunuh Veronika secara perlahan.
Disaat Veronika sudah hancur, Meyzin menceraikan wanita itu dan menyuruhnya pergi. Berharap tidak kembali dan mengusik hidupnya lagi.
"Dan sejak saat itu saya tidak pernah bertemu dengannya."
"Apa Anda tahu alamat Veronika?"
__ADS_1
Meyzin mengangguk dan memberi tahu Erkan tempat tinggal Veronika.
Mata Erkan berkaca. Ia tak bisa membayangkan reaksi Nada saat mendengar cerita itu.
"Apakah anda yakin kalau Veronika saat itu tidak hamil?" tanya Erkan menekankan.
Dilihat dari segi wajah, Nada sedikit mirip dengan Meyzin, Namun ia tak bisa mengatakan sebelum ada bukti yang akurat.
"Saya tidak peduli lagi padanya. Karena saat itu saya sudah mendapatkan gadis yang benar-benar saya cintai."
Biadab
Dada Erkan meletup-letup. Namun, ia tetap menahan amarah nya yang sudah memenuhi ubun-ubun.
Erkan meneguk minumannya untuk sedikit menenangkan dirinya yang ikut kacau. Saluran pernapasan terasa menyempit hingga membuatnya sesak.
"Ini hanya seandainya," ucap Erkan mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja. Ia masih ingin mengupas tuntas tentang hubungan pria di depannya itu dan wanita yang bernama Veronika.
"Seandainya Anda dan Veronika memiliki seorang anak, apakah anda akan mengakuinya?"
Meyzin tertawa lepas. Nampak tak ada beban sedikitpun.
"Dia bukan istri saya lagi, meskipun kami memiliki anak, itu urusan dia. Dan saya tidak ingin lagi berhubungan dengannya. Saya sudah memiliki keluarga."
"Baiklah, terima kasih atas informasi yang ada berikan. Saya permisi."
Erkan berdiri dari duduknya lalu bersalaman.
"Maaf, Tuan. Sepertinya kepala Anda ada ketombe." Erkan mengulurkan tangannya di atas kepala Meyzin, dengan sengaja ia mencabut beberapa helai rambut pria itu.
"Maaf, rambutnya ikut kecabut."
Dasar calon menantu kurang ajar, berani mencabut rambut calon mertua, rutuk Erkan dalam hati.
Meskipun belum memiliki bukti, Erkan yakin bahwa pria yang ada di depannya itu adalah ayahnya Nada.
"Saya permisi, Tuan."
Erkan meninggalkan restoran dengan jiwa yang bercampur aduk. Di satu sisi ia senang sudah hampir mendapatkan bukti. Di sisi lain, ia tak bisa bercerita pada Nada tentang perjalanan kisah hidup Ibunya yang sangat miris.
__ADS_1
"Kalau tuan Meyzin benar ayah kamu, aku akan membuatnya menyesal sudah menelantarkanmu dan ibumu. Dia harus bertanggung jawab dengan apa yang pernah dilakukan pada kalian," gumam Erkan.
Erkan memasukkan rambut Tuan Meyzin ke kantong plastik lalu menghubungi seseorang. Setelah itu ia melajukan mobilnya ke arah pabrik untuk menemui Nada. Sebelum ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA.