Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Jejak Veronika


__ADS_3

Setibanya di mansion utama 


Haira dan Mirza turun dari mobil. Sementara Erkan dan Nada tetap menunggu di mobil sebelum melanjutkan misinya. 


"Tuan Mirza dan nona Haira sudah bahagia." Menatap punggung Mirza yang menghilang di balik pintu utama. 


"Memangnya dulu mereka bagaimana?" sahut Nada.


"Ceritanya panjang." Erkan memilih bungkam, ia tidak mau Nada mengetahui masa lalu kakaknya yang dipenuhi kabut hitam.


Di dalam mansion nampak sepi. Pelayan melaporkan bahwa Kemal pergi ke rumah Hasan sejak tadi pulang sekolah, sedangkan Aynur pun sudah tinggal di rumah nya sendiri. 


Haira menarik tangan Mirza menuju kamar. Lalu ia mengunci pintunya. 


"Sayang, aku mau pergi dengan Erkan, ada urusan sedi __" 


Mirza sudah tak bisa melanjutkan ucapannya karena Haira sudah membungkam bibir pria itu dengan bibirnya. Melingkarkan kedua tangannya di leher dan menggiringnya menuju ranjang. 


Kalau ngidam nya kayak gini, sampai lahir juga gak papa. 


Mirza kegirangan dan mulai membalas ciuman itu dengan rakus. Mereka terbuai dengan alunan kehangatan yang memabukkan. 


Mirza tak memberi celah sedikitpun pada Haira yang sudah memancing duluan. Untuk yang kesekian kali kamar itu menjadi saksi bisu cinta dua insan yang saling terpaut.


Hampir satu jam lamanya Erkan dan Nada berada di dalam mobil. Mereka sudah mulai jenuh dengan mata yang terus menatap pintu utama.


"Jangan-jangan kak Mirza ketiduran." Nada turun dan menyandarkan punggungnya di mobil, Erkan menyusul dan berdiri di samping gadis itu. 


"Aku sudah biasa seperti ini." Melipat kedua tangannya. Sedikitpun tak ingin mengeluh. Sebab, hampir setiap waktu Erkan berada di posisi seperti itu. 


"Tapi aku belum terbiasa," sentak Nada mengacak rambutnya. "Kalau tahu akan seperti ini, lebih baik aku gak ikut," lanjutnya. 


Erkan menahan tawa, menyebalkan juga menurutnya. Tapi bagaimana lagi, sebagai bawahan ia tak mungkin berani masuk. 


"Itulah kenapa aku melarangmu ikut. Tuan Mirza memang sering seperti ini, selain kejam, dia itu pelupa."


Erkan membuka kan pintu dan mempersilahkan Nada untuk masuk ke mobil. 


Ia pun ikut duduk di samping Nada yang memasang wajah cemberut. 


Ruangan mobil yang ber ac tiba-tiba terasa engap saat Erkan terus menatap Nada. Bahkan pria itu tak berkedip membuat Nada semakin takut. 


"Kakak gak kenapa-napa?" ucapan Nada membuyarkan Erkan yang sedang melamun. 

__ADS_1


Erkan bergegas menjauhkan kepalanya dari wajah Nada. Namun nahas, justru ia terbentur kaca mobil. 


Aawww


Mengusap-usap kepalanya yang terasa nyeri akibat benturan yang terlalu keras. 


"Lain kali jangan ceroboh. Ngapain juga buru-buru seperti itu."


Nada ikut mengusap kepala Erkan untuk membantu mengurangi rasa sakit. 


Deg deg deg 


Detak jantung Erkan semakin tak karuan. Sekian lama berdekatan dengan seorang wanita, ini pertama kali ia merasakan jantungnya sedikit tak normal, bahkan sapuan wajah ayu itu membuat penglihatannya terhipnotis. 


Apa aku tembak dia sekarang, tapi momennya gak pas banget. Mana aku belum beli cincin. 


Erkan menahan tangan Nada yang hampir turun lalu menggenggamnya dengan erat. Kembali saling tatap yang membuat Nada tersipu. 


"Kak Mirza sudah keluar," ucap Nada saat melihat gerangan yang baru keluar dari pintu utama. 


Erkan bergegas turun dan membuka pintu bagian depan untuk Tuannya. 


"Kelamaan ya?" tanya Mirza tanpa rasa bersalah. Ia menyisir rambutnya yang sedikit berantakan. Wajahnya terlihat fresh dengan rambut yang basah.  Menandakan jika pria itu selesai mandi. 


Erkan menyalakan mesinnya, ia tak mau melihat wajah Mirza yang nampak gugup. 


"Anu, tadi __" 


"Sudah, gak usah di lanjutin. Aku tahu, pasti __" 


Erkan mengerem mobil secara mendadak hingga Mirza yang belum memakai seat belt itu terbentur ke depan. Lantas, menoleh ke belakang dan membungkam bibir Nada dengan telapak tangannya. 


Emph…Nada mencekal tangan Erkan.


"Apaan sih kamu," gerutu Mirza mengelus-elus keningnya yang terasa nyeri. 


"Ma...Maaf Tuan, saya cuma menyelamatkan anda dari rasa malu."


Mirza menggelengkan kepala. Benar juga, ia pun sedikit ketar-ketir saat mendengar ucapan Nada yang seperti menyinggung masalah ranjang. 


Setelah menyusuri jalan yang terjal dan berliku, akhirnya Erkan sudah tiba di tempat tujuan. Petulangan Mirza kali ini seperti mengembalikan pada masa di mana dirinya menemukan Haira di sebuah pelosok perkampungan. Hanya saja Haira lebih jauh dan beda negara. 


Ada bangunan sederhana yang berjejer di tepi jalan yang membuat hatinya tersayat. 

__ADS_1


"Bagaimana kita bisa tahu rumah Veronika kalau tidak ada nomornya. Sedangkan rumah di sini padat banget," gerutu Mirza.


Beda dengan pagi tadi yang bisa berpikir jernih setelah mendapat charger, kali ini otaknya hanya dipenuhi dengan tubuh seksi Haira hingga tak bisa beroperasi. 


"Kan kita bisa bertanya dengan foto ini." Erkan mulai berjalan ke arah perkampungan. 


Malu-maluin saja, Za. Kamu laki-laki cerdas, kok bisa kalah sama Erkan, gerutunya dalam hati. 


Haira, kau membuatku gila. 


Lagi, tertawa dalam hati. Sebab, ia tidak mau semua orang melihat kegilaannya karena seorang wanita yang tak lain adalah istrinya sendiri. 


Mereka berhenti di sebuah rumah yang paling ujung. Dari sekian wanita yang melintas, tidak ada satupun yang mirip dengan Veronika. Akhirnya, Erkan menghampiri pria tua yang sibuk merapikan pagar rumahnya. 


"Permisi, Tuan," sapa Erkan ramah. 


Pria itu mengangguk. Menatap penampilan Erkan dari atas hingga kebawah. 


"Apa Tuan mengenal perempuan ini?" Menunjukkan foto yang sudah dipindah ke ponsel. "Namanya Veronika, kira-kira sekarang dia berumur lima puluh tahun," ucap Erkan menjelaskan. 


Pria itu berpikir. Lalu menunjuk rumah terpencil dengan kondisi yang hampir rubuh. 


"Dulu dia tinggal di sana." 


Jantung Nada berdenyut melihat rumah yang tak layak dihuni itu. Bahkan lebih miris dari keluarga Nenek. 


"Waktu itu Veronika pulang dalam keadaan hamil. Dia seperti orang gila. Setiap hari hanya diam di depan rumahnya. Makan pun dari belas kasihan orang. Setelah melahirkan dia membawa anaknya pergi."


"Lalu?" 


Erkan merangkul Nada yang mulai terisak. Menguatkan gadis itu untuk tetap tetap kuat.


Sedangkan Mirza, saat ini ia merasa menjadi orang yang terburuk di dunia. Pria yang bertubuh kekar dan gagah itu pun runtuh mendengar penjelasan pria tersebut. 


"Beberapa hari kemudian dia pulang. Katanya, anaknya sudah menemukan orang tua yang baik. Tidak seperti sebelumnya, hari itu Veronika terus tersenyum dan ramah pada semua orang. Dia seperti sudah melepas beban hidupnya. Dan semua orang tidak pernah menyangka jika hari itu adalah hari terakhir dia hidup di dunia ini."


"Ma…maksud, Tuan?" tanya Nada dengan bibir bergetar. 


"Dia bunuh diri di dalam rumahnya. Kami semua menemukannya dalam keadaan tidak bernyawa."


Tangis Nada pecah. Ia menumpahkan air matanya di pelukan Erkan. Ia semakin yakin bahwa Veronika adalah ibu kandungnya yang ia cari. 


Rasa takut menyelimuti diri Mirza. Kakinya terasa lentur sehingga ia harus mencari sandaran untuk bisa berdiri. Itu adalah sebuah pukulan keras baginya yang pernah merendahkan Haira dan memperlakukannya bak binatang. 

__ADS_1


__ADS_2