Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Lunara hamil


__ADS_3

Perkara kematian Lunara adalah masa lalu yang seharusnya tak perlu diungkit lagi dan harus dikubur dalam-dalam. Namun, ada yang menjanggal di hati Mirza hingga pria itu ingin mengusut. Bukan tentang pelakunya, melainkan sebab yang sedikit tak wajar. 


"Kita bicara di tempat lain." 


Mirza masuk menghampiri Haira. Mengambil ponselnya, lalu mencium pipi wanita itu. 


"Aku ke restoran sebentar, jangan ke mana-mana. Kalau butuh sesuatu telepon aku," pinta Mirza. 


Haira mengangguk tanpa bertanya. 


Aslan dan Mirza berjalan bersejajar melintasi lorong. Keduanya saling membisu tanpa berbicara mengingat suasana yang sangat ramai. Takut akan didengar orang lain. 


Mereka duduk di ruangan yang tertutup dan saling berhadapan. 


"Kamu tahu dari mana kalau Lunara pernah berpacaran dengan Halil?" Mirza mulai membahas pokok permasalahan dengan serius. Ia ingin cepat-cepat semuanya terbongkar. 


"Salah satu teman aku ada yang mengenal Lunara. Dia bilang kalau Lunara pernah menjalin cinta dengan Halil."


Mirza menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Menatap dengan tatapan kosong. Selama bertunangan dengan Lunara, tidak pernah menanyakan masa lalu. Hubungannya dengan Halil hanya sebatas teman bisnis, tidak lebih. 


"Tapi yang aku dengar Lunara sudah tidak berhubungan dengan Halil setelah bertunangan dengan kamu," imbuh Aslan lagi. 


Mirza membungkam bibirnya. Ia tak bisa mengucap sepatah kata pun. Tidak ada yang aneh jika seseorang memiliki mantan. Namun, Mirza merasa curiga dengan pertemuan mereka sebelum Lunara meninggal. 


Berhenti sejenak saat waitress datang membawa dua cangkir kopi. Setelah punggung Wanita itu menghilang, Mirza melanjutkan ucapannya. 


"Apa kamu tidak tahu tentang perdebatan mereka sebelum Lunara kecelakaan?" tanya Mirza pada Aslan yang mengaduk-aduk kopi di depannya. 


Aslan hanya menggeleng.


Seperti sebuah misteri yang tak terpecahkan, selama tujuh tahun Mirza memendam semuanya, terus beranggapan jika penyebab Lunara meninggal karena kecerobohan Haira. Percaya dengan kesaksian Ayla, sebab hatinya terus tertutup dengan cinta yang amat besar hingga mengabaikan semuanya termasuk orang yang tak sepenuhnya bersalah. 


Mirza beranjak dari duduknya. Ia keluar dari ruangan itu meninggalkan Aslan. Sudah biasa bagi pria itu ditinggalkan tanpa pamit. 


Baru beberapa langkah, suara seorang wanita menjerit membuyarkan lamunannya. 


"Nona tidak apa-apa?" tanya pelayan  dengan ramah. Membersihkan baju putih wanita yang ada di depan nya. Seperti nya mereka saling tabrak hingga menumpahkan minuman. 


"Tidak, lain kali hati-hati." Wanita itu berbicara dengan lembut. 


Mirza melanjutkan langkahnya ke arah wanita itu yang memang berada di dekat pintu depan. 


Melihat sosok yang tak asing membuat wanita itu menoleh, menatap punggung Mirza yang melintasinya. 


"Tuan Mirza," panggil nya yang mampu menghentikan langkah sang pemilik nama. 


Mirza menoleh ke belakang melihat wanita itu yang berlari kecil ke arah nya. 


"Anda Tuan Mirza, kan?" tanya nya lagi memastikan. 

__ADS_1


Mirza mengangguk, nama yang ada di jas wanita itu. Ternyata dia adalah seorang dokter. 


"Apa sebelumnya kita pernah berkenalan?" tanya Mirza datar. Ia tak bisa berinteraksi dengan seorang wanita. Apalagi orang tak dikenal. 


"Tidak, Tuan. Tapi saya tahu kalau Anda tunangan Lunara."


Lunara? Apa dia sahabatnya Lunara?


"Apa Lunara pernah bercerita tentang ku?"


Wanita itu mengangguk dan mengulurkan tangannya di depan Mirza. 


Bukan menerima, Mirza malah memasukkan kedua tangannya ke saku celana dan menatap ke arah lain. 


"Nama saya Zelyn." Menarik tangannya yang hampa. "Dia pernah menunjukkan foto Anda saat periksa. Bagaimana kabar Nona Lunara dan anaknya, Tuan?" tanya Zelyn. 


Seketika sekujur tubuh Mirza membeku dan tak bisa bergerak, bingung dengan maksud wanita itu. 


Disaat dirinya sibuk menguak tentang masa lalu mantan tunangannya itu, justru sebuah fakta muncul membingungkan. 


"Maksud kamu?" Mirza menarik kursi yang ada di sampingnya lalu duduk. Diikuti Zelyn. 


"Waktu itu kandungan Nona Lunara lemah. Dan saya menyuruhnya untuk lebih hati-hati." 


Lunara hamil?


Aku tidak pernah menyentuh dia, itu artinya ada orang lain yang melakukannya. 


Hanya mengucap dalam hati. 


Mirza menunduk. Menahan dadanya yang hampir meledak. Lunara sudah tiada, namun rasa sakit itu seakan masih terasa menembus tulang. 


Aku memperjuangkan keadilan atas kematian mu pada orang yang aku kira jahat. Tapi ternyata kamu lebih kejam. Kamu tega melakukan ini padaku. Seandainya kesucianmu direnggut dengan paksa oleh orang yang tidak bertanggung jawab, kenapa kamu tidak bilang padaku, atau kamu sengaja menyembunyikan ini dan memintaku untuk mengakui anakmu. 


Brak


Mirza menggebrak meja yang membuat Zelyn terperanjat. 


"Lunara sudah meninggal," ucap Mirza kemudian. 


Zelyn terkejut. Pasalnya, sebelum kejadian kecelakan itu ia pergi ikut dengan suaminya yang tinggal di Jepang hingga saat ini baru pulang. 


"Saya turut berduka cita atas meninggalnya Nona Lunara, Tuan. Saya benar-benar tidak tahu." 


Dari jauh, nampak Aslan keluar dari ruangan. Mirza langsung menghampiri pria itu. Menarik tangannya dengan kasar. 


"Kita harus bicara." 


Mereka meninggalkan Zelyn yang nampak kebingungan dengan perubahan sikap Mirza. 

__ADS_1


"Tuan," panggil Zelyn saat Mirza tiba di ambang pintu depan, namun bukan Mirza yang menoleh, melainkan Aslan. 


"Nona memanggil saya?" Menunjuk dadanya. 


Zelyn menggeleng pelan dan tersenyum yang membuat Aslan terpesona. 


Cantik, begitulah kata hati Aslan. 


Di dalam lift itu nampak hening, Aslan maupun Mirza saling diam, entah apa yang ada di otak mereka saat ini. Yang pastinya Mirza butuh seseorang untuk mendengarkan curhat nya .


Pintu lift terbuka. Mirza keluar lalu menatap wajah Aslan dengan lekat. 


"Ternyata Lunara hamil." 


Sama seperti Mirza, Aslan pun terkejut mendengar itu. 


"Kamu cari tahu siapa yang sudah menghamilinya." 


Aslan hanya mengangguk, menatap punggung Mirza yang semakin menjauh.


"Apa perempuan tadi yang memberi tahu Mirza, siapa dia. Dilihat dari bajunya sepertinya seorang dokter," gumam Aslan. Segera ia kembali. 


Aslan memasuki restoran. Matanya menyusuri setiap tamu yang duduk sambil menikmati hidangannya, lalu berhenti pada wanita yang sedang bicara lewat ponselnya. 


"Itu dia."


Aslan berjalan menghampiri Zelyn. Tanpa izin ia duduk di depan wanita itu. 


"Permisi, Nona," sapa Aslan lembut. Matanya tak teralihkan dari tahilalat yang ada di hidung gadis itu. 


Zelyn tersenyum manis. 


"Kenalkan, nama saya Aslan." 


Aslan mengulurkan tangannya. Zelyn pun menyebut namanya dan menerima uluran  tangan Aslan. 


"Maaf  mengganggu, Anda. Saya hanya ingin bertanya tentang Nona Lunara." Aslan berbicara ke inti. 


"Nona Lunara yang hamil anak Tuan Mirza, kan?"


"Hamil anak Mirza? Maksud kamu?" tanya Erkan menyelidik. 


"Waktu itu Nona Lunara periksa ke rumah sakit, kebetulan saya yang berjaga. Katanya terlambat menstruasi dan terkadang sakit perut, dan ternyata dia hamil."


"Lalu?"


"Lalu dia bilang kalau itu anak Tuan Mirza." 


Aslan hanya manggut-manggut mengerti. Meskipun belum tuntas, bukan saatnya membahas pekerjaan, karena saat ini ada yang jauh lebih menarik perhatian seorang Aslan Ahmet. 

__ADS_1


__ADS_2