Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Tuduhan Ayla


__ADS_3

"Kalaupun aku terpesona dengan perempuan lain, kenapa harus sekarang? Tujuh tahun aku mencarimu. Sekalipun tidak ada niat ingin menikah lagi, bahkan waktu itu aku sibuk mengurus surat pernikahan kita. Siang malam hanya memikirkan kamu. Tidak ada perempuan lain selain kamu. Hanya kamu seorang."


Panjang lebar Mirza menjelaskan, ia tak mau lagi ada kesalahpahaman yang berujung pertengkaran. Tujuh tahun sudah cukup menyiksa hidupnya dan kini tidak ingin kehilangan lagi. 


Haira menundukkan kepalanya. Meskipun ia melihat ketulusan di mata Mirza, tak dipungkiri bahwa ia sangat cemburu saat ada wanita lain berada di dekat suaminya. 


"Apa kau yakin hanya aku yang ada di  hatimu?" Menunjuk dada Mirza yang tertutup kemeja putih. 


"Setelah Lunara, hanya ada kamu,  bahkan nama dia hilang begitu saja,  bergeser karena kamu yang memenangkan semuanya."


Setelah sekian lama diselimuti rasa cemas, akhirnya Haira bisa tersenyum renyah, bahkan tangannya sudah mampu menyentuh rahang kokoh sang suami. 


Mirza menggenggam tangan Haira. "Jangan marah lagi,  karena di dunia ini hanya kemarahanmu yang tak sanggup aku hadapi."


Haira terkekeh. Menggeser duduk nya mengikis jarak antara keduanya. 


"Sebenarnya hari ini aku mau ajak kamu jalan. Tapi karena kejadian tadi, aku malas keluar." Menyandarkan kepalanya di dada sang suami. Memainkan cincin yang melingkar di jari manis pria itu. 


"Memangnya kamu mau beli apa. Aku bisa pesankan?" tawar Mirza sembari merapikan rambut Haira yang menutupi kening. 


"Hanya beli perlengkapan bayi. Dan aku mau pilih sendiri."


Kedua alis Mirza berkerut. Beberapa hari yang lalu, Haira sudah memborong berbagi perlengkapan baju bayi dan itu sudah cukup memenuhi satu ruangan, dan saat ini ia mendengar dengan telinganya sendiri, bahwa wanita yang ada di pangkuannya itu akan keluar dengan alasan ingin belanja baju bayi. Bukankah itu sangat aneh?


"Nyonya mah bebas," gumam nya lirih, namun masih bisa didengar oleh Haira. 


"Bebas apa?" sahut Haira. 


Mirza menggaruk alisnya yang tidak gatal. 


"Bebas mau beli apapun, Sayang.  Sekarang kita berangkat." 


Mirza menyambar jas dan memakainya. Ia tak mau merubah pikiran yang akan menyusahkannya. 


Di depan pintu ruangan, Mirza menghentikan langkahnya melirik Erkan yang masih ada di depan.  


"Jangan pernah kau memanggil seseorang tanpa izinku, atau aku tidak akan melepasmu dan tidak membiarkanmu menikah." 


Erkan hanya bisa menjawab dengan anggukan kepala tanpa ingin protes. 


"Kayaknya yang ini bagus." Haira menunjukkan tiga stel baju yang berbeda,  namun tetap terlihat couple itu pada Mirza. 

__ADS_1


"Kalau kamu suka, ambil aja." Mirza memasukkan baju itu ke dalam troli yang dari tadi ia dorong. Layaknya pengunjung yang lain, saat ini Mirza tak membawa pengawal, hanya ada Erkan yang juga sibuk membantu memilih baju untuk mempersingkat waktu. 


"Aku gak suka." Haira mengambilnya lagi dan meletakkannya di atas tumpukan baju yang lain. 


Bumil memang selalu menang,  apa nanti Nada kalau hamil juga seperti itu.


Erkan melirik sekilas ke arah Haira. Bulu halusnya merinding mengingat sang nyonya yang akhir-akhir ini sangat menyusahkan. 


"Nanti temenin aku makan juga ya," pinta Haira manja. 


Mirza mengangguk sambil tersenyum yang berarti setuju. 


"Ditemenin mandi juga boleh?" seringainya. 


Seketika itu juga Haira membungkam bibir Mirza. Matanya menatap setiap pengunjung yang ada di sekelilingnya. 


"Diam, atau aku gak mau tidur denganmu." Jalan satu-satunya yang bisa menutup bibir Mirza adalah mengancam. 


Erkan memilih untuk sedikit menjauh, ia tak mau terlibat urusan pribadi Tuannya itu. Hidupnya sudah terlalu sulit dengan pekerjaan dan tak mau ikut campur urusan yang lain.


"Sayang, aku ke kamar mandi bentar ya," izin Mirza saat merasa perutnya sedikit  sakit. 


"Ini dan ini bagus yang mana?" Menunjuk dua sepatu yang ada di tangan kiri dan kanannya. 


"Semua bagus, Nona. Tapi tergantung,  Nona suka yang mana?" Sang pelayan toko pun tak berani menunjuk kesukaannya, takut salah yang pasti akan berakibat fatal jika Mirza tahu. 


"Beli semua deh,  nanti kalau gak dipakai bisa diberikan pada yang membutuhkan."


Pelayan itu tersenyum tipis. 


Dermawan sekali hatinya. Meskipun kaya, peduli dengan orang yang gak mampu. 


Dari arah berlawanan, nampak wanita cantik itu berjalan ke arah Haira membuat kedua matanya terbelalak.


"Dasar pembunuh!" pekik wanita itu yang membuat ulu hati Haira tersayat.


"Aku bukan pembunuh." Haira terus menggeleng, raut wajahnya hanya diselimuti rasa takut dan malu. Apa lagi para pengunjung nampak memperhatikannya dan saling berbisik. Menatap acuh padanya.


"Kalian lihat perempuan ini, dilihat dari wajahnya memang sangat polos, tapi apa kalian tahu kalau dia adalah pembunuh."


Haira menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. Air matanya kembali luruh. Bayang-bayang saat Lucinta bersimbah darah di depannya itu kembali terlintas.

__ADS_1


"Aku bukan pembunuh, itu kecelakaan," ucap Haira di sela-sela tangisnya. 


"Cantik-cantik ternyata pembunuh," cibir seseorang yang baru saja datang. Seakan ikut menyudutkan Haira yang sudah pucat pasi.


Pelayan toko yang kebingungan itu mencoba mencari Mirza. Namun, juga tak menemukannya, akhirnya berlari ke arah kamar mandi. Beruntung ia bertemu dengan Erkan. 


"Maaf Tuan, Nona Haira." Menunjuk tempat dimana Haira dicaci. 


Erkan langsung berlari membelah kerumunan. 


"Ada apa ini?" Erkan menatap tajam pada mereka yang berdiri di depan Haira. Menyembunyikan Nona nya itu di belakang. 


"Erkan," sapa wanita yang pertama kali membuat gaduh. 


"Ayla, ada apa ini?" tanya Erkan antusias.  


Ya, wanita itu adalah Ayla. Sahabat Lunara yang belum tahu status Haira. 


"Kenapa kau melindungi pembunuh itu?" pekik Ayla masih bernada sombong. 


Seketika itu Erkan mengepalkan kedua tangannya. Haira memang bukan istrinya, namun darahnya terasa mendidih mendengar ucapan itu.


"Jangan pernah kau sebut Nona Haira pembunuh, atau kau akan berhadapan denganku." 


Ayla semakin bingung dengan panggilan yang disematkan Erkan. 


"Apa maksud kamu?"


Ayla semakin tak mengerti dan meminta penjelasan. 


"Dia istriku," sahut suara berat dari arah belakang. Seakan tak percaya, namun itulah kenyataannya yang membuat Ayla semakin bingung. 


Haira yang masih histeris berhamburan memeluk Mirza. Sebab, hanya pria itu yang mampu menenangkan jiwa nya disaat terguncang seperti ini. 


"Aku rasa kau punya dua nyawa berani membuat istriku ketakutan." Mirza mengucap dengan pelan, namun itu seperti sebuah tombak yang bersiap untuk menusuk dada nya. 


"Ini tidak seperti yang kamu dengar, Za?"


Mirza mengangkat tangannya. 


"Kamu urus semua orang yang ada di sini!" titah Mirza pada Erkan lalu membawa Haira yang masih sesenggukan itu pergi. 

__ADS_1


__ADS_2