
Malam pertama memang bisa dinyatakan gagal membelah duren. Itu semua karena ulah Kemal. Namun, malam-malam berikutnya mampu Erkan lewati dengan lancar. Bahkan terkadang membuatnya tak terkendali saat merasakan nikmatnya surga dunia.
Kondisi perusahaan pasca ditinggal sang sekretaris pun kini ikut membaik. Mirza tak lagi ketergantungan pada Erkan. Ia sudah memiliki sekretaris baru yang mampu mengimbanginya dalam bekerja.
Waktu terus bergulir, tak terasa kandungan Haira sudah menginjak sembilan bulan lebih lima belas hari. Meskipun belum ada tanda-tanda akan melahirkan, Mirza terus memantau setiap pergerakan wanita itu.
Mengandung tiga bayi sekaligus tidaklah mudah, apalagi berat badan bertambah hampir dua puluh kilo dan itu sangat menyiksanya. Setiap bergantian siang dan malam menjadi momen terpenting dalam hidupnya, dulu saat hamil Kemal hanya berteman dengan sepi. Kini sedetik pun tak lepas dari keluarganya.
"Dari pagi dedeknya anteng banget." Haira mengelus perutnya. Menyandarkan kepalanya di dada bidang Mirza yang sibuk berbicara dengan seseorang.
"Mungkin mereka sedang tidur." Begitulah jawaban sang suami di sela-sela percakapannya dengan klien. Tangannya ikut mengulur mengusap-usap dengan pelan. Berharap mereka akan segera hadir ke dunia. Pasti rumah akan semakin ramai.
"Tadi pagi Kemal ngambek, katanya setelah ini dia minta adik cowok." Mendongak, menatap Mirza yang tersenyum kecil. Sebuah pertanyaan yang seharusnya mudah untuk ia jawab, tapi resikonya akan lebih besar. Harus pintar-pintar menjaga ucapannya.
Argh…
Tiba-tiba Mirza mengerang keras membuat Haira terkejut. Ponsel yang ada di tangannya terjatuh.
''Kamu kenapa, Kak?" Haira menangkup kedua rahang kokoh sang suami. Pria itu mengeratkan giginya, sedang satu tangannya memegang pinggang.
"Sejak semalam pinggangku sakit banget," keluhnya. Baru kali ini merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya, dan itu sangat tak wajar.
"Mungkin kurang minum."
Mirza tak mampu menjawab, sekujur tubuhnya gemetar saat rasa sakit itu pindah ke perut.
"Sekarang gantian perutku yang sakit." Mencengkram erat sprei.
Haira panik. Ia meraih ponselnya. Langkah pertama menghubungi Deniz.
"Cepat ke sini, Kak. Kak Mirza sakit."
Air mata menetes begitu saja membasahi pipi. Padahal, selama ini Mirza selalu periksa dan tidak mengidap penyakit apapun, namun mendadak pinggang dan perutnya seperti ditusuk tombak.
"Sayang, tolong bantu aku turun."
"Kamu mau ke mana? Kita tunggu kak Deniz."
"Aku mau pup."
__ADS_1
Haira turun lebih dulu. Memapah Mirza yang berjalan membungkuk. Disaat keduanya hampir tiba di kamar mandi, tiba-tiba cairan bening mengalir deras dari bagian bawah Haira. Mirza menghentikan langkahnya, tercengang.
"Kamu pipis, Sayang?" Mirza berjongkok sembari menahan rasa sakit yang tak kunjung hilang.
"Gak." Haira menunduk, kemudian mundur saat melihat cairan meluber kemana-mana.
"Itu air apa, Kak?"
Mirza menggeleng. Menarik dress Haira yang sudah basah.
Bersamaan dengan mereka yang bingung dengan cairan itu, pintu terbuka. Nita dan Aynur berlari menghampiri kedua adiknya. Disusul nenek dan Deniz.
"Katanya kamu sakit, Za?" Nita nampak khawatir.
Tak peduli dengan rasa sakit itu, Mirza menunjuk cairan yang dari tadi membuatnya bertanya-tanya.
"Air apa ini?"
"Ya ampun, mungkin itu air ketuban Haira pecah, dia mau melahirkan. Kita harus bawa ke rumah sakit." Memanggil beberapa pelayan untuk membantunya.
"Tapi perutku gak sakit, Kak." Haira membantah. Dulu saat melahirkan Kemal, ia merasakan sakit yang luar biasa, namun saat ini justru tak merasakan apapun.
Mirza kembali meringis, menghela napas panjang dan menghembuskannya pelan. Kali ini tangannya mencengkeram erat baju Deniz yang ada di sampingnya.
"Ini benar, Ra. Kayaknya kamu mau melahirkan, kita harus ke rumah sakit sebelum terlambat."
Haira berjalan seperti biasa. Yang ia bingungkan justru Mirza yang nampak kacau dan terus berteriak kesakitan.
Dokter berbondong-bondong menyongsong kedatangan keluarga Glora. Seperti keluarganya, mereka juga bingung karena di antara dua orang yang berbaring, justru Mirza yang lebih parah.
Hampir saja dilarikan ke kamar yang berbeda, Mirza menolak dan meminta sang dokter untuk membawanya ke ruangan yang sama dengan Haira.
"Tapi Tuan juga butuh perawatan."
"Pokoknya aku mau ke ruangan Haira, cepat!"
Terpaksa mereka menuruti permintaan Mirza daripada harus panjang urusannya.
Haira mulai menjalani pemeriksaan. Mirza turun dari ranjang. Melangkah sempoyongan menghampiri sang istri yang terlihat tenang.
__ADS_1
"Kamu gak papa, Kak?" Mengusap air mata yang membasahi pipi sang suami.
"Aku gak papa." Mirza mencium punggung tangan Haira dengan lembut dan lama. Mengusap-usap kening wanita itu.
Semakin lama tubuh Mirza terasa remuk bak dibanting dari ketinggian berkilo-kilo meter.
Apa seperti ini rasanya orang yang melahirkan?
Beberapa dokter sudah siap menyambut kelahiran bayi saat Haira sudah pembukaan sembilan.
Tim medis memberikan instruksi pada Haira saat Mirza menjerit.
Mirza menjerit sekencang-kencangnya. Menyatukan wajahnya di wajah Haira yang juga ikut menangis. Beberapa detik kemudian terdengar tangisan bayi mungil. Tangisan yang mampu melenyapkan rasa sakit.
Ini murni dari alam, Mirza pun tak memakai alat simulasi seperti yang sebagian orang lakukan saat ingin merasakan sakitnya melahirkan. Mengatur napasnya yang sedikit tersengal. Ia pikir itu adalah akhir dari semuanya, namun salah, justru ia kembali merasakan sakit yang lebih hebat.
Seperti yang dirasakan tadi, kali ini ia sudah tak sanggup untuk berdiri dan memilih duduk. Dan tak lama kemudian, suara tangis kembali menggema memenuhi ruangan itu. Bayi kedua mereka telah lahir.
Haira belum bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Kondisinya memang baik-baik saja. Tapi Mirza, pria itu nampak tersiksa dengan musibah yang menampar.
Dua bayi mungil kini sudah ada di dada sang ibu. Wajahnya imut dan menggemaskan. Paduan antara wajah Daddy dan Mommy nya berkumpul menjadi satu.
Mirza tersenyum kecil saat bibir mereka mencari sesuatu yang selama ini menjadi miliknya.
Baru saja beberapa menit merasakan tenang, rasa sakit kembali menyeruak. Kali ini Mirza hanya menahan suaranya di kerongkongan mengingat ada bayinya, takut mereka menertawakan kecengengan nya.
Oeek… Oeek… Oeek
Suara itu kembali memecahkan tangis Mirza. Setelah berjuang yang menguras tenaga, akhirnya mereka terlahir dengan selamat.
"Yang ini jenis kelaminnya laki-laki, Tuan."
Suster membawa bayi yang baru lahir itu di hadapan Mirza. Benar, ternyata salah satu bayi mereka ada yang laki-laki, dan itu kebanggaan tersendiri bagi Mirza dan Haira.
Tuhan memang memiliki banyak rahasia yang tak bisa ditebak manusia.
Menciumi pipi ketiga bayinya secara bergantian. Setelah itu meninggalkan ruangan saat Haira akan dibersihkan.
"Bagaimana, Za?" Nita dan Aynur mendekati sang adik yang nampak kacau. Pria yang terbiasa berpenampilan rapi itu acak-acakan, bahkan beberapa kancing bajunya terlepas.
__ADS_1
"Mereka sudah lahir, Kak." Berhamburan memeluk kakak nya bergantian. "Ternyata anakku ada yang laki-laki."
Mereka ikut bahagia mendengar kabar dari Mirza, itu artinya Kemal tidak akan menuntut daddynya untuk membuat adik cowok.